Telaah

Menutup Ramadan dengan Momentum Paling Istimewa

54
×

Menutup Ramadan dengan Momentum Paling Istimewa

Sebarkan artikel ini
Foto Ilustrasi freepik.com premium

Di balik kesibukan menjelang Lebaran, tersimpan momentum spiritual paling berharga. Sepuluh malam terakhir Ramadan adalah waktu terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Oleh Ansorul Hakim, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SMA Negeri 1 Bojonegoro, Jawa Timur

Tagar.co – Ramadan sering disebut sebagai madrasah rohani yang mendidik umat Islam selama sebulan penuh. Dalam rentang waktu itu, ada satu fase yang menempati posisi paling istimewa: sepuluh hari terakhir Ramadan.

Pada fase inilah umat Islam didorong meningkatkan kesungguhan dalam beribadah, seakan seluruh energi spiritual diarahkan menuju garis akhir perjalanan Ramadan.

Baca juga: Strategi Menghadapi 10 Hari Terakhir Ramadan

Keistimewaan ini berakar pada petunjuk Al-Qur’an dan teladan Nabi Muhammad Saw. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, Rasulullah Saw. menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah, membangunkan keluarganya, serta “mengencangkan ikat pinggang”—sebuah ungkapan yang menggambarkan kesungguhan luar biasa dalam beribadah.

Tiga Keistimewaan

Lalu, mengapa sepuluh hari terakhir Ramadan begitu istimewa?

Baca Juga:  Idulfitri Berlalu, Momentum Menjaga Spirit Ibadah

Pertama, pada fase inilah terdapat malam paling mulia dalam sejarah spiritual manusia, yaitu Lailatulqadar. Al-Qur’an menyebutkan bahwa malam ini lebih baik daripada seribu bulan. Artinya, satu malam ibadah pada malam tersebut bernilai lebih dari delapan puluh tahun ibadah. Keutamaan inilah yang membuat sepuluh malam terakhir Ramadan dipenuhi semangat untuk mencari dan meraih Lailatulqadar.

Kedua, sepuluh hari terakhir merupakan puncak proses pendidikan Ramadan. Sejak awal bulan, umat Islam dilatih menahan diri dari makan, minum, dan berbagai dorongan hawa nafsu. Latihan ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga menyentuh dimensi spiritual dan moral. Ketika memasuki fase terakhir, seorang Muslim diharapkan telah mencapai kematangan spiritual yang lebih dalam.

Ketiga, pada masa inilah Rasulullah Saw. mencontohkan ibadah iktikaf, yaitu berdiam diri di masjid untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Tradisi ini menunjukkan bahwa sepuluh hari terakhir Ramadan adalah momentum untuk mengurangi kesibukan duniawi dan lebih fokus pada kehidupan spiritual.

Ulama klasik seperti Ibnu Rajab Al-Hanbali menjelaskan bahwa generasi salaf sangat memuliakan sepuluh malam terakhir Ramadan. Mereka memperbanyak salat malam, membaca Al-Qur’an, memperbanyak doa, serta meningkatkan amal sosial seperti sedekah dan kepedulian kepada sesama.

Baca Juga:  Mencari Lailatulqadar di Indonesia: Perbedaan Kalender, Semua Malam Ganjil

Ironi

Sayangnya, dalam kehidupan modern justru pada sepuluh hari terakhir Ramadan banyak orang semakin sibuk dengan urusan duniawi: belanja kebutuhan Lebaran, persiapan mudik, atau berbagai aktivitas lain yang menyita waktu. Tanpa disadari, momentum spiritual yang paling berharga justru terlewatkan.

Padahal, sepuluh hari terakhir Ramadan adalah kesempatan emas yang belum tentu terulang dalam hidup seseorang. Tidak ada jaminan bahwa seseorang akan kembali bertemu Ramadan pada tahun berikutnya. Karena itu, para ulama sering mengingatkan bahwa kualitas Ramadan seseorang sering terlihat dari bagaimana ia menutup bulan suci tersebut.

Sepuluh hari terakhir Ramadan bukan sekadar penutup rangkaian ibadah tahunan. Ia adalah puncak perjalanan menuju ketakwaan. Pada fase inilah kesungguhan seorang Muslim benar-benar diuji: apakah ia mampu memaksimalkan momentum penuh keberkahan ini, atau justru melewatkannya begitu saja.

Ramadan akan berlalu, tetapi amal yang dilakukan dengan ikhlas akan tetap tercatat sebagai bekal kehidupan abadi. Karena itu, sepuluh hari terakhir seharusnya menjadi waktu terbaik untuk memperbanyak ibadah, memperdalam hubungan dengan Allah, serta memastikan bahwa Ramadan benar-benar meninggalkan jejak perubahan dalam diri kita. (#)

Baca Juga:  Kerugian Terbesar Ramadan: Tidak Peduli pada Lailatulqadar

Penyunting Mohammad Nurfatoni