
Biro AIK UMG menggelar seminar dan bedah buku “Epistemologi Tadzakkur Rahmani”, memantik dialog keilmuan tentang sumber pengetahuan Qurani dan tawaran alternatif atas paradigma Barat.
Tagar.co – Upaya menggali sumber pengetahuan berbasis Al-Qur’an terus dilakukan di lingkungan kampus. Rabu (14/5/2025), Biro Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) menggelar seminar sekaligus bedah buku Epistemologi Tadzakkur Rahmani: Sistem Pengetahuan Al-Qur’an dalam Tafsir Sufistik dan Falsafi karya Dr. Piet Hizbullah Khaidir. Kegiatan yang berlangsung di Hall Sang Pencerah lantai 8 Gedung UMG itu menjadi ruang reflektif sekaligus akademik dalam menyatukan dimensi nalar dan spiritual.
Dua pemikir dihadirkan sebagai narasumber utama: sang penulis, Dr. Piet Hizbullah Khaidir, S.Ag., MA., dan Prof. Dr. Khozin, M.Si. dari Universitas Muhammadiyah Malang. Acara dibuka langsung oleh Rektor UMG, Prof. Dr. Khoirul Anwar, S.Pd., M.Pd., dan dipandu Wakil Rektor, Suwarno, S.E., M.Si., sebagai moderator.
Baca juga: Jaga Tradisi Literasi, PWM Jatim Launching 18 Buku Karya Warga Muhammadiyah
Dalam pemaparannya, Piet menyampaikan bahwa buku ini lahir dari kegelisahan terhadap dua problem mendasar dalam epistemologi filsafat: apakah pengetahuan bersifat rasional, empiris, atau gabungan keduanya; dan bagaimana hubungan antara subjek dengan objek pengetahuan. Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an hadir dengan konsep yang utuh dan menjawab problem tersebut melalui pendekatan yang ia istilahkan sebagai Tadzakkur Rahmani.
“Buku ini memetakan 16 lafal kunci dalam proses epistemologi Al-Qur’an menjadi tiga kelompok,” ujar Dr. Piet. Ketiga kelompok itu meliputi proses perseptual (indrawi), proses konseptual (kognisi), dan proses abstraksi (generalisasi serta sintesis pengetahuan). Pendekatan ini, menurutnya, menjadi tawaran model epistemologi integral yang berbeda dari paradigma Barat.
Menanggapi itu, Prof. Khozin menekankan pentingnya empat komponen dalam kajian epistemologi: teori, struktur, metode, dan validitas. Buku ini, katanya, secara khusus menelusuri aspek struktur dan metode pengetahuan dalam perspektif Qurani.
“Allah Swt. adalah sumber tertinggi dari segala pengetahuan. Ini kontras dengan cara pandang filsafat Barat yang cenderung memisahkan Tuhan dari alam,” tutur Prof. Khozin. Ia menambahkan, jika Barat melihat Tuhan seperti ‘pembuat jam’ yang pasif setelah menciptakan alam, maka dalam sains Islam hubungan antara Tuhan dan ciptaan bersifat aktif dan terus menerus.
Diskusi juga menyentuh soal integrasi antara sains Qurani dan sains alam. Tidak ada pertentangan, kata Prof. Khozin, kecuali bila sumber rujukan mengalami distorsi atau tidak autentik. Ia juga mengutip Maurice Bucaille yang menyatakan bahwa Al-Qur’an sejalan dengan ilmu pengetahuan modern, meskipun hadis-hadis tertentu memang memerlukan verifikasi kritis.
Materi yang padat dan bernas membuat sebagian peserta merasa tertantang. “Seminarnya sangat berkesan karena menghadirkan pemateri ahli di bidangnya. Tapi, bagi kami mahasiswa S1, terutama yang baru mengenal dunia akademik, pembahasannya cukup berat. Mungkin lebih sesuai untuk dosen atau mahasiswa pascasarjana,” kata Ayunda Listya Ningrum, mahasiswi semester 4 Prodi PAI.
Meski demikian, acara ini tetap memberi warna baru dalam lanskap intelektual kampus. Seminar dan bedah buku Epistemologi Tadzakkur Rahmani dinilai mampu menjadi ruang integrasi antara pengetahuan dan nilai-nilai keislaman secara utuh—mengajak civitas akademika UMG untuk berpikir tidak hanya logis, tetapi juga sadar spiritual. (#)
Jurnais Hidayat Penyunting Mohammad Nurfatoni












