Opini

Magnet Kesehatan: Energi Sejati Jemaah Bahagia

26
×

Magnet Kesehatan: Energi Sejati Jemaah Bahagia

Sebarkan artikel ini
Posko kesehatan jadi tempat recharge bukan hanya fisik, tapi juga semangat. (Tagar.co/Firman Arifin)

Di tengah padat dan beratnya rangkaian ibadah haji, kesehatan bukan sekadar syarat fisik. Ia menjadi bekal utama agar sujud lebih khusyuk, doa lebih panjang, dan hati lebih ikhlas.

Catatan dari Tanah Suci (Seri 14); Oleh Firman Arifin, Dosen PENS, Jemaah Haji 2025 Nurul Hayat Surabaya

Tagar.co – Dalam mihrab, kutumpahkan rindu. Tak ada tempat paling damai selain saat bersandar pada sajadah—dalam tenang, dalam diam, dalam syukur yang tak bersuara.

Namun, rindu itu tak cukup ditumpahkan lewat air mata. Ia butuh tubuh yang sanggup sujud, hati yang tetap hidup, dan napas yang tetap kuat. Maka, sehat adalah jembatan menuju rindu yang tuntas.

Pagi itu, saya berdiri di depan kamar 1021—tempat yang kini bukan hanya menjadi titik kumpul petugas kloter, tetapi juga titik koordinat penting: posko kesehatan. Sebuah magnet baru dalam hidup kita—kesehatan.

Baca juga: Zamzam dan Tiga Magnet Kehidupan

Bukan sekadar syarat fisik, tetapi penentu stabilitas rohani. Sebab tubuh yang bugar adalah kendaraan utama bagi perjalanan hati menuju Allah.

Baca Juga:  Fatwa Tarjih: Dam Bisa Disembelih di Tanah Air

Di tulisan sebelumnya, kita membahas tiga magnet kehidupan: ilmu, rezeki, dan kesehatan. Hari ini, mari kita fokus pada magnet ketiga: kesehatan yang bernilai ibadah.

Kenapa?

Karena tanpa tubuh yang sehat, mustahil kita bisa:

  1. Bertawaf mengelilingi Ka’bah dengan khusyuk,

  2. Bersa’i antara Safa dan Marwah,

  3. Berwukuf di Arafah dengan linangan air mata,

  4. Bermalam di Muzdalifah beratap langit,

  5. Berjalan membawa seluruh perbekalan dari Muzdalifah ke Mina,

  6. Menahan panas terik saat melontar jumrah di Mina, dan

  7. Menikmati seluruh rangkaian ibadah tanpa terhambat keluhan fisik.

Kesehatan bukan semata fasilitas medis atau sekadar “tidak sakit”. Ia adalah modal utama untuk meraih haji yang mabrur.

Sejak awal keberangkatan, kami telah dibekali berbagai tips oleh tim kesehatan kloter: gunakan masker, bukan hanya untuk mencegah penyakit, tetapi juga untuk menangkal debu dan udara panas. Rutin konsumsi makanan sehat, bukan sekadar kenyang, melainkan seimbang: protein, karbohidrat, sayur, dan buah.

Minum air yang cukup, bisa dicampur oralit. Bila memungkinkan, air zamzam. Tapi air putih biasa—selama tidak dingin—pun sangat berharga. Dan jangan lupa: manajemen energi. Istirahat juga bagian dari ibadah.

Baca Juga:  Siar Ramadan di Masjid Nailur Roja Jatinom

Setiap program yang disiapkan oleh KBIH, syarikah, dan petugas kloter—baik bersifat ibadah, edukasi, maupun rekreatif—dirancang bukan untuk “mengisi waktu”, melainkan untuk memperkaya jiwa.

Sayangnya, tak semua bisa mengikuti karena terkendala kesehatan. Maka, jagalah tubuh, pola makan, dan energi agar dapat menikmati setiap program yang sudah dirancang dengan niat tulus. Jangan biarkan niat baik terlewat karena kelalaian menjaga diri.

Program itu penting, tetapi lebih penting lagi adalah kesiapan kita menjalaninya dengan sehat dan bahagia.

Kini, kamar 1019 dan 1021 bukan lagi sekadar tempat tidur. Ia menjadi titik rujukan, tempat bertanya, tempat memeriksa tekanan darah, bahkan tempat menenangkan diri ketika mulai merasa lelah.

Manfaatkan posko. Jangan tunggu parah. Kesehatan bukan untuk ditunda, apalagi ditantang.

Haji bukan soal seberapa banyak yang bisa dilakukan, tetapi seberapa dalam kita menyadari maknanya. Menjaga kesehatan adalah wujud syukur yang paling nyata.

Karena saat kita sehat, kita bisa sujud lebih khusyuk, berdoa lebih panjang, dan melayani sesama lebih ikhlas.

Baca Juga:  PENS Tuan Rumah ToT “Teaching Methodology and Gender”, Dorong Pembelajaran Inklusif

Maka, jadilah jamaah yang bahagia—dengan kesehatan sebagai magnet dan syukur sebagai arah. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni