
Jawa Timur tumbuh di atas rata-rata, tapi siapa yang benar-benar merasakan nikmatnya? ICMI memberi pandangan kritisnya.
Oleh Ulul Albab; Ketua ICMI Jawa Timur
Tagar.co – Di penghujung 2025, saat banyak pemerintah daerah menutup tahun dengan deretan klaim keberhasilan, ICMI Jawa Timur memilih mengambil jarak sejenak untuk menimbang angka dan makna di baliknya.
Pada bulan Desember ini, ICMI Jatim merampungkan kajian tahunan atas kinerja Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada berbagai sektor strategis. Mulai hari ini, hasil kajian tersebut disajikan secara berseri kepada publik Jawa Timur sebagai bahan refleksi bersama atas arah pembangunan daerah.
Baca juga: Indonesia Emas 2045 dan Peran Strategis ICMI
Sektor pertama yang kami soroti adalah pertumbuhan ekonomi dan stabilitas makro, karena di sinilah fondasi kesejahteraan warga dibangun. Data resmi menunjukkan bahwa sepanjang 2025 Jawa Timur tidak hanya mengikuti arus nasional, tetapi pada beberapa indikator utama justru berada sedikit di atas rata-rata nasional.
Namun, keunggulan angka makro selalu menyimpan pertanyaan lanjutan: seberapa berkualitas pertumbuhan itu, dan siapa yang paling merasakannya?
Secara makro, ekonomi Jawa Timur sepanjang tiga triwulan utama 2025 tumbuh di kisaran 5 persen, sedikit lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional yang bergerak di rentang 4,9–5,0 persen pada periode yang sama (BPS). Konsistensi ini menegaskan posisi Jawa Timur sebagai salah satu motor utama perekonomian nasional, terutama dari luar Jakarta.
Penopang utama pertumbuhan tersebut masih sama seperti beberapa tahun terakhir, yaitu industri pengolahan, yang menyumbang sekitar 31 persen struktur PDRB Jawa Timur. Ketika aktivitas manufaktur nasional dan ekspor membaik, Jawa Timur memperoleh efek berganda yang signifikan.
Di saat yang sama, konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah daerah—terutama pada momen musiman seperti Idulfitri dan akhir tahun—memberi bantalan tambahan pada laju pertumbuhan (BPS; BI Jatim).
Dari sisi stabilitas makro, indikator ketenagakerjaan memberi sinyal relatif positif. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jawa Timur pada Februari 2025 tercatat sekitar 3,6 persen, lebih rendah dibanding rata-rata nasional. Ini mengindikasikan pasar kerja Jawa Timur relatif lebih mampu menyerap tambahan angkatan kerja.
Namun, kualitas pekerjaan tetap menjadi pekerjaan rumah, mengingat sebagian penyerapan masih terjadi di sektor informal dan pekerjaan berproduktivitas rendah.
Indikator kemiskinan juga bergerak ke arah perbaikan. Persentase penduduk miskin Jawa Timur pada Maret 2025 berada di kisaran 9,5 persen, melanjutkan tren penurunan. Angka ini patut diapresiasi, meski tetap menyisakan tantangan serius pada kelompok rentan di wilayah pedesaan dan kantong-kantong kemiskinan perkotaan.
Stabilitas harga relatif terjaga sepanjang awal hingga pertengahan 2025. Inflasi Jawa Timur berada pada level rendah dan terkendali, sejalan dengan kondisi nasional, memberikan ruang bagi daya beli riil masyarakat dan stabilitas iklim usaha.
Bank Indonesia mencatat pengendalian inflasi pangan dan energi menjadi faktor penting dalam menjaga momentum pertumbuhan di daerah berbasis industri dan perdagangan seperti Jawa Timur.
Pada sisi investasi, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) di Jawa Timur menunjukkan tren peningkatan secara triwulanan. Meski demikian, laju investasi Jawa Timur pada periode tertentu masih berada di bawah percepatan investasi nasional yang sempat menguat.
Artinya, modal terus masuk, tetapi percepatan investasi berkualitas—terutama yang berdampak pada perluasan lapangan kerja formal dan penguatan rantai nilai lokal—masih perlu didorong lebih agresif.
Penilaian ICMI Jawa Timur
Berdasarkan komparasi indikator utama—pertumbuhan ekonomi, stabilitas harga, ketenagakerjaan, kemiskinan, dan investasi—ICMI Jawa Timur menempatkan Sektor Pertumbuhan Ekonomi dan Stabilitas Makro pada 2025 dalam kategori: Prestasi Tinggi (dengan catatan strategis).
Predikat ini diberikan karena Jawa Timur mampu menjaga pertumbuhan di atas rata-rata nasional, dengan stabilitas makro yang relatif baik. Namun, ICMI menekankan tiga agenda lanjutan:
-
Percepatan investasi berkualitas dan padat karya.
-
Perluasan lapangan kerja formal.
-
Penguatan ketahanan ekonomi wilayah agraris dan non-perkotaan.
Angka memberi kabar baik, tetapi kebijakanlah yang menentukan apakah kabar itu berubah menjadi kesejahteraan yang dirasakan luas. Jawa Timur memiliki modal kuat pada 2025; tugas berikutnya adalah memastikan pertumbuhan itu benar-benar inklusif dan berkelanjutan. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












