
Sebanyak 295 siswa SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (Almadany) mengikuti International Kangaroo Science Contest (IKSC) 2025. Melalui ajang ini, mereka belajar berpikir kritis, logis, dan ilmiah sejak dini.
Tagar.co — Kamis pagi (30/10/2025), udara sejuk memenuhi ruang-ruang kelas SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (Almadany), Kebomas, Gresik. Cahaya matahari menembus jendela besar, jatuh di meja-meja ujian yang telah tersusun rapi.
Di balik suasana tenang itu, puluhan siswa duduk dengan tekun mengerjakan soal International Kangaroo Science Contest (IKSC) 2025 yang diselenggarakan oleh Klinik Pendidikan MIPA (KPM).
Sebanyak 295 siswa dari kelas II hingga VI mengikuti ajang sains bergengsi ini. Di dinding kelas, hiasan warna-warni bertuliskan “Pohon Prestasi” tampak menghiasi ruangan—menjadi pengingat bahwa setiap usaha adalah bagian dari pertumbuhan.
Di atas meja, lembar soal dan alata tulis tertata rapi, sementara wajah-wajah serius anak-anak tampak berusaha memahami soal. Suasana hening, hanya terdengar gesekan pensil dan deru AC yang menjaga kesejukan ruangan.
Belajar Bernalar dari Kompetisi Internasional
Koordinator Bina Prestasi SD Almadany, Dwi Sarayustisia, S.Pd., menjelaskan IKSC merupakan kompetisi sains berbasis olimpiade internasional yang dirancang untuk memacu penemuan dan pengembangan kompetensi siswa di dunia global.
“IKSC berisi soal-soal sains yang dikembangkan oleh para ahli dan mencakup berbagai aspek ilmu pengetahuan yang terintegrasi dalam konteks ilmiah,” jelasnya.
Kepala SD Almadany, Lilik Isnawati, S.Pd., M.Pd., dalam sambutannya memberikan motivasi kepada para peserta.
“Kerjakan dengan sportif dan maksimal. Kompetisi seperti IKSC melatih siswa berpikir kritis, memecahkan masalah, dan menambah wawasan lewat soal-soal berstandar internasional,” ujarnya penuh semangat.

Lima Tujuan, Satu Semangat Ilmiah
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Maulidya Firdausi, S.Pd., yang turut memantau jalannya kegiatan, menjelaskan bahwa ada lima tujuan utama IKSC, yaitu:
-
Meningkatkan kemampuan siswa dalam bidang sains.
-
Mengembangkan penalaran, wawasan, dan kreativitas.
-
Membangun budaya kompetitif yang sehat dan sportif.
-
Menanamkan minat dan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan.
-
Mengukur kemampuan siswa secara internasional.
“Dengan demikian, IKSC tidak hanya menguji pengetahuan sains, tetapi juga mengasah kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa,” tegas Maulidya.
Antusiasme Anak-anak Almadany
Dalam ruang ujian, terlihat wajah-wajah kecil yang berpikir serius. Ada yang menunduk lama membaca soal, ada pula yang tampak tersenyum setelah menemukan jawaban.
Di antara mereka, beberapa siswa tampak menulis cepat, sementara yang lain berpikir sambil menggigit ujung pensilnya.
Abrisam Shiraz Al Fariq, siswa kelas II Ibnu Sina, mengaku senang mengikuti kompetisi ini. “Soalnya menantang, tapi ada terjemahannya, jadi bisa lebih mudah memahami,” ujarnya polos sambil tersenyum.
Dari ruang-ruang kelas yang dipenuhi kesungguhan itu, tersirat semangat belajar yang khas dari anak-anak Almadany: tenang, fokus, dan penuh rasa ingin tahu. Di balik setiap pensil yang menari di atas kertas, tersimpan tekad kecil untuk menaklukkan sains dengan cara yang menyenangkan. (#)
Jurnalis Eli Syarifah | Penyunting Mohammad Nurfatoni












