KhotbahUtama

Mengembalikan Kemurnian Tauhid di Tengah Arus Syirik, Naskah Khotbah Jumat

80
×

Mengembalikan Kemurnian Tauhid di Tengah Arus Syirik, Naskah Khotbah Jumat

Sebarkan artikel ini
Khotbah Jumat ini mengajak umat untuk menegakkan tauhid, mengingatkan tentang bahaya penyimpangan akidah yang terjadi dari zaman Nabi Ibrahim hingga kini, serta pentingnya menjaga kemurnian iman.
Ilustrasi AI

Khotbah Jumat ini mengajak umat untuk menegakkan tauhid, mengingatkan tentang bahaya penyimpangan akidah yang terjadi dari zaman Nabi Ibrahim hingga kini, serta pentingnya menjaga kemurnian iman.

Khotbah Jumat Oleh Dr. Aji Damanuri, M.E.I., Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tulungagung, Ketua Dewan Pengawas Syariah Lazismu Tulungagung

Tagar.co – Naskah khotbah Jumat berjudul Mengembalikan Kemurnian Tauhid di Tengah Arus Syirik, selengkapnya:


الحمد لله الذي بعث في الأميين رسولاً منهم يتلو عليهم آياته ويزكيهم ويعلمهم الكتاب والحكمة، والصلاة والسلام على محمد، وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين
أما بعد، فيا أيها الناس، أوصيكم ونفسي المقصره بتقوى الله عز وجل، فاتقوه حق تقاته، ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون

Maasiral Muslimin sidang jumah rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa menjaga iman dan takwa kita dengan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Kita bergaul dengan tetangga, berteman, bekerja, berpolitik, apapun profesi kita, selalu membawa iman dan takwa kita sehingga kehadiran kita selalu menghadirkan kedamaian bagi sesama.

Maasiral Muslimin sidang jumah rahimakumullah,

Pada Jumat yang mulia ini, marilah kita mengangkat sebuah kisah besar dalam sejarah kenabian, kisah tentang bapak para nabi, Nabi Ibrahim aalaihissalam. Beliau adalah simbol kemurnian tauhid dan penentang kesyirikan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Allah SWT berfirman:

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ٱلَّتِىٓ أَنتُمْ لَهَا عَٰكِفُونَ
قَالُوا وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِينَ
قَالَ لَقَدْ كُنتُمْ أَنتُمْ وَءَابَآؤُكُمْ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

“(Ingatlah) ketika ia berkata kepada ayahnya dan kaumnya: ‘Patung-patung apakah ini yang kalian tekun menyembahnya?’ Mereka menjawab: ‘Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya.’ Ibrahim berkata: ‘Sesungguhnya kalian dan nenek moyang kalian dalam kesesatan yang nyata.’” (Al-Anbiya: 52–54)

Baca Juga:  Di Antara Beduk Magrib dan Gerobak Sumarni

Nabi Ibrahim kemudian menghancurkan berhala-berhala tersebut, sebagai bentuk deklarasi teologis bahwa hanya Allah yang pantas disembah. Peristiwa ini bukan hanya tindakan simbolik, melainkan revolusi spiritual terhadap struktur religius masyarakat saat itu.

Maasiral Muslimin sidang jumah rahimakumullah,

Namun, setelah berabad-abad berlalu, nilai tauhid yang ditanamkan Nabi Ibrahim terdistorsi. Pada masa jahiliah, masyarakat Arab kembali menyembah berhala. Salah satu tokoh utama dalam penyimpangan ini adalah ‘Amr bin Luhay al-Khuza’i, yang memasukkan patung-patung ke sekitar Ka’bah dan menetapkan tradisi penyembahan berhala di Hijaz.

Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

رَأَيْتُ عَمْرَو بْنَ لُحَيٍّ يَجُرُّ قُصْبَهُ فِي النَّارِ، كَانَ أَوَّلَ مَنْ غَيَّرَ دِينَ إِسْمَاعِيلَ، نَصَبَ الْأَوْثَانَ وَدَعَا النَّاسَ إِلَى عِبَادَتِهَا

“Aku melihat ‘Amr bin Luhay menarik ususnya di neraka. Dia adalah orang pertama yang mengubah agama Ismail, mendirikan berhala, dan mengajak manusia menyembahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maasiral Muslimin sidang jumah rahimakumullah,

Dari sudut pandang antropologis, penyembahan berhala adalah simbol materialisasi dari konsep ketuhanan. Manusia prasejarah dan masyarakat pagan cenderung memvisualisasikan kekuatan gaib dalam bentuk objek agar bisa ‘didekati’ dan ‘dirasa hadir’. Ini adalah bentuk primitif dari kebutuhan eksistensial manusia terhadap simbol spiritual.

Namun dalam Islam, bentuk perantaraan ini ditolak secara mutlak. Allah SWT berfirman:

أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلْخَالِصُ ۚ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلْفَىٰٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِى مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى مَنْ هُوَ كَٰذِبٌ كَفَّارٌ

Baca Juga:  Menata Langkah Menuju Khusyuk Tarawih

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. (Az-Zumar: 3)

Tauhid dalam teologi Islam adalah mengesakan Allah secara mutlak tanpa perantara, tanpa simbol, dan tanpa personifikasi. Itulah ajaran Ibrahim, Ismail, Musa, Isa, hingga Nabi Muhammad saw.

Maasiral Muslimin sidang jumah rahimakumullah,

Mari kita jaga kemurnian tauhid. Jangan sampai simbol-simbol material menggantikan posisi Allah dalam hati kita, baik itu harta, tokoh, benda keramat, atau apapun yang bisa memalingkan kita dari keikhlasan ibadah kepada Allah.

Khotbah Jumat Kedua

الحمد لله، الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله ولو كره المشركون
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين

Maasiral Muslimin sidang jumah rahimakumullah,

Marilah kita memohon kepada Allah agar dimantapkan hati kita di atas jalan tauhid. Jangan terpedaya oleh peradaban yang membungkus kesyirikan dalam bentuk modern: kultus tokoh, penyembahan benda, atau keyakinan terhadap kekuatan supranatural selain Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللهِ نِدًّا، دَخَلَ النَّارَ

Baca Juga:  Ketika Jalan Raya Kehilangan Adab

“Barangsiapa mati dalam keadaan menyekutukan Allah, maka ia masuk neraka.” (H.R. Bukhari)

Kita adalah umat nabi Muhammad yang juga pengikut Nabi Ibrahim, yang oleh Allah disebut:

إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًۭا لِّلَّهِ حَنِيفًۭا ۖ وَلَمْ يَكُ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang taat kepada Allah dan hanif, dan dia bukanlah termasuk orang-orang musyrik.” (An-Nahl: 120)

Di penghujung khutbah ini, marilah kita berdoa, seraya menundukkan hati dan jiwa kita, memohon kepada Allah SWT agar kita selalu dijadikan hamba-hambanya yang tetap di jalan tauhid hingga ajal menjemput kita:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
عباد الله، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى، وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي، يعظكم لعلكم تذكرون
فاذكروا الله يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون

KPK kembali mengemuka setelah muncul revisi undang-undangnya. Ini pertaruhan besar mengenai arah pemberantasan korupsi di Indonesia. Negara ini makin bersih atau malah bejat.
Opini

‎KPK kembali jadi bahasan posisinya setelah muncul revisi…