
Kekalahan Timnas Indonesia U-23 dari Vietnam mengundang tanya: apa rahasia negeri itu melesat begitu cepat? Catatan dua kunjungan ke Hanoi dan Danang sembilan tahun silam memberi jawabannya.
Oleh dr. Mohamad Isa
Tagar.co – Kekalahan Timnas Indonesia U-23 dari Vietnam U-23 dengan skor tipis 0–1 di final Kejuaraan Sepak Bola ASEAN U-23, 29 Juli 2025 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, menyisakan luka di hati para pecinta sepak bola Tanah Air. Pertanyaan pun mengemuka: mengapa Vietnam bisa begitu cepat melesat?
Ingatan saya langsung melayang ke dua perjalanan yang pernah saya lakukan ke negeri itu. Catatan ini sudah saya tulis sembilan tahun lalu, namun seolah kembali relevan. Tahun 2016 saya berkunjung ke Hanoi, dan setahun kemudian, 2017, ke Danang.
Menyusuri Hanoi: Kota Taman dan Danau
Perjalanan pertama pada Juni 2016 merupakan rangkaian benchmarking saat Pendidikan dan Pelatihan Pimpinan Eselon 2 Kementerian Dalam Negeri. Peserta dibagi dua tujuan: Bangkok dan Hanoi. Kami yang ke Hanoi membawa paspor diplomatik biru, berangkat dari Terminal 3 Soekarno-Hatta dengan maskapai Vietnam Airlines menuju Ho Chi Minh City.
Kota Ho Chi Minh —bekas ibu kota Vietnam Selatan—adalah pusat niaga yang sibuk. Dari Bandara Internasional Tan Son Nhat, kami transit satu jam sebelum melanjutkan penerbangan dengan Boeing 787 Dreamliner menuju Hanoi, ibu kota Vietnam saat ini. Dua jam kemudian, setelah melewati proses imigrasi yang ketat, kami pun tiba.
Hanoi, yang terletak di utara dan dulu merupakan ibu kota Vietnam Utara, kini berpenduduk lebih dari 8,29 juta jiwa. Jalan-jalannya lebar, dipenuhi mobil dan sepeda motor — yang jumlahnya jauh lebih mendominasi. Lalu lintas yang simpang siur diatur polisi dengan cekatan.
Kota ini memanjakan mata dengan banyak danau dan taman yang asri, lengkap dengan pedestrian lebar untuk berolahraga. Kecintaan para pemimpin Vietnam pada danau dan taman tercermin dalam tata kotanya. Visi pimpinan menjadi faktor penting kemajuan kota.
Sepanjang jalan, pasar dan toko berderet rapat. Barang yang dijual bervariasi, dari produk lokal sederhana hingga merek global seperti Coca-Cola, Sprite, KFC, McDonald’s, Starbucks, hingga sepeda motor dan mobil Jepang. Ekonomi Vietnam terlihat cukup liberal.

Belajar dari Sistem Pemerintahan
Melalui fasilitasi Kedutaan Besar RI di Vietnam, kami melakukan kunjungan ke Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Pendidikan. Diskusi berlangsung terbuka.
Sistem ketatanegaraan dengan satu partai memudahkan koordinasi lintas kementerian maupun provinsi. Pemilihan pejabat ditentukan kemampuan dan persetujuan partai. Legislatif juga berada dalam lingkup satu partai, dengan anggota dipilih per distrik.
Vietnam membangun bangsanya pasca perang melalui penguatan SDM sejak pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Karakter sebagai pemenang perang melawan negara besar dibentuk melalui disiplin, kejujuran, dan semangat pantang menyerah.
Penguasaan tanah oleh negara membuat pembangunan infrastruktur berjalan tanpa drama pembebasan lahan. Penegakan hukum dijalankan aparat berdedikasi tinggi. Stabilitas ekonomi dan politik, ditambah SDM unggul, menjadi modal besar. Program pangan, ekonomi, pendidikan, sosial, pariwisata, olahraga, budaya, keamanan, dan infrastruktur digarap serius dan terukur.

Danang: Belajar dari Rumah Sakit Anak
Perjalanan kedua pada 2017 membawa saya ke Danang bersama rombongan dokter anak dan manajemen rumah sakit. Kami mengikuti pertemuan tentang penerapan Metode Kanguru untuk bayi baru lahir di sebuah rumah sakit anak milik pemerintah Vietnam.
Metode ini diterapkan agar bayi tumbuh kembang optimal. Fasilitasnya memadai: alat kedokteran modern, tenaga medis terampil, banyak di antaranya lulusan Prancis, Australia, Amerika, dan Inggris.
Seorang dokter spesialis anak konsultan neonatologi lulusan Australia bercerita, ia bekerja penuh di rumah sakit itu dengan gaji sekitar Rp30 juta per bulan, jam kerja pukul 08.00–17.00, libur Sabtu–Ahad. Makan siang disediakan rumah sakit, disantap bersama karyawan di kantin besar dan bersih.
Kunci Kemajuan
Dari dua kunjungan itu, saya menangkap bahwa kemajuan Vietnam bukanlah kebetulan. Ada benang merah yang terjalin rapi antara visi, stabilitas, dan kualitas manusia.
Pertama, visi pemimpin yang jelas menjadi kompas arah pembangunan. Kebijakan yang konsisten dan terukur menjadikan program berjalan tanpa tersendat.
Kedua, stabilitas politik dan keamanan menjadi fondasi kokoh yang memberi ruang bagi ekonomi dan infrastruktur untuk tumbuh.
Ketiga, SDM tangguh menjadi mesin pendorong. Disiplin, pantang menyerah, dan berorientasi pada hasil membuat Vietnam berlari kencang, bahkan melampaui negara lain di kawasan. (#)
Banjarmasin, 11 Agustus 2025
Penyunting Mohammad Nurfatoni












