
Pintar saja tak cukup. Muhammadiyah mengajarkan pentingnya guru yang membimbing dan metode yang benar dalam beragama. Jangan sampai pinter keblinger!
Jang Pinter Keblinger; Opini oleh Dwi Taufan Hidayat, Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Semarang.
Tagar.co – Dalam tradisi Islam, memiliki guru atau murabi (pendidik, pembimbing) adalah langkah penting dalam menjaga arah hidup dan pemahaman yang benar terhadap agama. Seseorang yang pintar dalam pengetahuan, tetapi tidak memiliki bimbingan yang benar, sering kali disebut sebagai pinter keblinger—berpengetahuan luas, tetapi tanpa fondasi spiritual dan akhlak yang kuat sehingga rentan salah arah.
Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang berorientasi pada tajdid (pembaharuan) dan pemurnian ajaran Islam memiliki pandangan yang sejalan mengenai pentingnya ilmu, guru, dan bimbingan dalam memahami agama.
Akan tetapi, Muhammadiyah juga menekankan pendekatan rasional, metodologis, serta pembelajaran berbasis Al-Qur’an dan Sunah, bukan sekadar mengikuti guru tanpa berpikir kritis.
Pentingnya Ilmu dan Guru dalam Islam
Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Allah Swt berfirman:
قُلْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui.” (An-Nahl: 43)
Ayat ini menegaskan pentingnya belajar dari mereka yang memiliki ilmu dan hikmah. Namun, pada era modern, ilmu tidak hanya didapatkan dari guru secara langsung (seperti dalam sistem halakah), tetapi juga melalui pendidikan formal, literatur yang sahih, serta teknologi yang memungkinkan akses ke sumber ilmu yang luas.
Muhammadiyah sebagai organisasi Islam memiliki ribuan sekolah, universitas, dan pusat studi yang mengajarkan Islam secara sistematis. Ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam harus berbasis metodologi yang jelas, bukan hanya berguru kepada individu tertentu tanpa mempertimbangkan validitas ilmunya.
Menuntut Ilmu dengan Metodologi yang Jelas
Dalam hadis disebutkan:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Dia akan memberikan kepahaman dalam agama.” (H.R. Bukhari, No. 71; Muslim, No. 1037)
Kepahaman agama bukan hanya soal berguru, tetapi tentang metodologi yang benar dalam memahami Al-Qur’an dan hadis. Muhammadiyah menerapkan Manhaj Tarjih, yaitu pendekatan ijtihad berbasis dalil yang kuat dan rasional dalam memahami ajaran Islam.
Allah juga berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu miliki pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.” (Al-Isra’: 36)
Ayat ini menekankan bahwa ilmu agama tidak boleh didasarkan pada taklid buta, tetapi harus dikaji secara ilmiah dan metodologis.
Menolak Kultus Individu dalam Menuntut Ilmu
Salah satu perbedaan mendasar Muhammadiyah dengan sebagian kelompok Islam lain adalah penolakannya terhadap kultus individu dalam keagamaan. Ulama dihormati sebagai pembimbing ilmu, tetapi bukan berarti harus diikuti tanpa berpikir kritis.
Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda:
تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ
“Aku tinggalkan dua perkara, kamu tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya.” (H.R. Malik, No. 1395)
Dengan demikian, ilmu harus didasarkan pada Al-Qur’an dan hadis, bukan hanya mengikuti seorang guru tanpa dalil. Muhammadiyah mengajarkan bahwa beragama harus berbasis ilmu dan nalar sehat, sebagaimana diajarkan oleh K.H. Ahmad Dahlan, “Kita harus kembali kepada Al-Qur’an dan hadis dengan akal yang sehat.”
Menjaga Keselamatan Akidah dengan Rasionalitas
Muhammadiyah menolak radikalisme dan liberalisme yang kebablasan dalam memahami Islam. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari (hati) manusia, tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga, ketika tidak ada lagi orang alim, manusia mengangkat pemimpin yang bodoh. Ketika mereka ditanya, mereka berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (H.R. Bukhari, No. 100; Muslim, No. 2673)
Oleh karena itu, Muhammadiyah menekankan pendidikan yang sistematis dan berbasis dalil, bukan sekadar mengandalkan sosok guru tertentu tanpa metodologi yang jelas.
Bergabung dengan Jemaah yang Berbasis Ilmu
Muhammadiyah menekankan bahwa umat Islam harus berada dalam komunitas yang memiliki sistem pendidikan agama yang kuat. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ، لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ وَلَا مَنْ خَذَلَهُمْ، حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ
“Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang menegakkan kebenaran, tidak akan membahayakan mereka orang-orang yang menghina atau menentang mereka hingga datang keputusan Allah.” (H.R. Muslim, No. 1920)
Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama adalah contoh organisasi Islam yang menjaga masyarakat dari perpecahan dengan pendidikan berbasis ilmu dan pembinaan akhlak.
Kesimpulan
- Menuntut ilmu tanpa guru berisiko, tetapi berguru tanpa berpikir kritis juga berbahaya.
- Ilmu harus diperoleh dengan metodologi yang benar, seperti yang diterapkan dalam Manhaj Tarjih Muhammadiyah.
- Menolak kultus individu dalam keagamaan karena Islam mengajarkan untuk berpikir kritis dan mengedepankan dalil.
- Menjaga akidah dengan pendekatan rasional berbasis Al-Qur’an dan hadis agar tidak terjebak dalam pemahaman yang salah.
- Bergabung dengan komunitas Islam berbasis ilmu, seperti Muhammadiyah dan NU, adalah langkah bijaksana untuk menjaga pemahaman agama yang lurus.
- Dengan demikian, kita tidak hanya menjadi pintar, tetapi juga bijaksana dan selamat dunia-akhirat.
Penyunting Mohammad Nurfatoni












