Feature

Malam Penuh Doa: Siswa SD Mumtas Surabaya Menyalakan Cahaya Batin Jelang Ujian

594
×

Malam Penuh Doa: Siswa SD Mumtas Surabaya Menyalakan Cahaya Batin Jelang Ujian

Sebarkan artikel ini
Menembus malam penuh doa, siswa SD Mumtas menguatkan diri menghadapi ujian. Lewat Mabit, mereka belajar bahwa ketangguhan sejati lahir dari hati yang bersih dan jiwa yang kuat.
Siswa-siswi kelas 6 SD Muhammadiyah 10 Surabaya mengikuti kegiatan pembukaan Mabit penuh khidmat dan sekaligus mendapatkan motivasi dari kepala sekolah (Tagar.co/M. Ali)

Menembus malam penuh doa, siswa SD Mumtas menguatkan diri menghadapi ujian. Lewat Mabit, mereka belajar bahwa ketangguhan sejati lahir dari hati yang bersih dan jiwa yang kuat.

Tagar.co – Saat langit Surabaya masih mewarnai sore dengan semburat jingga, satu per satu siswa kelas 6 SD Muhammadiyah 10 Surabaya (Mumtas) berdatangan ke sekolah, Jumat (25/4/2025). Bukan untuk belajar seperti biasa, melainkan untuk memulai perjalanan batin—Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit)—sepekan menjelang Penilaian Sumatif Satuan Pendidikan (PSSP).

Sebanyak 73 siswa hadir dengan tas besar di punggung dan harapan yang mengembang di hati. Mereka datang setelah menunaikan salat asar, membawa perlengkapan menginap, dan membawa secercah tekad: membekali diri bukan hanya untuk ujian akademik, tapi juga ujian kehidupan.

Baca juga: SD Mumtas Gelar Aksi untuk Palestina: Menggugah Kepedulian, Menyatukan Kemanusiaan

Suasana hangat membungkus awal acara. Mereka memulai dengan murojaah Al-Qur’an, melantunkan ayat demi ayat dengan tartil, mengalirkan ketenangan ke dalam jiwa yang muda dan bersemangat. Setelah itu, Kepala SD Mumtas, M. Khoirul Anam, membuka sesi pembinaan akhlak dan motivasi, menanamkan pesan tentang pentingnya kesiapan lahir batin menghadapi tantangan.

Baca Juga:  Tiga Titik, Satu Irama: Perayaan Milad Muhammadiyah Menghidupkan Simokerto

Namun, momen yang paling membekas justru hadir ketika malam telah beranjak larut. Saat kebanyakan orang terlelap, para siswa Mumtas justru dibangunkan. Dengan mata berat dan tubuh letih, mereka bergerak dalam diam, menyebrangi jalan menuju Masjid Jenderal A. Yani, yang berdiri megah tepat di seberang sekolah.

Air wudu yang dingin membasuh wajah-wajah mungil mereka. Dalam barisan yang rapi, bahu bersentuhan erat, mereka menggelar salat tahajud. Di bawah bimbingan Ustaz M. Saifunnur, tangis dan doa mewarnai keheningan malam, menggema dalam bisikan harap di bawah langit Surabaya yang bertabur bintang.

“Ini latihan kekuatan spiritual,” ujar Moh. Ali, Kepala Urusan Al-Islam SD Mumtas. “Rasulullah Saw. tidak pernah meninggalkan salat malam. Kami ingin anak-anak belajar dari teladan itu—menjadikan spiritualitas sebagai pondasi menghadapi tantangan, termasuk ujian akademik.”

Salah satu kegiatan Mabit SD Mumtas Surabaya (Tagar.co/Istimewa)

Setelah tahajud dan zikir, mereka menegakkan salat Fajar, lalu salat Subuh berjemaah. Sejumlah siswa kemudian bergiliran menyampaikan kuliah lima menit (kulma), berbagi pesan moral dan motivasi yang sederhana namun mengena, menyulam hikmah di pagi yang masih basah oleh embun.

Baca Juga:  Liburan Bermakna, 94 Siswa SMPN 1 Maduran Menempa Diri di Kampung Inggris

Ketika matahari mulai menanjak, siswa-siswa Mumtas bergerak ke halaman sekolah. Di bawah komando guru olahraga, Ilham Octavian, mereka berolahraga pagi, berlari kecil mengitari kampung Sidoyoso. Tawa mereka pecah, menggema di antara gang-gang sempit, menjadi simbol keseimbangan: olah pikir, olah rasa, olah hati, dan olah raga.

Lebih dari sekadar menginap, Mabit ini adalah perjalanan jiwa. Sebuah latihan sunyi untuk menempa ketangguhan, mengasah ketulusan, dan menumbuhkan keberanian menghadapi dunia yang terus berubah.

“Anak-anak belajar bahwa kekuatan sejati bukan hanya berasal dari kecerdasan otak, tapi dari kebeningan hati dan kekuatan jiwa,” ucap seorang guru dengan mata berkaca-kaca, menyaksikan anak-anak sujud khusyuk di malam sunyi.

Malam itu, di bawah langit Surabaya yang berselimut malam, para siswa Mumtas telah menyalakan cahaya dari dalam diri mereka. Cahaya yang akan terus membimbing langkah mereka—menuju ujian, menuju cita-cita, menuju masa depan. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni