Feature

Membangun Kembali Peradaban Islam: Refleksi Kejayaan Andalusia di Rakornas LSBPI MUI

52
×

Membangun Kembali Peradaban Islam: Refleksi Kejayaan Andalusia di Rakornas LSBPI MUI

Sebarkan artikel ini
Pernahkah Anda membayangkan gemerlap peradaban Islam di Andalusia? Seni, ilmu pengetahuan, dan arsitektur yang memukau dunia? Kini, semangat itu dihidupkan kembali dalam Rakornas LSBPI MUI.
Sekjen MUI Amirsyah Tambunan (depan, etiga dari kiri) bersama peserta Rakornas LSBPI MUI 

Pernahkah Anda membayangkan gemerlap peradaban Islam di Andalusia? Seni, ilmu pengetahuan, dan arsitektur yang memukau dunia? Kini, semangat itu dihidupkan kembali dalam Rakornas LSBPI MUI.

Tagar.coKota Lembang ini daerah dingin, kulinernya tumbuh berkembang. Islam rahmatanlilalamin, menjadi berkah bagi semua orang.

Pantun tersebut mengawali sambutan Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amirsyah Tambunan dalam pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakornas) Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) MUI di Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Lembang, Bandung, pada ahad (28/1/2025).

Dalam sambutannya, Buya Amirsyah, sapaan akrabnya, mengingatkan kembali tentang kejayaan peradaban Islam di Andalusia, Spanyol, yang pernah bersinar terang selama 780 tahun (712-1492 Masehi).

Baca juga: MUI Dukung Visi Kemendikdasmen “Pendidikan Bermutu untuk Semua”

“Peradaban Islam di Andalusia meninggalkan warisan sejarah yang luar biasa, menjadi bukti puncak kejayaan umat Islam di masa lampau,” ujar Buya Amirsyah. Namun, kejayaan tersebut harus berakhir, meninggalkan pelajaran berharga tentang sunatullah dalam kekuasaan.

Buya Amirsyah menegaskan bahwa kekuasaan adalah sunatullah, ada masanya dan akan berakhir sesuai kehendak Allah.

Baca Juga:  Anak Kita Vs Algoritma

Dia mengutip Surat Ali Imran ayat 140: “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir)dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” 

Lebih lanjut, dia mengingatkan bahwa dalam Al-Qur’an, Allah Swt juga berfirman bahwa kehancuran suatu bangsa dapat disebabkan oleh perilaku para pemuka atau elit yang gemar melakukan kejahatan, kemungkaran, dan kezaliman terhadap rakyatnya. Gaya hidup hedonis, keserakahan, dan pamer kemewahan menjadi pertanda buruk. Allah SWT bahkan mengancam dengan bencana spesifik sebagai teguran.

Hal ini ditegaskan dalam Surat Al-Isra ayat 16: “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”

Baca Juga:  Dam Haji di Persimpangan: Antara Logika Negara dan Ketentuan Syariah

“Fakta sejarah telah menjadi saksi bisu, bahwa kehancuran peradaban bangsa seringkali diakibatkan oleh kesewenang-wenangan penguasa dan kezaliman yang merajalela,” tegas Buya Amirsyah.

Buya Amirsyah kemudian menekankan bahwa kejayaan suatu bangsa sangat bergantung pada tingginya peradaban yang dijunjung. “Peradaban berasal dari kata adab yang berarti sopan, berbudi pekerti, luhur, mulia, atau berakhlak. Semuanya merujuk pada sifat yang tinggi dan mulia,” jelasnya.

Peradaban, lanjut Buya Amirsyah, juga dapat diartikan sebagai kebudayaan tertinggi yang mencakup seni, arsitektur, kemajuan teknologi, dan ilmu pengetahuan, seperti yang pernah ditorehkan peradaban Islam di Andalusia. Seni musik, ukir, dan kaligrafi hanyalah sebagian kecil dari warisan agung tersebut.

“Artinya, semakin kreatif kita memajukan seni dan budaya, semakin maju pula peradaban bangsa. Kemajuan peradaban bangsa sangat ditentukan oleh etika dan moral yang tercermin dalam seni dan budaya yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur,” tegasnya.

Saat ini, dunia dihadapkan pada tantangan terkikisnya nilai-nilai kemanusiaan. “Peradaban bangsa-bangsa di dunia tengah tercerabut dari akarnya, nilai-nilai kemanusiaan dinistakan, perang tak berkesudahan,” ujar Buya Amirsyah prihatin.

Baca Juga:  Board of Peace, MUI, dan Ujian Kepercayaan Publik

Oleh karena itu, beliau menyerukan agar peradaban Islam yang menekankan pada keselamatan dan kedamaian (rahmatan lil ‘alamin) dapat kembali ditegakkan. “Kita harus berupaya mengembalikan cita-cita peradaban Islam untuk mewujudkan dunia yang aman dan damai. Semoga peradaban bangsa Indonesia semakin maju,” ujarnya, penuh harap.

Rakornas LSBPI ini menjadi salah satu ikhtiar untuk merefleksikan kembali kejayaan peradaban Islam di masa lalu, khususnya Andalusia, dan menjadikannya inspirasi untuk membangun kembali peradaban Islam yang gemilang di masa kini dan mendatang. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni