Feature

Isra Mikraj Dihidupkan lewat Puisi di MI Muhammadiyah 2 Campurejo

×

Isra Mikraj Dihidupkan lewat Puisi di MI Muhammadiyah 2 Campurejo

Sebarkan artikel ini
Khanza Inara Ahmad, siswa kelas 5 MI Muhammadiyah 2 Campurejo (Tagar.co/Nurkhan)

Lomba membaca puisi religi menjadi ruang belajar iman dan percaya diri bagi siswa MI Mutwo. Peringatan Isra Mikraj pun terasa lebih hidup, hangat, dan membekas.

Tagar.co — Udara pagi masih menyimpan kesejukan ketika halaman Madrasah Ibtidaiah Muhammadiyah 2 (MI Mutwo) Campurejo, Panceng, Gresik, Jawa Timur, mulai dipenuhi langkah-langkah kecil penuh semangat.

Senin (19/1/2026) menjadi pagi yang berbeda. Bukan sekadar hari belajar, melainkan momentum refleksi spiritual melalui peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad Saw. yang dikemas secara kreatif lewat lomba membaca puisi religi.

Baca juga: Dari Madrasah, Nurkhan Menulis Manusia: Resensi Buku-Buku Bekas Abdul Mu’ti

Sejak pukul 05.50 WIB, para siswa berdatangan dengan busana muslim putih bersih—rapi dan sederhana—menciptakan suasana sakral yang menyatu dengan nilai peristiwa agung Isra Mikraj. Senyum polos dan langkah percaya diri mengantar mereka menuju madrasah yang mereka cintai.

Kegiatan dibuka pukul 08.00 WIB dengan suasana khidmat. Guru dan siswa larut dalam penghayatan bahwa Isra Mikraj bukan sekadar kisah perjalanan Nabi, melainkan pesan tentang ketaatan, keimanan, dan shalat sebagai tiang kehidupan. Nilai-nilai itu kemudian dituangkan para peserta ke dalam bait-bait puisi yang dibacakan dengan penghayatan.

Baca Juga:  Salat, Transformasi Ritual Menjadi Peduli Sosial

Satu per satu siswa maju ke depan. Ada yang melafalkan puisi dengan suara lirih penuh rasa, ada pula yang menampilkan intonasi tegas dan ekspresif. Setiap penampilan menjadi saksi proses belajar anak-anak MI Mutwo dalam mengekspresikan iman, cinta kepada Rasulullah, serta pemahaman makna Isra Mikraj melalui bahasa sastra.

Muhammad Sultan Al Fatih, siswa kelas 6 MI Mutwo (Tagar.co/Nurkhan)

Sorot mata para guru dan wali murid tak lepas dari rasa bangga. Di tengah keterbatasan ruang, MI Mutwo terus menghadirkan pembelajaran bermakna—memadukan nilai agama, seni, dan pembentukan karakter.

Lomba puisi ini menegaskan bahwa pendidikan tidak selalu berlangsung di dalam kelas; ia dapat tumbuh dari panggung kecil dengan pesan besar.

Puncak perhatian penonton hadir saat Khanza Inara Ahmad, siswi kelas V, tampil membacakan puisinya. Dengan langkah tenang, ia berdiri di panggung sederhana madrasah. Ketika bait pertama dilantunkan, suasana mendadak hening. Artikulasi jelas, intonasi terjaga, dan ekspresi wajahnya menghidupkan setiap kata.

Penampilan Khanza terasa kian istimewa saat puisinya diiringi alunan musik lembut. Iringan tersebut menjadi jembatan emosi—menyatu dengan suara dan penghayatan—menciptakan harmoni sederhana namun memukau. Beberapa penonton tampak terdiam, larut dalam suasana. Tepuk tangan panjang pun pecah menandai kekaguman.

Baca Juga:  Menghidupkan Salat lewat 5M di Peringatan Isra Mikraj SD Al-Islam Cerme

Usai tampil, Khanza mengaku keberhasilannya berangkat dari latihan yang konsisten. “Saya latihan setiap sore setelah pulang sekolah. Kadang di depan cermin, kadang di depan ibu,” tuturnya sambil tersenyum.

“Awalnya grogi, tapi karena sering latihan dan dibimbing guru, saya jadi berani dan lebih paham makna puisinya,” tambahnya. Bagi Khanza, lomba ini bukan semata tampil di depan banyak orang, melainkan cara menyampaikan pesan kebaikan dengan sepenuh hati.

Mahira Hasna Kamila Putri El Abi, siswa kelas 2 MI Mutwo (Tagar.co/Nurkhan)

Puisi yang dibacakan Khanza berjudul “Gema Isra Mikraj”. Berikut teks lengkapnya:

Gema Isra Mikraj

Terdengar gemuruh di ujung sana
Lentera malam yang begitu indah
Mengelilingi kubah yang berdiri megah
Melantunkan gema Isra Mikraj yang bersejarah

Dengan kemuliaan panggilan Ilahi
Kau laksanakan perjalanan suci di malam hari
Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dengan malaikat Jibril menyertai
Inilah peristiwa 27 Rajab yang berarti

Menembus tujuh lapis langit dengan buraq yang ditumpangi
Melihat tanda-tanda kebesaran Sang Ilahi
Singgah di setiap lapis langit bertemu para nabi
Kaulah bagindaku yang paling suci

Baca Juga:  Tari Atuna Tufuli Murid ABA Melirang Semarakkan Acara Isra Mikraj

Ya Rasulullah, mereka bertanya
Bagaimana mungkin kau bisa ke Sidratulmuntaha?
Sedangkan di benak mereka tak masuk logika
Namun dengan iman, semua itu kuasa Sang Pencipta

Perjalanan malam yang menggetarkan
Shalat lima waktu yang diperintahkan
Peristiwa penting yang selalu diperingatkan
Inilah gema Isra Mikraj yang dirindukan

Ya Rasulullah, kusebut namamu sebagai tonggak Islam
Kebaikan dan keteladananmu yang harus kuimani
Keimanan dan keyakinan yang selalu menyertai
Dengan syafaatmu agar tidak tersesat di akhir nanti

Peringatan Isra Mikraj di MI Mutwe Campurejo pagi itu pun melampaui agenda tahunan. Ia menjelma ruang belajar kepercayaan diri, keberanian tampil, sekaligus penanaman nilai spiritual sejak dini. Dari halaman madrasah sederhana di pedesaan, pesan Isra Mikraj kembali digaungkan—lembut, jujur, dan penuh harapan. (#)

Jurnalis Nurkhan Penyunting Mohammad Nurfatoni