
Perjalanan Outbound Learning hari pertama siswa kelas V Sekolah Kreatif Baratajaya berujung pada pelajaran berharga di Benteng Pendem, saksi bisu sejarah kolonial yang kini menjadi ruang belajar penuh makna.
Tagar.co — Kegiatan Outbound Learning hari pertama Selasa (4/11/25) siswa kelas 5 Sekolah Kreatif Baratajaya berakhir dengan kunjungan berkesan ke Benteng Van den Bosch, Ngawi—sebuah cagar budaya peninggalan masa kolonial yang lebih dikenal masyarakat sebagai Benteng Pendem.
Sebelum menjelajah benteng, para siswa menikmati makan siang bersama di bawah arahan kakak pembina dari Kopasgat. Disiplin dan kebersamaan tetap dijaga, setiap aktivitas dilakukan sesuai arahan dan prosedur yang berlaku. Setelahnya, briefing singkat diberikan untuk memastikan kegiatan tur berjalan aman dan tertib.
Baca berita terkait: Belajar dari Pabrik Brem Legendaris: Siswa Sekolah Kreatif Baratajaya Menyelami Tradisi
Kunjungan ini menjadi bagian penting dari rangkaian Outbound Learning yang bertujuan menumbuhkan rasa cinta sejarah dan menghargai warisan budaya bangsa.
“Anak-anak, dulu yang memprakarsai pembangunan benteng ini adalah Johannes van den Bosch, Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tahun 1839,” tutur Suhardi, pemandu benteng yang memimpin tur dengan semangat edukatif.
Ia menjelaskan bahwa letak Benteng Van den Bosch sangat strategis, berada di pertemuan Sungai Bengawan Madiun dan Bengawan Solo.
“Benteng ini sengaja dibuat lebih rendah dari tanah di sekitarnya dan dikelilingi tanah tinggi, sehingga tampak seperti terpendam,” tambahnya.

Bangunan yang dulu dibiarkan terbengkalai dan berdebu, kini telah berubah wajah menjadi destinasi sejarah yang tertata rapi dan penuh daya tarik. Dinding bata kokoh, lorong-lorong panjang, serta halaman luas menjadi saksi bisu perjalanan waktu.
Para siswa tampak antusias menyimak setiap penjelasan. “Bangunannya bagus seperti istana. Aku terkesan dengan area benteng yang luas,” ungkap Violina Sakhiyya, siswa kelas 5 Al Dinawari.
Ayu Ida Salsabilla dari kelas 5 Ibnu Majid menambahkan, “Bentengnya masih kuat meskipun sudah berusia ratusan tahun.”
Baca juga: Dari Stasiun Gubeng ke Lanud Iswahjudi: Outbound Seru Siswa Sekolah Kreatif Baratajaya
Kesan serupa diungkapkan oleh Esty Khairunnisa, siswi kelas 5 Alfarghani. “Bangunannya terawat, walaupun beberapa bagian direnovasi. Rasanya seperti kembali ke masa lalu,” ujarnya sambil menatap dinding tua yang megah.
Di dalam benteng, para siswa diajak menelusuri berbagai ruangan dan fungsinya di masa pemerintahan Hindia Belanda, mulai dari barak prajurit hingga penjara bawah tanah. Salah satu titik yang paling menyita perhatian adalah makam seorang pejuang dan ruang tahanan yang masih berdiri kokoh.
Ustaz dan ustazah pendamping senantiasa menemani anak-anak sepanjang tur, mendokumentasikan momen berharga di bawah teriknya matahari. Meski lelah, semangat belajar dan rasa ingin tahu para siswa tetap menyala, menandai penutup hari pertama yang sarat makna. (#)
Jurnalis Agus Mulyadi Penyunting Mohammad Nurfatoni












