
Kecerdasan buatan (AI) tidak pernah berbohong. Tapi AI bisa membuat kebohongan terlihat seperti kebenaran. Sebab AI tidak punya nalar dan moral.
Oleh Adistiar Prayoga, penulis tinggal di Surabaya.
Perkembangan pesat kecerdasan buatan (artificial intelligence – AI) dewasa ini, perlu disikapi dengan bijak. Karena, kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan untuk membangun sekaligus menghancurkan kehidupan.
Dari sisi pemikiran, kecerdasan buatan pada dasarnya terlahir sebagai filsafat. Bukan sekedar teknologi. Jika ditilik ke belakang, René Descartes (1596–1650), yang dikenal sebagai Bapak Filsuf Modern, di era mekanika awal pernah melempar pertanyaan, “Apakah mesin bisa berpikir dan menirukan gerakan manusia sempurna?”
Diskusi tersebut dilanjutkan oleh Alan Turing (1912–1954), cendekiawan Inggris yang dikenal menulis makalah legendaris bertajuk Computing Machinery and Intelligence (jurnal Oxford, Mind Volume 59, Issue 236, Oktober 1950) yang mengajukan pembahasan menggelitik, “Bisakah mesin menipu manusia, bahwa dirinya adalah manusia?”
Lonjakan pemanfaatan kecerdasan buatan terjadi pada 2012. Kala itu, Geoffrey Hinton berhasil membuat inovasi pengenalan gambar melalui pengembangan deep learning, teknologi yang meniru cara otak manusia belajar.
Caranya dengan memanfaatkan data super banyak dari internet (miliaran foto), kartu pemroses grafis yang super cepat, dan algoritma jaringan yang yang dalam (lapisan demi lapisan seperti otak manusia.
Hasilnya? Teknologi ini membuat komputer mampu mengenali beragam jenis hewan, kendaraan, atau wajah manusia dengan akurasi yang luar biasa.
Perkembangan selanjutnya datang pada 2017 yang ditandai dengan munculnya BERT, GPT-3, hingga ChatGPT (yang pada 2022 mencatat rekor 100 juta pengguna dalam dua bulan).
Disusul DALL·E, Midjourney, dan Sora yang mampu menciptakan gambar serta video dari teks semata.
Manfaat dan Bahaya
Pada 2025, AI telah bermetamorfosis menjadi multimodal (mampu memahami input beragam data seperti teks, gambar, dan sebagainya), ditandai dengan model seperti Grok 4, Gemini 2.5, dan Claude 3.5.
Platform-platform ini mampu melihat, mendengar, berbicara, bahkan bertindak otonom layaknya agen cerdas.
Akibatnya, muncul pula beragam asisten pribadi cerdas berbasis robotika seperti Tesla Optimus, serta model open-source lain yang mampu melakukan tugas berbahaya, membosankan, atau berulang.
Mulai dari menjalankan mobil secara otomatis, mengangkat barang berat, menyapu lantai, hingga melayani pembuatan makanan dan minuman
Namun demikian, di lautan inovasi teknologi itu, mengintai tantangan berat. Di antaranya (1) deepfake, kebohongan yang terlihat nyata. (2) bias algoritma, keputusan atau hasil yang tidak adil, bahkan diskriminatif terhadap kelompok tertentu. (3) ancaman pengangguran massal karena beberapa profesi digantikan mesin, disrupsi.
VIDA Fraud Intelligence Report (2025) menyatakan bahwa terjadi kenaikan 1.550 persen pada kasus penipuan deepfake di Indonesia sepanjang 2022–2023.
Ini termasuk face swap (teknik AI yang memungkinkan tukar wajah melalui foto atau video) untuk pemalsuan identitas. Tren berlanjut ke 2024–2025 dengan lonjakan serupa di Asia Pasifik.
Berdasarkan Otoritas Jasa Keuangan (2024), kerugian perbankan di Indonesia akibat penipuan digital diperkirakan mencapai Rp2,5 triliun sepanjang 2022–2024.
Selain itu, di tengah euforia Timnas Indonesia lolos ke putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026, terjadi trend pada fans muda (terutama remaja perempuan), menggunakan AI untuk “bertemu” idola mereka secara virtual.
Mereka mengambil foto diri sendiri, lalu menukar wajah ke foto pemain favorit seperti Justin Hubner, Rizky Ridho, Sandy Walsh, atau Calvin Verdonk yang diambil dari pertandingan atau media sosial resmi.
