
Karman mencari pengakuan lewat ilmu yang ia banggakan. Tapi di balik pengakuannya di musala, sebuah catatan lusuh mengungkap misteri: benarkah ia sungguh bertobat?
Cerpen oleh Dwi Taufan Hidayat
Tagar.co – Langit sore merunduk di atas musala kecil. Angin mengibaskan tirai bambu yang digantung seadanya. Musala itu menjadi saksi banyak cerita: dari tadarus Ramadan, diskusi remaja, hingga pengajian rutin warga.
Sore itu, Ustaz Harun duduk di kursi rotan tua, dikelilingi para jemaah yang duduk bersila. Topik pengajian tak jauh dari nasihat tentang ilmu dan kerendahan hati.
“Allah meninggikan derajat orang-orang yang berilmu beberapa derajat,” ucapnya lembut sambil mengutip Surah Al-Mujadilah ayat 11. Jemaah mengangguk-angguk, beberapa mencatat di buku lusuh.
Namun, di pojok kanan, seorang lelaki paruh baya dengan peci miring hanya menyeringai. Namanya Karman. Ia dikenal suka membantah, merasa lebih pintar dari orang lain. Bukan karena banyak belajar, tetapi karena sering membaca potongan artikel di media sosial lalu merasa menguasai segalanya.
Ketika ustaz menekankan pentingnya tawaduk, Karman berdeham keras. “Tapi ustaz,” potongnya, “ilmu itu kan relatif. Kalau kita yakin benar, kenapa harus rendah hati? Bukankah kebenaran itu harus ditegakkan?”
Baca cerpen lainnya: Dosen Hukum yang Nyaris Jadi Tersangka
Ruangan seketika hening. Beberapa jemaah melirik. Ustaz Harun tersenyum, lalu menjawab tenang, “Justru orang berilmu akan semakin sadar betapa banyak yang belum ia ketahui. Kesombongan adalah tanda kebodohan, bukan kecerdasan.”
Karman tersenyum tipis, seolah merasa menang. Ia menoleh pada jemaah lain, berharap mendapat tepuk tangan tak kasatmata.
Malam berganti. Di warung kopi samping musala, Karman kembali melontarkan argumen-argumen sok pintarnya. “Ustaz itu terlalu sederhana. Kalau aku yang ceramah, pasti lebih ilmiah,” katanya sambil menepuk meja. Beberapa pemuda hanya mengangguk malas, sebagian memilih diam agar tidak memicu perdebatan panjang.
Karman menikmati perannya sebagai pusat perhatian. Ia selalu ingin didengar, seakan setiap kata darinya adalah kebenaran mutlak. Bahkan, ia sering merendahkan orang-orang yang lebih bijak hanya karena merasa dirinya lebih pintar.
Namun diam-diam, ia sebenarnya haus pengakuan. Bukan haus ilmu.
Suatu hari, kabar mengejutkan menyebar. Ada perlombaan pidato keagamaan tingkat desa. Hadiahnya lumayan besar dan pesertanya bebas dari kalangan masyarakat. Karman merasa ini panggung yang tepat baginya. “Aku akan tunjukkan siapa yang lebih pantas didengar!” serunya dengan penuh keyakinan.
Hari perlombaan tiba. Balai desa ramai oleh warga. Satu per satu peserta maju dengan tenang. Ada yang grogi, ada yang terbata-bata, ada pula yang meneteskan air mata ketika membicarakan keutamaan ilmu. Jemaah terharu mendengarnya.
Ketika giliran Karman tiba, ia melangkah mantap. Pakaiannya rapi, suaranya lantang. Ia bicara tentang bahaya kebodohan dan pentingnya ilmu. Sesekali ia mengutip ayat, tetapi tak jarang keliru. Anehnya, ia begitu percaya diri. Bahkan ia sempat menyinggung, “Banyak orang di sini hanya ikut-ikutan ustaz, padahal ilmunya dangkal.”
Ucapan itu membuat sebagian penonton terperanjat. Namun, Karman terus berapi-api, merasa sedang memukau.
Di luar dugaan, ketika dewan juri mengumumkan hasil lomba, Karman tak masuk daftar juara. Ia murka. “Ini konspirasi! Mereka takut mengakui kepintaranku!” teriaknya di depan orang banyak. Warga hanya saling pandang, sebagian menggeleng, sebagian berbisik lirih.
Malam itu, Karman pulang dengan hati penuh amarah. Ia merasa ditindas, padahal sesungguhnya ia menindas dirinya sendiri dengan kesombongan.
Tahun-tahun berlalu. Musala itu semakin ramai, pengajian semakin hidup. Namun, nama Karman perlahan tenggelam. Orang-orang enggan lagi duduk bersamanya. Ia dijauhi bukan karena ilmunya, melainkan karena sikapnya yang selalu merendahkan.
Suatu malam, ia datang ke musala tanpa diundang. Rambutnya memutih, wajahnya keriput, langkahnya goyah. Jemaah terkejut melihatnya, sebab sudah lama ia tak pernah hadir.
Ia duduk paling depan, tepat di hadapan Ustaz Harun yang kini juga menua. Setelah pengajian usai, Karman berdiri. “Saudara-saudaraku,” suaranya bergetar, “aku ingin meminta maaf. Dulu aku sombong. Aku pikir aku pintar, padahal aku bodoh. Aku tersesat karena rasa ingin dipuji.”
Air matanya jatuh. Jemaah terdiam. Ada yang terenyuh, ada yang menahan senyum getir. Ustaz Harun mendekat, menepuk pundaknya. “Tobat selalu terbuka, Karman. Semoga Allah memberi ampunan.”
Malam itu, musala menjadi saksi sebuah pengakuan.
Namun, di balik itu, ada rahasia yang tak pernah diketahui jemaah. Beberapa pekan setelah peristiwa itu, seorang pemuda menemukan buku catatan lusuh di rumah Karman yang kosong. Di halaman-halaman berdebu, tertulis banyak kutipan ayat, hadis, dan catatan pengajian. Tetapi di baliknya ada coretan-coretan aneh:
“Aku harus lebih hebat dari ustaz.”
“Orang-orang bodoh, hanya aku yang benar.”
“Aku ingin dikenang, bukan karena ilmu, tapi karena aku pusat perhatian.”
Tulisan terakhir, dengan tinta merah yang sudah pudar: “Jika suatu hari aku kembali ke musala dan meminta maaf, itu hanyalah bagian dari rencanaku agar mereka mengingatku selamanya.”
Pemuda itu terdiam lama, bulu kuduknya merinding. Apakah Karman sungguh bertobat? Ataukah pengakuan maafnya hanyalah cara terakhir untuk memastikan dirinya dikenang?
Musala tetap berdiri. Jemaah tetap mengaji. Namun, bisik-bisik tentang Karman tak pernah berhenti. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












