Feature

Lazismu Gresik Gelar Kamil, Ini Targetnya

49
×

Lazismu Gresik Gelar Kamil, Ini Targetnya

Sebarkan artikel ini
Lazismu Gresik menggelar kegiatan Kelas Akselerasi Amil (Kamil) Batch 2 di TK ABA 42 GBA, Jumat-Sabtu (6-7/02/2026).
Abdul Rozak menyampaikan orientasi kepada amil Lazismu Gresik. (Tagar.co/Mustamiir Rosyidah)

Tagar.co – Lazismu Gresik menggelar kegiatan Kelas Akselerasi Amil (Kamil) Batch 2 di TK ABA 42 GBA, Jumat-Sabtu (6-7/02/2026). Kegiatan ini dirancang khusus sebagai upaya meningkatkan kapasitas dan kualitas para amil Lazismu dalam melayani umat.

Acara ini kelanjutan dari rangkaian Rakerda Lazismu Gresik 2026 yang sebelumnya telah dilaksanakan pada 31 Januari di TK ABA 36 PPI. Dalam sesi pembukaan, Abdul Rozak, S.Pd., M.Pd., dari Badan Pengurus Lazismu Gresik, memberikan orientasi sekaligus motivasi kepada peserta.

Ia mengawali arahan dengan doa yang biasa dipanjatkan setelah salat Subuh. “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amalan yang diterima.”

Menurutnya, doa tersebut adalah landasan amil dalam mengemban amanah dengan penuh keberanian dan wawasan.

Kenapa harus ada Kamil? Dia menjawab, karena di dalamnya mengandung makna akselerasi atau percepatan. Dia membedakan antara kecepatan dan percepatan.

“Kecepatan adalah gerak yang cenderung konstan. Namun, percepatan adalah perubahan gerak menjadi lebih dinamis dan terus meningkat. Saya ingin amil memiliki akselerasi dalam kapasitas dirinya,” tegasnya.

Baca Juga:  Target PDM Gresik: Satu Cabang, Satu AUM

Dia juga menyampaikan apresiasi tinggi karena target Lazismu Gresik tahun 2025 telah terlampaui. Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan di tahun 2026 akan semakin beragam.

Selain amil berperan sebagai pengelolaan zakat, Abdul Rozak menekankan amil juga turut menjaga amanah dan profesionalisme.

“Dunia sekarang menuntut akuntabilitas. Lembaga zakat adalah satu-satunya lembaga yang sangat disorot publik terkait transparansi keuangan,” katanya.

Jika kapasitas amil naik, maka amanah akan lebih terjaga. ”Kita bukan pebisnis yang mengejar modal uang untuk keuntungan pribadi, melainkan pengelola dana umat yang harus disalurkan dengan profesional,” tuturnya.

Ia merinci poin penting untuk meningkatkan kepercayaan muzakki (pembayar zakat). Muzakki tidak hanya pada internal tapi bisa merambah ke CSR (Corporate Social Responsibility).

Peserta Kelas Akselerasi Amil (Kamil) Batch 2. (Tagar.co/Mustamiir Rosyidah)

Standardisasi Amil

Selanjutnya adalah standarisasi kompetensi amil. “Faktanya, di awal kita mengurus Lazismu Gresik, kontribusi warga internal Muhammadiyah mungkin baru sekitar 6-7%. Justru melalui kanal digital, banyak donatur dari luar yang masuk. Ini tantangan bagi kita, bagaimana standar kompetensi amil kita diaukui melalui sertifikasi, sehingga kita benar-benar ahli di bidang ini,” ujarnya.

Baca Juga:  Kekuatan Kisah Nabi Muhammad, Penopang saat Hidup Terasa Berat

Abdul Rozak menjelaskan, tugas amil bukan hanya menyalurkan bantuan secara konsumtif yang menciptakan ketergantungan, tapi melakukan pendampingan dan edukasi, ini menjadi poin ketiga mengapa harus meningkatkan akselerasi Amil.

Sebagai amil kita harus melek regulasi dan isu terkini, ditambah ilmu mengenai fikih zakat, sehingga kita bisa menjawab tantangan di zaman modern ini.

Selain itu, manajemen dan administrasi, fundraising dan pemasaran, public speaking dan komunikasi, serta pemberdayaan ekonomi umat ikut andil dalam meningkatkan akselerasi amil.

“Fundraising bukan hanya soal bicara atau kirim pesan WhatsApp, tapi bagaimana membangun hubungan yang nyaman. Jangan sampai cara kita mengingatkan zakat justru membuat donatur merasa terganggu dan memblokir kita,” ujarnya.

Abdul Rozak juga mengingatkan para amil jika kapasitas yang dimiliki rendah, selain berurusan dengan hukum, risiko salah sasaran, amil dimanfaatkan, tujuan zakat tidak akan tercapai maksimal, dan hilangnya kepekaan sosial.

“Jangan sampai kita nyaman di atas dana umat tanpa adanya rasa empati,” terangnya.

Di tahun 2026 ini, Abdul Rozak mengajak para amil Lazismu Gresik untuk membangun komitmen dan standar layanan yang sama, dilakukan dengan tulus tanpa terpaksa.

Baca Juga:  Amil Lazismu Bukan Sekadar Kolektor Infak

“Amal yang baik adalah yang memenuhi dua syarat, paling ikhlas dan paling benar. Ikhlas secara hati, benar secara syariat,” tandasnya.  (#)

Jurnalis Dyah Faridatun NH  Penyunting Sugeng Purwanto