Opini

Membumikan Nasionalisme lewat Sepak Bola

33
×

Membumikan Nasionalisme lewat Sepak Bola

Sebarkan artikel ini
Salah satu momen di laga Indonesia Bahrain (Foto Internet)

Sepak bola bukan sekadar permainan. Ia membentuk nasionalisme, menyatukan keberagaman, dan menjadi simbol harga diri bangsa. Timnas Indonesia adalah harapan, cermin pembinaan, dan semangat persatuan.

Oleh: dr. Mohamad Isa, Sp.P.

Tagar.co – Bagi anak yang senang bermain bola, khususnya yang ikut SSB (Sekolah Sepak Bola) atau klub sepak bola di Indonesia, selalu ada cita-cita ingin menjadi pemain nasional. Para pelatih sepak bola akan mendorong dan bangga bila ada anak didiknya dipanggil menjadi pemain nasional.
Bagi pemain bola, menjadi pemain nasional dengan lambang negara di dada adalah puncak karier tertinggi dalam lingkup negaranya.

Penulis sendiri senang bermain sepak bola sejak masa anak-anak. Pada tahun 1972, saat berumur 12 tahun, pernah ikut klub sepak bola Indonesia Muda (IM) di Surabaya. Nuansa latihan dan bertanding sangat terasa saat itu. Idola pemain nasional seperti Abdul Kadir, Yocob Sihasale, Sucipto Suntoro, Ronny Paslah, Iswadi Idris, Ronny Patinasarany, Junaidi Abdullah, Widodo, Ferrel Raymon Hattu, Boaz Solossa, dan lain-lain menjadi inspirator dan mimpi setiap pemain untuk bisa mencapai jenjang pemain nasional.

Baca juga: Misteri Kematian Mendadak: Sudden Death dalam Dunia Medis

Saat ini, nama-nama pemain sepak bola nasional yang berasal dari pembinaan/latihan di dalam negeri mulai berkurang. Banyak pemain tim nasional merupakan hasil binaan luar negeri melalui proses naturalisasi.

Baca Juga:  Benarkah Kita Telah Menang?

Kenapa para pemain mau dinaturalisasi?

Mereka mau karena menjadi pemain nasional suatu negara adalah suatu kebanggaan. Untuk menjadi pemain nasional tidaklah mudah, dan saingannya banyak.

Lepas dari urusan finansial atau perlakuan khusus, para pemain yang dinaturalisasi sudah menjalani prosedur kenegaraan untuk menjadi warga negara suatu negeri dengan kesadaran diri dan kesediaan disumpah.

Bagi sebuah tim nasional, keberadaan pemain dari pembinaan dalam negeri maupun luar negeri tidak menjadi masalah, karena sama-sama membawa nama negara dan menjadi kebanggaan kita.

Nasionalisme Timnas

Nasionalisme para pemain tim nasional Indonesia patut diacungi jempol. Mereka bersama-sama berjuang membela kehormatan Negara Indonesia.

Rasa nasionalisme adalah modal utama agar dapat bermain dalam satu tim nasional yang kompak. Dengan rasa nasionalisme yang tinggi, mereka bisa mempersatukan kebinekaan menjadi satu tujuan.

Dibentangkannya bendera Merah Putih, dinyanyikannya Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, dan dikibarkannya spanduk raksasa saat pertandingan bertuliskan Show Your Dignity menjadi penyemangat untuk terus berjuang membela kehormatan negara.
Diselingi pula ritual menyanyikan lagu Tanah Airku ciptaan Ibu Soed secara bersama-sama oleh para

suporter yang menambah rasa cinta kepada Negara Indonesia.

Baca Juga:  Pendidikan Gratis atau Makan Gratis?

Pembinaan dalam Negeri

Pertanyaannya, bagaimana dengan pembinaan dalam negeri? Adakah yang salah, sehingga pemain binaan luar negeri lebih banyak daripada pemain dari pembinaan dalam negeri?

Dengan jumlah penduduk dalam negeri yang besar dan animo masyarakat yang tinggi terhadap sepak bola, potensi untuk menemukan pemain binaan dalam negeri seharusnya jauh lebih mudah.
Di kampung-kampung dan sekolah-sekolah, banyak anak yang bermain bola.

Banyak bakat alami yang dimiliki anak-anak tersebut. Tinggal bagaimana menggali dan mengembangkan bakat itu.

Pusat-pusat pembinaan harus dioptimalkan dan dikembangkan dengan metode pelatihan yang baik serta pelatih yang berkualitas.

Kalau alasannya ukuran fisik pemain, tentunya itu bukan ukuran yang mutlak. Dalam permainan sepak bola, tidak hanya tinggi badan yang penting, tetapi keterampilan (skill) dan stamina. Posisi pemain juga menentukan kebutuhan ukuran fisik.

Lionel Messi, dengan postur tubuh yang tidak terlalu tinggi, bisa menjadi pemain hebat.
Negara seperti Jepang dan Korea Selatan, yang memiliki postur tubuh relatif serupa, mampu menunjukkan hasil pembinaan dalam negeri yang luar biasa—bahkan langganan masuk Piala Dunia dan mengekspor pemain ke klub-klub elite dunia.

10 Masukan

Yang dibutuhkan tinggal good will dari Presiden dan ketua federasi sepak bola agar pembinaan sepak bola dalam negeri menjadi lebih baik.

Baca Juga:  Strategi Terkini Pengobatan Tuberkulosis

Sebagai masukan untuk pembinaan sepak bola dalam negeri:

  • Gali potensi anak berbakat dengan sungguh-sungguh. Bentuk tim pencari bakat yang baik dan bebas kolusi.

  • Optimalkan klub sepak bola yang ada dengan keterlibatan pemerintah pusat maupun daerah.

  • Seleksi pemain nasional harus dilakukan secara objektif, tanpa memandang apakah pemain dari binaan dalam negeri atau luar negeri (naturalisasi).

  • Asah kemampuan pelatih sepak bola melalui pelatihan yang komprehensif, dengan harapan kesejahteraan pelatih pun ikut meningkat.

  • Beri kesempatan bermain kepada pemain lokal dalam pertandingan resmi, baik di klub maupun di tim nasional.

  • Jenjang kompetisi harus berjalan dengan baik dan teratur. Kurangi kuota pemain asing. Berikan penghargaan finansial yang layak bagi pemain binaan dalam negeri.

  • Lakukan pembinaan wasit dalam negeri secara serius, baik secara fisik maupun mental, agar mampu memimpin pertandingan dengan baik.

  • Training centre harus dioptimalkan.

  • Pengurus sepak bola harus profesional dan tidak menjadikan sepak bola sebagai kendaraan politik. Sepak bola adalah sepak bola.

  • Semangat dukungan masyarakat untuk tim nasional harus terus dibina secara baik dan terhormat.

Banjarmasin, 28 Maret 2025

Penyunting Mohammad Nurfatoni