Hasilnya, muncul gambar dan video pendek yang menunjukkan seolah-olah mereka berpelukan di pinggir lapangan, berciuman usai gol, atau bahkan pose mesra di lorong pemain. Semuanya palsu, dibuat dalam hitungan detik.
Insecure
Belum lagi bias algoritma. Munculnya filter “cantik” pada aplikasi Tiktok, Instagram, dan SnapChat melahirkan bias persepsi terkait standar kecantikan.
Kulit putih, wajah tirus, dan mata besar adalah standar cantik yang disahihkan algoritma dan berpeluang menghasilkan engagement (suka, komentar) yang tinggi.
Hal ini memicu insecure (tidak percaya diri) pada generasi muda.
Hasil riset Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (2024) menyatakan 79,5% remaja Indonesia (usia 13–17 tahun) mengakses internet setiap hari, dan sekitar 70% di antaranya secara rutin menggunakan filter kecantikan pada aplikasi seperti TikTok, Instagram, dan Snapchat untuk meningkatkan rasa percaya diri saat bersosial media.
Kondisi semakin bias, ketika iklan produk pemutih masuk ke rekomendasi pengguna media sosial. Selain itu, data google trends Indonesia dengan keyword “cara memutihkan kulit” naik 200%.
Bias juga terjadi pada beragam konten politik yang memecah etnis. Misalnya, algoritma TikTok lebih sering menampilkan video SARA bagi pengguna dari kelompok mayoritas.
Kasus ini terlihat saat Pemilu 2024, di mana hoaks etnis lebih viral ke audiens tertentu.
Kemudian, terkait tantangan hilangnya pekerjaan rutin dan berulang. Seperti, tergantikannya call center oleh kecerdasan buatan seperti voiceboot maupun chatboot.
Petugas data entry yang digantikan otomasi. Pembuatan konten jurnalistik dan desain grafis yang memanfaatkan AI juga dapat mengurangi jumlah karyawan atau gaji dengan dalil efisiensi.
Serta pekerjaan kurir atau driver, saat ini sudah bisa diwakili oleh robot berbasis kecerdasan buatan.
Semua kondisi di atas meninggalkan pertanyaan mengusik. Akankah AI menjadi cermin terbaik umat manusia, atau justru bayangan gelap yang kita ciptakan sendiri untuk mempercepat datangnya badai pascakebenaran (post-truth)?
Memperkuat Pascakebenaran
Pascakebenaran (Post-Truth) merupakan konsep yang diperkenalkan Steve Tesich dalam esai berjudul A Government of Lies (Pemerintahan Kebohongan), dipublikasikan majalah The Nation pada 6 Januari 1992.
Artikel tersebut merupakan refleksi kritis tentang kondisi sosial-politik Amerika yang telah memasuki era di mana kebenaran objektif tidak lagi menjadi prioritas utama.
Posisinya digantikan oleh kenyamanan emosional dan kepatuhan kolektif terhadap narasi yang ingin dimenangkan oleh sekelompok pemilik kekuasaan.
Tesich melihat ini sebagai pilihan sadar masyarakat bebas, yang ironisnya justru mengancam demokrasi itu sendiri.
Pada 2016, Oxford Dictionaries menobatkan post-truth sebagai Kata Tahun Ini, karena sering digunakan orang pada 2016.
Di Indonesia, fenomena ini juga terlihat jelas dalam kegiatan politik. Dimana hoaks dan narasi emosional (misalnya isu SARA) lebih memengaruhi opini daripada fakta.
Media sosial memperburuknya karena menggunakan pendekatan anonim sehingga mudah memunculkan provokasi berbasis kebencian.
Efendi Ghozali, pakar komunikasi politik Universitas Indonesia, menyebut era ini menghasilkan “kebenaran orang lain, kebenaran kita, dan pembenaran” yang melenyapkan objektivitas.
McIntyre dalam bukunya Post-Truth (2018), mengatakan bahwa era pascakebenaran tidak dapat dimaknai bahwa kebenaran telah mati.
Bukan juga kondisi ketika orang tidak lagi peduli kepada kebenaran. Tapi, munculnya masyarakat yang tidak lagi menyakini sesuatu berdasarkan fakta.
