Feature

Kabar Duka dari Tanah Air, Tangisan Subuh di Tanah Haram

41
×

Kabar Duka dari Tanah Air, Tangisan Subuh di Tanah Haram

Sebarkan artikel ini
Suasana pagi dari kamar hotel

Subuh itu, suara tangis memecah lorong hotel di Makkah. Seorang sahabat kehilangan ibundanya di tanah air. Tak ada pelukan perpisahan, hanya doa yang mengiringi dari Tanah Suci.

My Journey on Hajj 2025 (Seri 9); Oleh Anandyah RC, S.Psi, Jemaah Haji KBIH Nurul Hayat Surabaya

Tagar.co – Pukul 03.20, 12 Juni, aku terbangun dari tidurku oleh suara tangisan. Terdengar dari lorong luar kamar—sangat keras dan menyayat hati. Kuberbisik kepada teman sekamarku yang juga terbangun, “Ada suara orang menangis. Siapa yang menangis?”

Temanku yang sudah bangun lebih dulu membisikkan kabar duka: ibunda teman sekamar kami meninggal dunia. Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn. Allāhumma’gfirlahā, warhamhā, wa‘āfihā, wa‘fu ‘anhā.

Mbak Umiyah, nama teman sekamarku itu. Tempat tidurnya persis di sampingku. Kemarin dia bercerita dengan sedih bahwa ibunya sedang sakit dan dirawat di RSU BDH Surabaya, sebelumnya juga sempat dirawat di sebuah RS Lamongan. Aku berusaha menghiburnya, menyarankan agar memperbanyak doa untuk kesembuhan sang ibunda, karena doa di Tanah Haram itu mustajab.

Baca juga: Tawaf Ifadah, Air Mata, dan Kisah Buku yang Menegangkan di Depan Ka’bah

Kadarullāh, pagi ini Allah berkehendak memanggil ibunda Mbak Umiyah. Semoga Allah menganugerahkan husnul khatimah untuknya, serta memberi keikhlasan, kelapangan dada, dan kesabaran bagi keluarga di Tanah Air—juga bagi Mbak Umiyah yang tidak bisa mendampingi ibundanya di saat-saat terakhir. Āmīn.

Baca Juga:  Dam Haji di Persimpangan: Antara Logika Negara dan Ketentuan Syariah

Aku bersyukur Allah mentakdirkanku sekamar dengan teman-teman yang baik. Usia kami tidak terpaut jauh, sehingga kami cepat beradaptasi. Satu orang kelahiran 1978, dua orang kelahiran 1977, dan satu lagi kelahiran 1976. Dua pekan bersama, rasanya seperti saudara. Saat Armuzna pun kami selalu bersama.

Mbak Umiyah, kesedihanmu adalah kesedihan kami juga. Dukamu adalah duka kami juga. Air matamu adalah air mata kami juga. Aku tahu bagaimana pedihnya hatimu. Aku pernah merasakan apa yang engkau rasakan sekarang—rasa yang masih menempel kuat di lubuk hatiku hingga detik ini. Semoga Allah menguatkan hatimu atas ujian ini, ya Mbak.

Hari ini, KBIH Nurul Hayat mengagendakan kunjungan ke Pasar Khakiyah dan Museum Al-Wahyu. Namun aku dan suamiku tidak ikut serta. Tubuhku belum sepenuhnya pulih, dan suamiku—ketua rombongan (karom)—mulai terserang demam.

Aku tidak ingin memaksakan diri. Maka, aku berdamai dengan diri sendiri untuk tetap tinggal di hotel dan beristirahat.

Kusuapi suamiku makan siang karena sejak pagi ia belum makan, tidak berselera. Kuberikan obat penurun panas. Kudekap dan kupeluk tubuhnya yang panas hingga ia tertidur. Hampir dua jam kutunggu di kamarnya. Alhamdulillah, saat terbangun, keadaannya sudah membaik.

Baca Juga:  Siar Ramadan di Masjid Nailur Roja Jatinom

Bertepatan dengan waktu asar, aku kembali ke kamarku—hanya selisih satu kamar dari kamar suamiku. Kuambil air wudu dan salat asar di kamar saja. Tak lama, Mbak Umiyah masuk kamar setelah sejak Zuhur berada di masjid. Alhamdulillah, dia tampak lebih tenang dan mulai bisa menerima kenyataan.

Sore hari, suamiku yang demamnya mulai turun, mengajakku ke restoran hotel untuk mengambil jatah makan malam jemaah Nurul Hayat di lantai 10. Karena ketua regu sedang mengikuti kegiatan KBIH, aku membantunya mengambil makanan.

Kami turun ke lantai R. Petugas PPIH meminta tanda tangan bukti penerimaan nasi kotak. Petugas lain mengambilkan 57 boks nasi lengkap dengan buah pir, dikemas dalam dua kantong plastik jumbo. Karena tubuh kami masih lemas, kami tidak menjinjing, melainkan menyeretnya pelan-pelan masuk ke lift. Kami bagikan makanan per kamar, lengkap dengan buahnya. Alhamdulillah, selesai.

Hotel terasa sepi. Selain karena banyak jemaah kloter awal yang sudah pulang ke Tanah Air, teman-teman kami yang sejak siang pergi ke Pasar Khakiyah dan museum belum kembali.

Baca Juga:  Fatwa Tarjih: Dam Bisa Disembelih di Tanah Air

Aku dan suami mencari suasana lain, duduk-duduk di lobi hotel. Pukul 17.00 suhu udara di luar masih terasa panas. Suamiku membatalkan niat untuk keluar karena udara panas terasa menyengat tubuhnya yang belum sehat.

Kami bersantai di sofa panjang. Kusembujurkan kedua kakiku, merasa rileks seperti di rumah sendiri.

Satu hal yang terlupa: camilan. Perut mulai terasa lapar. Aku mengenakan masker dan keluar ke toko sebelah hotel. Penjualnya orang Arab yang fasih berbahasa Indonesia dan banyak menjual produk Indonesia. Aku membeli pisang cavendish—1 kilogram isi 6 buah seharga 10 riyal. Kutambah dua bungkus biskuit buatan Indonesia. Total belanja 34 riyal.

Segera aku kembali ke lobi dan menikmati camilan bersama suamiku hingga waktu magrib.

Aku tidak ke masjid, melainkan salat Magrib di kamar agar bisa lebih cepat beristirahat karena tubuhku mulai terasa hangat lagi. Kuminum obat yang tersisa satu tablet, lalu berzikir menunggu teman-teman datang.

Alhamdulillah, pukul 20.30 mereka datang dengan wajah ceria. Biarpun tidak ikut jalan-jalan, aku ikut bahagia melihat keceriaan mereka. Melihat video yang dibagikan di grup membuatku senang. Bārakallāhufīkum, Bunda-bunda salehah. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni