
Dalam Islam, menjaga tubuh bukan sekadar urusan dunia, melainkan bentuk ketaatan kepada Allah. Dari pola makan hingga olahraga, setiap upaya menjaga kesehatan bisa bernilai ibadah jika diniatkan dengan benar.
Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang.
Tagar.co – Menjaga kesehatan sejatinya bukan sekadar upaya duniawi, melainkan bagian dari ketaatan kepada Allah. Tubuh yang kuat, pikiran yang jernih, dan jiwa yang tenang adalah prasyarat untuk beribadah dengan sempurna.
Maka setiap gerak yang diniatkan untuk merawat tubuh, memilih makanan halal lagi baik, dan berolahraga dengan niat menguatkan diri agar bisa beribadah lebih baik, semua itu bernilai ibadah di sisi Allah.
Menjaga kesehatan adalah wujud syukur atas nikmat tubuh yang Allah titipkan. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (Al-Baqarah: 195)
Ayat ini bukan hanya larangan untuk berbuat maksiat atau nekat dalam bahaya, tetapi juga peringatan halus agar kita tidak menelantarkan tubuh.
Baca juga: Menjaga Martabat di Tengah Fitnah
Ketika seseorang lalai menjaga kesehatan, makan sembarangan, malas bergerak, dan mengabaikan istirahat, sebenarnya ia sedang menjatuhkan diri ke dalam kehancuran yang pelan tetapi pasti.
Rasulullah Saw. juga memberikan penegasan yang mendalam tentang nilai kesehatan. Beliau bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya: kesehatan dan waktu luang.” (Bukhari)
Hadis ini menggambarkan betapa sering manusia baru menyadari nilai kesehatan setelah kehilangan. Padahal, tubuh yang sehat adalah sarana untuk sujud lebih lama, membaca Al-Qur’an dengan khusyuk, berpuasa dengan ringan, dan bekerja dengan niat mencari rida Allah.
Islam tidak memisahkan antara urusan dunia dan akhirat. Bahkan dalam hal makan dan minum, Allah memerintahkan keseimbangan. Firman-Nya:
كُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Al-A‘raf: 31)
Kesehatan lahir sangat dipengaruhi oleh apa yang kita masukkan ke dalam tubuh. Makanan halal lagi thayyib (baik, bergizi, bersih) bukan hanya syarat jasmani, tetapi juga kunci kebeningan batin.
Makanan yang baik menumbuhkan energi untuk kebaikan, sementara makanan haram atau berlebihan bisa menumpulkan nurani. Karena itu, Rasulullah Saw. senantiasa mengingatkan umatnya untuk memperhatikan asal-usul makanan dan cara mengonsumsinya.
Menariknya, Islam tidak hanya menganjurkan apa yang dimakan, tetapi juga bagaimana caranya makan. Dalam sebuah hadis diriwayatkan, Rasulullah Saw. bersabda:
مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ، فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ، وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ، وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ
“Tidak ada bejana yang lebih buruk yang diisi oleh manusia daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suapan untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak bisa, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara.” (Tirmizi)
Prinsip sederhana ini adalah panduan emas bagi umat Islam dalam menjaga pola makan. Disiplin terhadap perut adalah bentuk ibadah tersembunyi yang memelihara keseimbangan fisik dan spiritual.
Selain makanan, olahraga juga merupakan bagian dari sunah kehidupan Rasulullah Saw. Beliau mendorong umatnya untuk kuat dan aktif. Dalam hadis disebutkan:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah.” (Muslim)
Kekuatan yang dimaksud tidak hanya dalam hal iman, tetapi juga fisik dan mental. Seorang mukmin yang sehat akan lebih tangguh menghadapi ujian, lebih produktif dalam bekerja, dan lebih ringan menolong sesama.
Berolahraga dengan niat menjaga amanah tubuh termasuk dalam kaidah al-wasā’il lahā aḥkām al-maqāṣid — “sarana mengikuti hukum dari tujuannya.” Jika niatnya untuk ibadah, maka olahraga pun menjadi ibadah.
Menjaga kesehatan adalah cermin kesadaran spiritual. Ketika seseorang mencintai Tuhannya, ia akan menghargai tubuh yang diciptakan dengan sempurna. Allah berfirman:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (At-Tin: 4)
Bentuk yang terbaik itu perlu dirawat, bukan diabaikan. Karena kelalaian terhadap tubuh sama saja dengan mengkhianati amanah. Tubuh adalah kendaraan jiwa dalam perjalanan menuju Allah. Jika kendaraan rusak, maka perjalanan pun terhambat.
Rasulullah Saw. juga pernah berdoa dengan kalimat yang sangat menyentuh:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
“Ya Allah, aku memohon ampunan dan kesehatan di dunia dan akhirat.” (HR. Tirmizi, No. 3481)
Beliau tidak hanya memohon ampunan, tetapi juga ‘afiyah — kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan. Artinya, kesehatan adalah bagian dari doa utama seorang mukmin.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan bukan hanya tentang tubuh yang bugar, tetapi tentang kesadaran untuk hidup sesuai fitrah. Kesehatan adalah alat, bukan tujuan; wasīlah untuk beribadah lebih ikhlas, lebih banyak bersujud, dan lebih panjang dalam ketaatan.
Maka, makanlah yang baik, gerakkan tubuh dengan niat ibadah, dan rawat diri sebagai bentuk syukur atas nikmat yang besar ini. Sebab, orang yang sehat akan lebih mudah tersenyum, lebih ringan beramal, dan lebih dalam mensyukuri hidup. Itulah ibadah yang tidak selalu terlihat dari sajadah, tetapi terasa dalam setiap tarikan napas yang dijaga karena Allah. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