Mereka dikendalikan oleh informasi yang disajikan menarik dan berulang meskipun tanpa bukti nyata.
Jika dikaitkan dengan kecerdasan buatan (AI), teknologi ini pada dasarnya dapat membentuk, memperkuat, bahkan mempercepat era pascakebenaran.
Bukan karena AI pandai “berbohong” secara sadar, tetapi karena cara kerja, penggunaan dan dampak AI di dunia informasi. AI tidak pernah berbohong. Tapi AI bisa membuat kebohongan terlihat seperti kebenaran.
Etika
Pascakebenaran adalah era dimana orang-orang “waras” harus mampu berperang melawan fakta, bukan berperang melawan kebenaran.
Kecerdasan buatan hendaknya dimanfaatkan secara bijak dengan etika, transparansi, dan pendekatan edukatif.
Dari sisi etis personal, kita dituntut untuk mulai peduli dengan data pribadi (jangan mudah membagikan identitas dan peka terhadap privasi), cerdas dalam menerima menerima informasi (cek kebenaran karena informasi yang viral belum tentu benar), serta manfaatkan AI untuk mengenali kebenaran (bukan malah dikendalikan).
Dari sisi etis sosial setidaknya kita perlu mawas diri sebelum bertindak. Sebagai alat bantu, kita dapat bertanya kepada diri sendiri Ketika menggunaka AI:
(a) Apakah ini akan melanggar privasi orang lain?
(b) Apakah kelak akan muncul risiko diskriminasi/pelecehan dari tindakan saya?
(c) Apakah penggunaan AI ini akan bermafaat bagi orang lain juga?
(d) Apakah saya mampu bertanggung jawab terhadap penggunaan AI ini?
(e) Apakah informasi yang disediakan AI didukung sumber yang kredibel? Karena AI hanya megumpulkan dan mengolah informasi yang tersedia. Jika informasi yang tersedia tidak lengkap, bisa maka jawaban AI juga tidak sempurna.
Terkait transparansi, AI memang bisa menghilangkan “Sumber Kebenaran” yang jelas. AI mampu membuat opini anonym yang bias, menciptakan gambar sesuai realitas, bahkan membuat video palsu seolah nyata.
Tapi AI juga dapat digunakan untuk mendeteksi deepfake (kita dapat memanfaatkan AI detector), AI juga menyediakan pengecekan secara cepat melalui penelusuran mendalam. Maka gunakan AI untuk pengecekan cepat, bukan sekedar penyusun konten.
Mintakan sumber yang valid dari AI. Jika AI memberikan informasi, tanyakan ke AI, “sumbernya apa?”. Kemudian lakukan verifikasi data, referensi, dan link yang diberikan AI. Pastikan informasi yang disajikan AI logis dan akurat.
Edukasi
Terkait edukasi, beberapa hal yang dapat dilakukan, (1) dampingi generasi muda agar cerdas menggunakan kecerdasan buatan. Katakan kepada mereka bahwa AI juga bisa salah jika informasi yang dipunya atau sesuatu yang diminta tidak menyeluruh.
(2) Ajarkan kepada anak untuk tetap jujur dan menjaga integritas, bahwa AI hanyalah alat bantu untuk menyelesaikan sesuatu, semua informasi AI harus diolah dan dicermati lagi.
(3) Gunakan AI sebagai sarana untuk memberikan manfaat kepada orang lain bukan alat untuk merugikan orang lain.
(4) Biasakan untuk menghormati privasi orang lain, jangan asal swap wajah, atau mengambil data dan informasi yang sifatnya pribadi tanpa seizin pemilik.
(5) Nyatakan sejujurnya jika memang konten dibuat oleh AI.
Terakhir, pada era pascakebanaran ini, pemerintah sebagai regulator perlu memberikan aturan tegas. Di lain sisi, setiap muslim dituntut untuk menghayati kembali firman Allah dalam surah Asy-Syams ayat 9-10
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotori jiwanya.”
Pada hakikatnya, Allah telah menganugerahkan nalar dan moral pada setiap jiwa. Keduanya tidak dimiliki AI.
Maka dari itu setiap muslim dituntut untuk menguasai AI secara bijaksana. Hanya dengan menyucikan jiwa dan memegang teguh nalar serta moral, kita mampu menavigasi badai pascakebenaran ini dengan selamat. Pintar teknologi, bijak manusiawi. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












