Feature

Lembaga Pendidikan Muhammadiyah Cerme Satukan Langkah Layani Anak Disabilitas

55
×

Lembaga Pendidikan Muhammadiyah Cerme Satukan Langkah Layani Anak Disabilitas

Sebarkan artikel ini
Reynita Yuniarti Ningtiyas (kanan) sebagai narasumber Safari Visitasi Inklusi di SD Al-Islam Cerme, Rabu (28/1/2026) (Tagar.co/Mardiyana Zulifah)

Melalui Safari Visitasi Inklusi, SD Al-Islam Cerme menyatukan langkah lembaga pendidikan Muhammadiyah Cerme lintas jenjang dalam memperkuat layanan pendidikan bagi anak disabilitas.

Tagar.co — Upaya membangun pendidikan inklusif yang ramah dan tepat sasaran terus diperkuat SD Al-Islam, Cerme, Gresik, Jawa Timur, Rabu (28/1/2026). Sekolah ini menggelar Safari Visitasi Inklusi di Aula SD Al-Islam dengan menghadirkan pakar pendidikan inklusif dari Lembaga UPT IRC (Information and Resource Center) Kabupaten Gresik, Reynita Yuniarti Ningtiyas.

Kegiatan ini tidak hanya diikuti seluruh dewan guru SD Al-Islam, tetapi juga menjadi ruang sinergi lintas jenjang pendidikan Muhammadiyah di Kecamatan Cerme. Hadir perwakilan guru dari TK Aisyiyah 26, TK Aisyiyah 40, SMP Muhammadiyah 7, SMA Muhammadiyah 8, hingga SMK Muhammadiyah 3.

Kolaborasi ini menegaskan komitmen bersama Muhammadiyah dalam memperkuat layanan pendidikan inklusif secara berkelanjutan, dari pendidikan anak usia dini hingga menengah.

Acara dibuka oleh Kepala SD Al-Islam Cicik Indrawati yang menekankan pentingnya sensitivitas guru terhadap keragaman kondisi peserta didik. Menurutnya, setiap anak memiliki karakteristik unik yang membutuhkan pendekatan pembelajaran berbeda.

Baca Juga:  Dikelola Siswa, Zakat SD Al-Islam Terkumpul 288 Kg Beras dan Rp8 Juta

Dalam sesi utama, Reynita Yuniarti Ningtiyas menjelaskan bahwa disabilitas pada anak terbagi menjadi dua kategori, yakni disabilitas temporer yang masih memungkinkan perbaikan, dan disabilitas permanen yang bersifat menetap. Karena itu, identifikasi dini menjadi fondasi penting dalam menentukan strategi pembelajaran.

“Identifikasi awal itu harga mati. Misalnya anak dengan disleksia, mereka membutuhkan media khusus seperti tulisan bergaris agar proses belajarnya lebih mudah dan tidak menambah beban psikologis,” jelas Reynita.

Pemahaman tersebut diperkuat melalui praktik pengisian matriks identifikasi perkembangan, yang dipandu oleh praktisi pendidikan, Anjar. Ia menekankan bahwa diagnosis medis bukanlah label yang menstigma, melainkan peta bagi guru dalam merancang pembelajaran yang sesuai, khususnya pada jenjang sekolah dasar.

Dalam matriks tersebut, guru dilatih menggunakan simbol sederhana namun bermakna: tanda plus (+) untuk kemampuan yang sudah dikuasai, minus (–) untuk kemampuan yang belum muncul, dan bintang (*) untuk kemampuan yang belum konsisten.

Peserta dari berbagai AUM saat mengikuti Safari Visitasi Inklusi di SD Al-Islam Cerme, Rabu (28/1/2026) (Tagar.co/Mardiyana Zulifah)

Pembahasan kemudian mengerucut pada strategi intervensi bagi siswa dengan indikasi ADHD dan ASD (autisme). Reynita mengingatkan agar guru tidak terburu-buru memberikan terlalu banyak intervensi sekaligus.

Baca Juga:  Menjemput Impian ke Baitullah, 128 Siswa SD Al-Islam Manasik Haji di Masjid Ahmad Dahlan

Jika hasil identifikasi menunjukkan banyak aspek yang belum berkembang, guru cukup memfokuskan intervensi pada tiga poin prioritas selama minimal tiga bulan.

Khusus dalam penanganan anak autis di kelas, pendekatan komunikasi menjadi kunci. “Instruksi harus fokus pada satu perbuatan. Jangan terlalu banyak kata, karena justru bisa membuat anak bingung,” tegasnya.

Diskusi semakin hangat saat Siti Fatimah mengangkat persoalan yang kerap dihadapi sekolah, yakni sikap penolakan atau denial dari orang tua terhadap kondisi anak. Solusi yang ditawarkan adalah melibatkan orang tua secara langsung dalam proses identifikasi melalui pengisian instrumen bersama-sama.

Namun, jika penolakan masih terjadi, sekolah tetap dapat memberikan pembelajaran reguler sesuai keinginan orang tua sebagai bentuk pembuktian objektif. Di saat yang sama, sekolah tetap dianjurkan menyarankan konsultasi ke dokter tumbuh kembang sebagai otoritas profesional.

Sesi tanya jawab ditutup dengan pertanyaan Nur Hidayati dari TK Aisyiyah 26 terkait penanganan speech delay. Dari diskusi tersebut, mengemuka satu benang merah: keberhasilan pendidikan inklusif hanya dapat dicapai melalui komitmen dan keselarasan antara sekolah dan orang tua.

Baca Juga:  Menyiapkan Puasa dengan Ilmu: Kajian Fikih Ramadan Wali Murid SD Al-Islam Cerme

Tanpa kerja sama yang sejalan, intervensi pendidikan tidak akan berjalan optimal.

Melalui Safari Visitasi Inklusi ini, SD Al-Islam bersama jejaring sekolah Muhammadiyah menegaskan langkah bersama dalam menghadirkan pendidikan yang adil, manusiawi, dan berpihak pada kebutuhan setiap anak. (#)

Jurnalis Mardiyana Zulifah Penyunting Mohammad Nurfatoni