
Mengajarkan etika makan kepada siswa bisa dilakukan dalam pelaksanaan program MBG. Jadi pemenuhan gizi terpenuhi, sekaligus anak-anak lebih santun dalam akhlak.
Oleh Dr. Wiwi Wikanta, M.Kes., Dosen Pendidikan Biologi/PPG FPKS Umsura
Tagar.co – Setahun sudah pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan, sejak diluncurkan 6 Januari 2025.
Pendapat pro kontra masih mewarnai. Namun pemerintah jalan terus karena ini janji politik dan program pemenuhan gizi anak untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia seperti disebutkan Perpres Nomor 115 Tahun 2025.
Dalam program MBG ini sebenarnya ada manfaat yang menjadi dampak ikutan (nurturant effect) yang diperoleh anak-anak sekaligus.
Manfaat itu seperti peningkatan asupan gizi, peningkatan pengetahuan/literasi gizi termasuk perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), peningkatan komunikasi dan interaksi sesama teman menjadi lebih lancar, peningkatan motivasi dan prestasi belajar, dan peningkatan/perubahan perilaku makan sehat/gizi seimbang. (Direktorat SD Kemendikdasmen, 2025).
Beberapa manfaat ada yang termasuk ke dalam nurturant effect, karena secara tidak langsung akan diperoleh, yaitu mulai anak-anak menerima, membawa, dan meletakkan kotak makanan di atas meja.
Lalu anak-anak langsung menikmati makanan. Terakhir membereskan kembali kotak makan dan sisa makanan.
Harapannya nurturant effect memberi nilai positif soal mengajarkan etika makan. Seperti sikap duduk di hadapan makanan, apa yang dilakukan sebelum dan sesudah makan, bagaimana cara memegang alat makan (sendok/garpu/gelas minum), bagaimana suara mulut pada saat mengunyah makanan.
Semua ini berhubungan dengan etika di meja makan (table manners). Anak-anak seharusnya memiliki etika atau sopan santun pada saat makan bersama atau sendirian di meja makan.
Walaupun, etika makan ini bersifat relatif, tergantung adat, kebudayaan, kepercayaan dan agama setiap daerah, namun, ada etika makan yang berlaku umum di semua tempat.
Etiket Makan
Table manner atau sering dikenal dengan istilah etiket makan menurut Sukmawati, dkk (2021) dalam bukunya yang berjudul Modul Table Manners, merupakan aturan atau tata krama yang dibuat oleh orang untuk mengatur pergaulan dalam masyarakat, khususnya dalam aturan makan.
Aturan ini sangat penting untuk diketahui karena dengan semakin berkembangnya zaman dan semakin luasnya pergaulan, sehingga perlu mengetahui etiket makan yang telah umum berlaku di masyarakat.
Etiket makan perlu dipelajari dan diketahui oleh setiap orang karena perkembangan cara orang untuk berkomunikasi lewat jamuan makan.
Kemampuan table manners yang baik di atas meja, bisa menambah value kelas sosial di mata orang lain.
Bersamaan dengan program MBG ini sekaligus dapat dijadikan sarana mengajarkan etika makan kepada siswa. Mulai cara duduk, menggunakan peralatan makan, dan etika yang diterapkan ketika makan.
Pengamatan penulis melalui video Youtube atau tayangan berita di media televisi tentang pelaksanaan program MBG di sekolah, masih belum terlihat siswa memiliki etika makan yang baik.
Seperti mencuci tangan, berdoa sebelum dan sesudah makan, posisi duduk yang tidak tegak, siku tangan diletakan di atas meja, cara memegang sendok, mulut penuh makanan dalam satu suapan, berbicara saat makan.
Direktorat Sekolah Dasar Kemendikdamen (2025) di dalam Buku Saku Panduan Edukasi Gizi dalam Pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sekolah Dasar: Panduan untuk Pendidik sudah memuat contoh Praktik Cuci Tangan dan Etika Makan Sehat.
Langkah-langkah yang dicontohkan, antara lain: mencuci tangan, makan menggunakan tangan kanan, mengunyah perlahan agar pencernaan baik, menghindari terlalu banyak garam dan gula, menghabiskan makanan tanpa membuang sisa.
Program MBG ini bukan sekadar euforia yang dipertontonkan sebagai testimoni keberhasilan pelaksanaan program pemerintah, tetapi lupa mempertontonkan adab atau sopan santun dalam makan dan minum.
Pada dasarnya Program MBG sejalan dengan Program Kemendikdasmen tentang 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH) yang salah satunya Makan Sehat dan Bergizi.
Etika Islam
Bagi siswa muslim, makan itu termasuk ibadah karena ada doanya. Islam juga mengajarkan etika makan. Pertama, makan makanan yang halal dan baik.
“Wahai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan…” (Al-Baqarah: 168).
Kedua, memakai tangan kanan.
Hadis Nabi Muhammad Saw, ”Apabila salah seorang dari kalian makan, makanlah dengan tangan kanan dan minumlah dengan tangan kanan, karena sesungguhnya setan makan dan minum dengan tangan kirinya.” (HR Muslim)
Ketiga, mengambil makanan terdekat
Rasulullah Saw bersabda: “Wahai anak muda, sebutlah nama Allah (bacalah basmalah), makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang ada di dekatmu.” (HR. Bukhari dan Muslim);
Keempat, larangan makan berlebihan.
“…makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (Al-A’raf: 31)
Kelima, larangan makan minum berdiri.
“Janganlah sekali-kali kalian minum sambil berdiri. Bila lupa, maka muntahkanlah minuman itu.” (HR Muslim).
Mengajarkan etika makan kepada siswa bisa sebagai nurturant effect bersamaan dengan pelaksanaan program MBG. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












