
Attar tidak suka ribut, tidak suka bermain, dan tidak suka banyak orang. Tetapi ia menyimpan satu rahasia besar: luka kecil yang mengubah seluruh dunia kanak-kanaknya.
Cerpen oleh Nadhirotul Mawaddah; Guru TK IT Handayani Menganti, Gresik, Jawa Timur
Tagar.co — Attar, anak laki-laki berkulit putih itu berjalan perlahan ke arah saya. Setelah bersalaman, saya memintanya melepas sepatu dan meletakkannya di rak sepatu yang bertuliskan namanya.
“Ayo, Attar, lebih cepat sedikit, ya,” pinta saya. Suara saya seperti alarm baginya. Jika tidak ada aba-aba dari saya, dia akan tetap berdiri mematung di depan rak sepatu. Begitulah kebiasaan unik Attar setiap pagi yang mengharuskan saya mendampinginya dengan sabar.
Tidak berhenti sampai di situ, saat masuk kelas, Attar hanya akan berdiri di depan pintu dan diam, mengamati tingkah teman-temannya yang sudah lebih dulu berada di ruangan. Dia baru berjalan menuju tempat penyimpanan kotak bekal setelah saya memintanya.
Baca juga: Lea dan Bintang Pink
Attar, anak yang suka menyendiri. Dia tidak suka bermain dengan teman-temannya, tidak suka berbicara dengan orang lain, dan tidak suka melakukan apa pun yang membuat dia harus berinteraksi dengan orang lain. Dia lebih suka menghabiskan waktu sendirian, duduk di pojok kelas, berbaris di belakang, atau bermain sendiri.
Saat circle time, Attar lebih suka berada di belakang barisan temannya daripada bergabung membentuk lingkaran.
“Ayo, Attar, gandeng tangan temannya.” Mendengar perintah itu, Attar tidak langsung bergerak. Dia akan melihat situasi terlebih dahulu. Tangannya akan dia ulurkan jika dirasa teman yang akan dia gandeng bisa membuatnya nyaman. Jika tidak, dia lebih memilih untuk mundur.
Selama kegiatan belajar, Attar hanya diam dan mengamati sekeliling. Tidak ada suara, tidak ada dialog, apalagi canda tawa. Dia lebih suka memandang teman-temannya yang sedang bermain dan tersenyum sekilas saat melihat tingkah mereka.
Hal yang sama juga terlihat saat kegiatan makan bekal. Attar selalu memilih duduk di tempat paling ujung, memakan bekal dengan perlahan hingga tuntas tanpa berinteraksi dengan teman-teman yang lain. Saat anak yang lain berceloteh tentang bekal mereka, Attar memilih diam dan menikmati makanannya.
Satu bulan berlalu, sikap Attar masih sama. Saya mencoba membuatnya bisa bermain dengan teman-temannya, tetapi Attar hanya menggelengkan kepala dan pergi.
“Attar mau bermain dengan Rena?” tanya saya suatu hari. Tidak ada jawaban dari mulut Attar, tetapi perlahan dia bergerak mengikuti langkah saya mengambil lego untuknya.
“Main bersama Rena, ya.” Saya tinggalkan dia bersama Rena. Begitu kembali ke kelas, saya melihat Attar sudah berpindah tempat. Tidak lagi bersama Rena. Dia kembali asyik dengan dunianya sendiri.
##
Tiga bulan berselang, saat sesi diskusi bersama orang tua pada kegiatan pembagian laporan asesmen, saya mengutarakan hasil pengamatan tentang Attar kepada orang tuanya.
Namun, saat saya berbincang dengan orang tua Attar, saya dibuat terheran-heran oleh tingkah Attar. Dia berlarian ke sana kemari, melompat, dan bercanda lepas dengan adiknya di hadapan saya.
“Iya, Ustazah, Attar memang seperti ini, banyak tingkahnya,” kata Ayu, mama Attar. Namun, Ayu mengisahkan kejadian yang pernah dialami Attar saat bermain bersama anak tetangganya.
“Dulu dia anak yang sangat aktif, tetapi suatu ketika ada salah satu tetangga marah besar kepada Attar karena ada kejadian yang tidak menyenangkan pada anaknya saat bermain dengan Attar. Sejak itu Attar berubah drastis,” kisah Ayu.
“Di rumah dia baik-baik saja, Ustazah, tetapi ketika di luar rumah dia akan berubah menjadi pendiam dan tidak banyak tingkah,” tutur Ayu.
Attar rupanya memiliki trauma bermain bersama anak seusianya. Menjaga jarak dengan teman-temannya adalah cara Attar membentengi dirinya agar tidak terluka.
Sebagai guru kelasnya, saya berusaha menyembuhkan luka itu perlahan, sedikit demi sedikit. Memberinya rasa aman ketika dia beraktivitas, memberinya dukungan, dan mendampinginya saat dia belajar bekerja sama dengan teman-temannya.
Kini, Attar mulai membuka diri. Senyumnya mulai merekah dan rasa percaya dirinya kembali tumbuh. Attar tidak lagi tenggelam dalam dunianya sendiri. Attar, anak kecil yang suka menyendiri itu, telah menemukan kembali senyumnya, meninggalkan kesendirian yang selama ini membelenggunya.
Dari kisah Attar, saya belajar bahwa setiap anak memiliki perjuangannya sendiri. Cinta dan kesabaran berhasil menuntunnya mengatasi ketakutan dan menemukan kembali kebahagiaan. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












