
Sebuah parade mobil antik di Surabaya 1939 membuka kembali luka lama Hendrik. Dari balik keramaian Fiat-rit, terkuak rahasia cinta yang selama puluhan tahun ia kira telah terkubur bersama tragedi di Kali Mas.
Cerpen oleh Dwi Taufan Hidayat
Tagar.co – Pada awal Maret 1939, Surabaya menjadi pusat perhatian dengan ajang Fiat-rit, perayaan otomotif yang menampilkan sejarah panjang dan ketangguhan kendaraan Fiat di Hindia Belanda.
Namun, di balik gegap gempita parade mobil antik, terselip kisah seorang pria yang harus berhadapan dengan luka lamanya sendiri hingga sebuah rahasia mengejutkan terkuak.
Langit Surabaya pagi itu cerah, tetapi hawa panas mulai menyergap jalanan Darmo ketika orang-orang berbondong-bondong menyaksikan parade mobil Fiat.
Sorak sorai pecah saat sebuah Fiat tua keluaran 1904 muncul dengan spanduk besar: “FIAT Anno 1904 – Batavia Soerabaia 1939.” Mobil itu bagai mesin waktu yang menyeret ingatan ke masa lalu, menyingkap kenangan yang sudah lama terkubur.
Baca cerpen lainnya: Karman dan Bayang-Bayang Ilmu yang Menjerumuskan
Di antara kerumunan, berdiri seorang pria paruh baya bernama Hendrik. Rambutnya mulai memutih, wajahnya letih, tetapi matanya tak lepas dari mobil antik itu. Bagi orang lain, itu hanya mobil tua yang berjalan gagah. Bagi Hendrik, ia melihat luka lama yang pernah ia coba kubur.
Tiga puluh lima tahun lalu, ia duduk di kursi penumpang Fiat serupa, bersama seorang perempuan bernama Clara. Mereka melaju di jalanan basah selepas hujan, tertawa, bernyanyi, seakan dunia hanya milik berdua.
Namun, tawa itu tak berumur panjang. Sebuah kecelakaan di tikungan Kali Mas merenggut nyawa Clara, meninggalkan Hendrik dalam penyesalan panjang.
Sejak hari itu, ia tak pernah lagi mengendarai Fiat. Ia menjauh dari segala hal yang berhubungan dengan mobil itu, seakan benda besi beroda empat itu adalah duri yang menusuk setiap kali disentuh. Tetapi hari ini, entah mengapa, ia memberanikan diri berdiri di tengah keramaian, menyaksikan luka lamanya kembali diarak.
“Berdamailah dengan luka lama itu…” gumamnya, mengingat kalimat yang pernah ia baca di sebuah poster rumah sakit saat menunggu istrinya dirawat. Kata-kata itu kini kembali terngiang, menuntutnya untuk tidak lagi menutup mata pada kenyataan.
Acara Fiat-rit terus berlangsung meriah. Sorak sorai penonton semakin riuh ketika tim pengemudi andal dipimpin V.D. Sluys dan Zampini tiba setelah menempuh rute Batavia–Soerabaja sejauh lebih dari 800 kilometer. Catatan waktu 23 jam 34 menit menjadi bukti daya tahan mobil-mobil Fiat.
Saat bunga disematkan di leher para pengemudi oleh Betty Berretty, Hendrik justru merasa terasing. Ia menunduk, menatap aspal, mencoba melawan perasaan yang berkecamuk. Namun, ketika ia mengangkat kepala, matanya terpaku pada sosok seorang perempuan muda di seberang jalan.
Tubuhnya seolah membeku. Perempuan itu… begitu mirip dengan Clara. Tatapan matanya, cara ia menyibak rambut dari wajah, bahkan senyumnya yang samar. Hendrik mengucek mata, takut ini hanya permainan bayangan.
Perempuan itu menyadari pandangannya. Perlahan ia melangkah mendekat, melewati kerumunan yang masih larut dalam sorak sorai.
“Apakah… Anda Tuan Hendrik?” suaranya lirih, tetapi jelas.
Hendrik tergagap. “Ya… siapa kau?”
Perempuan itu merogoh tas kecilnya, mengeluarkan secarik surat berwarna kecokelatan. “Saya Anna. Ibu saya menitipkan ini untuk Anda.”
Dengan tangan bergetar, Hendrik membuka surat itu. Tulisan tangan halus di atas kertas tua seketika membuat dadanya sesak.
“Untuk Hendrik…
Jika suatu hari kau membaca surat ini, berarti aku tak lagi bisa bersamamu. Aku Clara. Hari itu, di tikungan Kali Mas, sebenarnya bukan aku yang meninggal. Aku diselamatkan, tetapi terpaksa dibawa jauh oleh keluarga yang menentang hubungan kita. Demi keselamatan, aku memilih menghilang. Luka yang kau simpan mungkin dalam, tetapi percayalah, luka itu berasal dari cinta yang tak pernah mati…”
Surat itu terlepas dari genggamannya, jatuh ke tanah. Hendrik terhuyung, napasnya memburu. Keramaian sekeliling seakan lenyap, hanya tersisa degup jantungnya sendiri.
Perempuan bernama Anna itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Aku anak Clara, Tuan. Ibu selalu menyebut nama Anda sampai akhir hayatnya.”
Hendrik tak kuasa berdiri, lututnya lemas. Selama puluhan tahun ia mengira hidupnya dihantui oleh luka pengkhianatan nasib. Nyatanya, luka itu adalah kebohongan yang diciptakan untuk melindungi sebuah cinta yang tulus.
Di tengah gegap gempita Fiat-rit 1939, ketika orang-orang merayakan ketangguhan mesin, Hendrik justru merayakan sesuatu yang jauh lebih rapuh: hatinya sendiri, yang akhirnya berdamai dengan masa lalu.
Ia menatap Anna, senyum samar terbit di wajah tuanya. Luka itu, akhirnya, berubah menjadi pelajaran.(#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












