
Dari dapur hingga pasar, seorang ayah belajar bahwa pekerjaan tidak punya jenis kelamin—dan Hari Ayah adalah pengingatnya
Oleh Pradana Boy ZTF; Kepala Biro SDM dan AIK, Universitas Muhammadiyah Malang; dan Asisten Penasihat Khusus Presiden Republik Indonesia Bidang Haji.
Tagar.co – Saya tidak terlalu menyadari bahwa 12 November kemarin adalah Hari Ayah. Kesadaran itu muncul setelah anak saya mengirimkan pesan singkat melalui telepon genggam: “Papa, selamat Hari Ayah. Terima kasih sudah menjagaku dari kecil hingga besar. Papa, makasih juga sudah mengurus dan mengantarku ke sekolah.” Pengirim pesan ini adalah anak saya yang masih duduk di sekolah dasar.
Baca juga: Ujian Tiga Saringan
Ungkapan polos itu membuat saya hanyut dalam keharuan, apalagi dalam kondisi saat ini. Saya bekerja di sebuah kota berbeda dari tempat keluarga tinggal. Senin hingga Jumat berada di Jakarta, sementara akhir pekan balik ke Malang untuk menengok keluarga.
Praktis, mengantar anak ke sekolah tidak lagi bisa saya lakukan, karena pada saat mereka sekolah, saya sudah berada di Jakarta. Menjaga anak-anak secara fisik pun tidak bisa dilakukan setiap saat. Sedih memang, tetapi inilah dinamika hidup yang harus dijalani. Saat saya tak di rumah, istri saya harus memainkan peran sebagai ibu dan ayah sekaligus.
Apakah Pekerjaan Memiliki Jenis Kelamin?
Hari Ayah dan situasi yang saya alami ini membawa saya pada refleksi tentang pekerjaan dalam rumah tangga. Refleksi itu bermula dari pertanyaan sederhana, bahkan mungkin terlihat iseng: Apakah pekerjaan memiliki jenis kelamin?
Meski terlihat sepele, saya kira Anda pun akan berpikir sama jika memperhatikan praktik sosial di masyarakat terkait pekerjaan dan gender.
Misalnya, masyarakat telah mengidentikkan memasak dengan perempuan. Maka, jika ada laki-laki yang memasak, hal itu dianggap kurang pantas. Sebagian masyarakat Jawa mungkin menyebutnya ora wangun (tidak semestinya).
Di pesisir utara Lamongan, tempat saya tumbuh besar, laki-laki yang memasak atau sibuk di dapur sering disebut cupar. Secara umum, kata ini mengacu pada hal-hal yang feminin, termasuk memasak. Jadi, laki-laki yang menyukai pekerjaan yang identik dengan perempuan kerap digunjing diam-diam oleh lingkungannya sebagai cupar.
Karena tumbuh dalam masyarakat dengan sistem sosial seperti itu, pada masa remaja, ketika mengetahui ada laki-laki menjadi tukang masak—misalnya di televisi, atau para penjual makanan di tenda-tenda maupun gerobak yang rata-rata laki-laki—pertanyaan yang sama muncul: “Laki-laki kok masak, ya?”
Selain memasak, pekerjaan lain yang diidentikkan dengan perempuan adalah belanja di pasar. Di sinilah saya mengalami peristiwa menarik beberapa waktu lalu di kampung kelahiran.
Suatu pagi, saat pulang mudik, anak saya kehilangan sandal. Tak tega membiarkan dia tidak beralas kaki, saya mengajaknya ke sebuah toko. Pagi masih buta, toko belum buka, dan kami harus menunggu beberapa saat.
Ketika toko buka, saya adalah pembeli pertama. Saat menunggu pemilik toko mengambilkan barang, saya merasa biasa saja. Tetapi begitu barang berada di tangan dan saya mulai melangkah pulang, saya kaget karena hampir semua mata memandang saya.
Apa yang aneh? pikir saya. Setelah beberapa saat, barulah saya menyadari: pembeli di toko itu semuanya perempuan. Saya adalah satu-satunya laki-laki yang membawa anak dan berbelanja di toko itu.
Jika orang-orang heran melihat laki-laki berbelanja, saya maklum, karena mereka adalah orang desa yang tidak pernah berdialektika dengan wacana kesetaraan gender atau kesalingan dalam rumah tangga. Namun, kadang ada juga kolega di kampus yang masih terperangkap pada paradigma cupar, seperti saya singgung sebelumnya.
Waktu Berkualitas untuk Keluarga
Karena saya hanya berada di rumah pada akhir pekan, saya berusaha menjadikan waktu itu berkualitas untuk keluarga. Misalnya, bersama istri jalan kaki di pagi hari ke pasar. Kadang saya sendiri, atau istri pergi sendiri, tergantung situasi.
Suatu ketika, saya bercerita kepada kolega di kantor bahwa saya memulai hari dengan belanja di pasar. Ia tidak langsung percaya, bahkan mungkin hingga sekarang masih tidak percaya.
Ia spontan berkomentar: “Mengantar istri belanja, maksudnya?” Saya katakan, bukan mengantar, tetapi saya sendiri yang berbelanja ke pasar dalam arti sebenarnya. “Ah, yang benar?”
Saya jelaskan, tidak hanya belanja, saya juga sering memasak, bergantian dengan istri, tergantung siapa yang punya waktu. Anak-anak mulai terbiasa melihat saya memasak, dan tak jarang secara spesifik meminta saya memasak menu tertentu.
Itu bagus, agar mereka punya wawasan dan pengalaman bahwa pekerjaan bisa dilakukan siapa saja, asal mampu. Pekerjaan tidak memiliki jenis kelamin.
Dalam hukum Islam, persoalan hubungan antarsesama manusia, atau lazim disebut muamalah, bersifat kontekstual dan dapat berubah sepanjang tidak menimbulkan madarat. Demikian juga dengan pekerjaan. Fleksibilitas bidang muamalah ini bisa dibaca sebagai cara Islam menyeimbangkan peran laki-laki dan perempuan.
Keluarga modern telah terbiasa dengan pembagian peran perempuan dan laki-laki, baik dalam konteks domestik maupun publik, dengan adanya unsur pertukaran. Itu sah dan diperbolehkan. Yang tidak boleh berubah dan dipertukarkan adalah hal-hal yang bersifat kodrati, yang memang sudah ditetapkan Sang Pencipta.
Artinya, perempuan dan laki-laki bisa mengerjakan pekerjaan apa pun sepanjang mampu dan secara sukarela berbagi pekerjaan untuk kebaikan bersama. Harus disadari, cara pandang bahwa pekerjaan memiliki jenis kelamin akan sulit beradaptasi dengan perubahan.
Zaman ini, kita melihat perubahan struktur sosial, termasuk soal pekerjaan. Pendidikan telah membuka ruang bagi perempuan dan laki-laki untuk memasuki pekerjaan yang sama.
Maka, masyarakat pun harus berubah. Tak perlu heran jika juru masak adalah laki-laki, sementara pilot atau sopir bus adalah perempuan. Laki-laki dan perempuan sama-sama bisa berperan di ruang publik maupun domestik.
Ucapan “Selamat Hari Ayah” dari anak saya seperti dikutip di awal tulisan ini sebenarnya tidak hanya tertuju pada saya, tetapi juga pada istri, karena “pekerjaan ayah” juga dia lakukan. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni









