
Lailatulqadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan, tetapi waktunya dirahasiakan. Di balik kerahasiaan itu tersimpan pelajaran besar.
Oleh Ansorul Hakim, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SMA Negeri 1 Bojonegoro, Jawa Timur
Tagar.co – Salah satu misteri spiritual dalam bulan Ramadan adalah dirahasiakannya waktu pasti Lailatulqadar. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa malam ini lebih baik daripada seribu bulan. Nilai ibadah pada malam tersebut melampaui ibadah selama lebih dari delapan puluh tahun. Namun, Al-Qur’an tidak menyebutkan secara pasti kapan malam itu terjadi.
Baca juga: Menutup Ramadan dengan Momentum Paling Istimewa
Rasulullah Saw. melalui berbagai hadis hanya memberikan petunjuk bahwa Lailatulqadar berada pada sepuluh malam terakhir Ramadan, khususnya pada malam-malam ganjil. Mengapa malam yang begitu agung justru tidak disebutkan waktunya secara pasti?
Para ulama menjelaskan bahwa di balik “kerahasiaan” itu terdapat hikmah spiritual yang sangat mendalam.
Mendorong Kesungguhan Ibadah
Jika Lailatulqadar ditentukan secara pasti—misalnya hanya satu malam tertentu—maka sebagian orang mungkin hanya akan bersungguh-sungguh beribadah pada malam itu saja. Dengan dirahasiakannya waktu tersebut, umat Islam didorong untuk menghidupkan seluruh malam pada sepuluh hari terakhir Ramadan.
Teladan ini dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, Rasulullah meningkatkan ibadahnya, menghidupkan malam dengan salat dan doa, serta membangunkan keluarganya.
Dengan kata lain, kerahasiaan Lailatulqadar menjadi cara Allah mendidik umat untuk bersungguh-sungguh secara konsisten, bukan hanya sesaat.
Menguji Keikhlasan Hamba
Para ulama juga menjelaskan bahwa kerahasiaan ini menjadi ujian keikhlasan. Orang yang benar-benar mencari rida Allah akan tetap beribadah meskipun tidak mengetahui secara pasti kapan malam tersebut.
Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fath al-Bari, dirahasiakannya Lailatulqadar bertujuan agar manusia bersungguh-sungguh dalam mencari dan menghidupkan banyak malam sehingga pahala yang diperoleh menjadi lebih besar.
Melatih Konsistensi Amal
Dalam kehidupan spiritual, konsistensi sering kali lebih penting daripada intensitas sesaat. Dengan tidak diketahui secara pasti kapan Lailatulqadar terjadi, umat Islam dilatih untuk menjaga kontinuitas ibadah selama sepuluh malam terakhir.
Ibadah tidak lagi bersifat “insidental”, tetapi menjadi kebiasaan yang terus dilakukan.
Bagian dari Rahasia Ilahi
Kerahasiaan juga merupakan bagian dari kebijaksanaan Allah dalam mengatur kehidupan manusia. Dalam Islam terdapat beberapa hal yang memang tidak dijelaskan secara rinci waktunya: waktu kematian, waktu datangnya kiamat, dan termasuk Lailatulqadar.
Menurut Imam al-Ghazali, rahasia-rahasia semacam ini mengandung hikmah agar manusia selalu berada dalam kondisi siap secara spiritual dan tidak menunda kebaikan.
Penutup
Dirahasiakannya Lailatulqadar bukanlah kekurangan informasi, melainkan bentuk pendidikan spiritual dari Allah kepada manusia. Ia mengajarkan kesungguhan, keikhlasan, dan konsistensi dalam beribadah.
Karena itu, yang terpenting bukanlah memastikan pada malam mana Lailatulqadar terjadi, tetapi bagaimana seorang Muslim menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan dengan ibadah terbaik.
Jika malam itu benar-benar lebih baik daripada seribu bulan, maka setiap usaha untuk mencarinya adalah investasi spiritual yang sangat berharga. Dan boleh jadi, di antara malam-malam yang kita hidupkan dengan penuh harap itulah Allah menghadiahkan Lailatulqadar kepada hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












