Feature

Membangun Revolusi Cara Berpikir: Wamendikdasmen Buka ToT Calon Pengajar Koding dan AI

26
×

Membangun Revolusi Cara Berpikir: Wamendikdasmen Buka ToT Calon Pengajar Koding dan AI

Sebarkan artikel ini
Training of Trainer (ToT) Calon Pengajar Koding dan Kecerdasan Artifisial (AI) Gelombang Ketiga
Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq membuka Training of Trainer (ToT) Calon Pengajar Koding dan Kecerdasan Artifisial (AI) di Surabaya Rabu (14/5/25)

Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq membuka ToT calon pengajar koding dan AI. Ia tekankan pentingnya nilai, etika, dan tanggung jawab di tengah percepatan digitalisasi pendidikan Indonesia.

Tagar.co Suasana ruang pelatihan di Surabaya terasa berbeda pagi itu. Bukan sekadar pelatihan teknis biasa, melainkan awal dari sebuah revolusi cara berpikir dalam dunia pendidikan. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, hadir membuka Training of Trainer (ToT) Calon Pengajar Koding dan Kecerdasan Artifisial (AI) Gelombang Ketiga bagi guru jenjang pendidikan dasar dan menengah, Rabu (14/5/2025).

“Gelombang ketiga ini tidak hanya pelatihan teknis. Kita sedang membangun revolusi cara berpikir,” ujar Fajar dalam sambutannya yang disambut antusias para peserta.

Baca juga: Wamendikdasmen Ajak Anak TK di Sidoarjo Bermain sambil Belajar Matematika dan Coding

Menurutnya, penguasaan teknologi harus disertai dengan nilai-nilai etika dan tanggung jawab. “Yang terpenting bukan sekadar bikin gim atau program. Tapi bagaimana anak-anak kita mengembangkan soft skills: tanggung jawab, etika, dan rasa aman dalam menggunakan teknologi,” lanjutnya.

Baca Juga:  Jelang TKA SD, Wamendikdasmen Pastikan Kesiapan Sekolah di Mataram

Fajar juga mengutip data dari Stanford University yang menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia termasuk paling optimistis di dunia terhadap perkembangan AI. Namun, ia menegaskan bahwa optimisme itu perlu disertai kesiapan nilai dan kesadaran risiko.

“Kalau tidak dibekali nilai, teknologi bisa jadi ancaman dehumanisasi. Kecerdasan Artifisial ini ibarat pisau bermata dua, satu sisi mempunyai kontribusi positif dalam memudahkan pekerjaan, dan satu sisi gelapnya yang perlu diantisipasi. Oleh karena itu, pengembangan Kecerdasan Artifisial harus berbasis manusia,” jelasnya, dikutip dari siaran pers yang diterima Tagar.co Kamis (15/5/25) malam.

Konsep Digital Citizenship, menurut Fajar, harus menjadi nilai utama dalam pendidikan teknologi masa depan. “Digital Citizenship itu membangun rasa tanggung jawab, komitmen etis, dan rasa aman saat menggunakan teknologi,” tegasnya lagi.

Fajar juga menyoroti pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan sekolah dalam mewujudkan digitalisasi pendidikan yang merata. Ia menyebut peluncuran program Hasil Terbaik Cepat (HTC) oleh Presiden RI sebagai salah satu lompatan besar menuju Indonesia Emas 2045.

Baca Juga:  Militerisasi AI dalam Perang Modern

“Tanpa lompatan besar, kita tidak akan sampai ke Indonesia Emas 2045. Salah satu lompatan itu adalah memperkenalkan koding dan kecerdasan artifisial sejak dini,” katanya.

Peserta Training of Trainer (ToT) Calon Pengajar Koding dan Kecerdasan Artifisial (AI) di Surabaya Rabu (14/5/25)

Melatih Pelatih untuk 59 Ribu Guru

Direktur Guru Pendidikan Dasar, Rachmadi Widiharto, menambahkan bahwa pelatihan ini bertujuan menyiapkan para calon pengajar yang akan melatih puluhan ribu guru di seluruh Indonesia sepanjang tahun 2025.

“Kegiatan ini bertujuan membekali calon pengajar di daerah dengan keterampilan teknologi dan strategi kolaboratif agar menjadi fasilitator yang kompeten dan andal,” ujarnya.

Menurut Rachmadi, pelatihan ini akan menjangkau setidaknya 59.546 guru dari sekolah-sekolah sasaran di seluruh provinsi Indonesia. Untuk mendukung pelaksanaan, Kemendikdasmen menggandeng 90 lembaga penyelenggara diklat yang telah melalui proses seleksi ketat.

“Pembelajaran dalam ToT ini menerapkan metode problem-based learning, project-based learning, hingga simulasi mengajar. Peserta bukan hanya belajar teori, tapi langsung mempraktikkan strategi mengajar koding dan kecerdasan artifisial,” terangnya.

Peserta ToT berasal dari kalangan akademisi, guru, dan praktisi. Mereka juga mengalami proses belajar aktif berbasis kebutuhan orang dewasa (andragogi), dengan setiap sesi diakhiri refleksi mendalam.

Baca Juga:  Wamendikbud di Umsura: Guru Sejahtera, Deep Learning, dan AI Kunci Indonesia Emas 2045

“Refleksi ini penting agar peserta betul-betul siap membawa perubahan di kelas masing-masing,” ujarnya. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni