Feature

Membangun ASEAN dari Pinggiran: Aisyiyah Suarakan Gotong Royong dan Inklusivitas di Forum Kuala Lumpur

48
×

Membangun ASEAN dari Pinggiran: Aisyiyah Suarakan Gotong Royong dan Inklusivitas di Forum Kuala Lumpur

Sebarkan artikel ini
Dalam Forum Kemitraan Multipihak di Kuala Lumpur, Aisyiyah menegaskan bahwa pembangunan inklusif ASEAN hanya bisa terwujud jika masyarakat akar rumput dilibatkan—dengan nilai-nilai lokal seperti gotong royong dan ta’awun sebagai fondasinya.
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah Assoc. Prof. Dr. Tri Hastuti Nur Rochimah, dalam Forum III Tamu Hotel & Suites Jalan Raja Abdullah, KG Baru, Kuala Lumpur, Kamis 26 Juni 2025. Dia satu sesi bersama Prof. Dr. Syed Farid Alatas dari National University of Singapore (kanan) dan moderator Dr. Muhammad Hisyam bin Mohamad, Direktur EMAS IKIM. (Tagar.co/Istimewa)

Dalam Forum Kemitraan Multipihak di Kuala Lumpur, Aisyiyah menegaskan bahwa pembangunan inklusif ASEAN hanya bisa terwujud jika masyarakat akar rumput dilibatkan—dengan nilai-nilai lokal seperti gotong royong dan ta’awun sebagai fondasinya.

Tagar.co — Jam menunjukkan pukul 12 siang saat ballroom di Tamu Hotel & Suites Jalan Raja Abdullah, KG. Baru, Kuala Lumpur, Malaysia, penuh dengan peserta, Kamis 26 Juni 2025. Di tengah suhu ruangan yang sejuk, kehangatan datang bukan dari teh atau kopi, melainkan dari semangat kolaborasi yang mengalir dalam Forum III bertajuk “Strengthening Multi-Stakeholder Partnerships for Community Empowerment in ASEAN”.

Baca juga: Merantau tanpa Merasa Asing: Pesan Abdul Mu’ti untuk Diaspora Muhammadiyah di Malaysia

Seorang perempuan berhijab merah marun berdiri di belakang podium. Ia membuka dengan kalimat sederhana namun menyentuh: “Thank you for the very valuable opportunity in this very important and special forum. I am honored to be in this forum,” katanya membuka sambutan. “Terima kasih atas kesempatan yang sangat berharga dalam forum yang sangat penting dan istimewa ini. Merupakan suatu kehormatan bagi saya untuk hadir di forum ini.”

Ia adalah Assoc. Prof. Dr. Tri Hastuti Nur Rochimah, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah—organisasi perempuan Muslim progresif dari Indonesia yang telah berkiprah lebih dari seabad.

Membaca ASEAN dari Bawah: Suara Komunitas yang Sering Terlupakan

Dalam forum yang digagas oleh Institute of Islamic Understanding Malaysia (IKIM) ini, Tri tidak datang membawa teori kosong. Ia membawa suara komunitas, suara perempuan, suara dari desa-desa yang jarang tersorot.

Baca Juga:  Bakti Sosial Menjelang Ramadan, Aisyiyah Sendangagung Tebar 132 Paket Sembako

Dengan penuh semangat, Tri memetakan tantangan besar yang masih dihadapi negara-negara ASEAN dalam mencapai cita-cita pembangunan berkeadilan. Ia menyoroti ketimpangan pertumbuhan ekonomi, kemiskinan yang masih tinggi, dan ketergantungan kawasan terhadap dinamika ekonomi global.

“Ekonomi kita belum sepenuhnya stabil. Ketegangan perdagangan dunia dan gangguan rantai pasok membuat kawasan ini rawan guncangan,” ungkapnya. Dalam sektor layanan publik, khususnya kesehatan, masih terdapat kesenjangan nyata. “Daerah pedesaan dan terpencil masih kesulitan mengakses layanan kesehatan dasar,” tambahnya.

Ia juga menyinggung rendahnya keterlibatan perempuan dan kelompok minoritas dalam proses pengambilan keputusan publik. “Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak seringkali tidak mendapat perhatian yang semestinya. Sementara itu, angka putus sekolah tinggi di sejumlah negara, dan banyak masyarakat belum siap menghadapi revolusi teknologi baru seperti kecerdasan buatan.”

“Perubahan iklim pun tak kalah mengkhawatirkan,” lanjutnya. Negara-negara ASEAN, katanya, menghadapi ancaman nyata berupa naiknya permukaan laut, cuaca ekstrem, dan kerusakan lingkungan. Semua itu diperparah oleh dinamika geopolitik global yang kian rumit, terutama rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Dalam Forum Kemitraan Multipihak di Kuala Lumpur, Aisyiyah menegaskan bahwa pembangunan inklusif ASEAN hanya bisa terwujud jika masyarakat akar rumput dilibatkan—dengan nilai-nilai lokal seperti gotong royong dan ta’awun sebagai fondasinya.
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah Assoc. Prof. Dr. Tri Hastuti Nur Rochimah saat menyampaikan gagasannya dalam Forum III Tamu Hotel & Suites Jalan Raja Abdullah, KG Baru, Kuala Lumpur, Kamis 26 Juni 2025 (Tagar.co/Istimewa)

Solusi Berakar Kearifan Lokal

Namun, alih-alih terjebak dalam pesimisme, Tri justru menawarkan jalan keluar yang berakar dari kekayaan budaya dan kearifan lokal. Ia menyebut nilai gotong royong sebagai kekuatan sosial khas kawasan ini. “Dalam Islam, semangat ini termanifestasi dalam bentuk infaq, shadaqah, zakat, wakaf, dan ta’awun,” jelasnya.

Keterkaitan manusia dengan alam, penghormatan kepada orang tua, serta pelibatan kelompok adat dan masyarakat terpinggirkan dalam pengambilan keputusan menjadi pilar utama solusi lokal yang ia tawarkan. “Kita harus merayakan keberagaman budaya sebagai kekayaan yang mempersatukan, bukan memisahkan.”

Baca Juga:  Reuni Akbar PCIM–PCIA Malaysia: Merawat Ikatan yang Tak Pernah Putus

“Keberagaman adalah sunnatullah,” ujarnya dengan mantap. “Dan pembangunan yang berkelanjutan tidak boleh meninggalkan siapa pun, tak peduli identitasnya.” Ia menggarisbawahi bahwa umat Islam di kawasan ini berada dalam posisi yang berbeda-beda—ada yang mayoritas, ada yang minoritas—dan semua tetap memiliki hak yang sama untuk berpartisipasi dalam pembangunan.

Tri mengingatkan bahwa pembangunan yang benar adalah yang memperhatikan keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. “Kita berbicara soal masa depan lintas generasi. Kita harus menjaga sumber daya dan alam agar anak cucu kita bisa hidup layak.”

Peran masyarakat sipil, menurutnya, sangat sentral. “Inisiatif yang datang dari komunitas cenderung lebih tepat sasaran dan berkelanjutan, karena mereka tahu persis kebutuhan dan konteksnya. Dan lebih penting lagi, solusi yang lahir dari bawah biasanya lebih peka secara budaya.”

Ia juga mengajak para akademisi untuk turut aktif, tidak hanya melakukan riset, tetapi juga memberikan rekomendasi kebijakan, menyelenggarakan pelatihan, memfasilitasi forum dialog, serta memperkuat suara kelompok-kelompok yang selama ini terpinggirkan.

“Kemitraan lintas sektor adalah kunci,” katanya. Akademisi, pemerintah, LSM, dan sektor swasta harus saling mendukung untuk mencari solusi bersama. “Kita butuh dialog yang jujur, saling percaya, dan terbuka terhadap keberagaman.”

Ia kemudian memaparkan strategi konkret: memanfaatkan kerangka kerja Komunitas Sosial Budaya ASEAN (ASCC), berbagi praktik baik antarnegara, memperkuat masyarakat sipil, serta menyusun kebijakan inklusif untuk kelompok perempuan, pemuda, disabilitas, dan masyarakat rentan lainnya. “Jangan lupa, teknologi digital bisa jadi alat yang luar biasa untuk memperluas kolaborasi dan keterlibatan warga,” ujarnya.

Baca Juga:  Perkuat SDM Pendidikan, Aisyiyah Gandeng GMS Academy Singapura

Menutup presentasinya, Tri mengingatkan bahwa koordinasi antarnegara bukan perkara mudah. “Kita menghadapi keragaman budaya, bahasa, prioritas nasional, dan sumber daya yang berbeda. Tapi semua itu bisa dikelola jika ada niat baik dan kerja sama sejati.”

Perspektif Akademik yang Menguatkan

Di samping Tri, hadir pula Prof. Dr. Syed Farid Alatas dari National University of Singapore. Dengan latar belakang sosiologi kritis, Farid menekankan bahwa kekuatan komunitas bukan sekadar aset sosial, tapi fondasi keberlanjutan kawasan.

Sesi ini dimoderatori oleh Dr. Muhammad Hisyam bin Mohamad, Direktur EMAS IKIM. Dengan tenang, ia memandu diskusi, menyeimbangkan antara pengalaman lapangan dan analisis akademik. Forum pun hidup, bukan sebagai ruang satu arah, tapi dialog lintas latar, lintas negara.

Penutup dengan Pesan Kuat dari Perdana Menteri

Pada sore hari, suasana kembali khidmat. Perdana Menteri Malaysia, YAB Dato’ Seri Anwar bin Ibrahim, hadir memberi pidato kunci. Ia berbicara bukan sebagai pejabat, tapi sebagai negarawan yang memahami pentingnya kolaborasi lintas budaya, dialog antarbangsa, dan pembangunan berbasis kemanusiaan.

Sebelumnya, Prof. Emeritus Dato’ Dr. Mohd Yusof bin Hj. Othman, Wakil Ketua IKIM, juga menyampaikan sambutan penutup, menggarisbawahi pentingnya menjaga keberlanjutan forum-forum seperti ini.

Dari Kuala Lumpur, narasi-narasi itu kini bergerak lintas batas. Disuarakan oleh akademisi, dihidupi oleh masyarakat sipil, dan diperjuangkan oleh perempuan seperti Tri Hastuti. Sebuah pelajaran dari ASEAN: bahwa kekuatan sejati lahir bukan dari pusat kekuasaan, tetapi dari pinggiran yang diberdayakan. (#)

Jurnalis Sholikan Abdul Halim Penyunting Mohammad Nurfatoni