
Di hadapan 5.000 jemaah, Ustaz Nugraha Hadi Kusuma menyampaikan satu resep istikamah pascaramadan. Pesan yang menembus hati itu mengajak umat menjaga fitrah sepanjang tahun.
Tagar.co – Langit Asembagus pagi itu cerah dan bersahabat. Embusan angin lembut menyambut ribuan jemaah yang berdatangan sejak fajar ke Lapangan Pabrik Gula Asembagus, Situbondo, Jawa Timur. Mereka datang dari berbagai penjuru kecamatan, dengan membawa sajadah dan harapan—harap untuk kembali suci, kembali fitri, di hari kemenangan.
Senin, 31 Maret 2025, menjadi hari yang tak hanya mencatat momen salat Idulfitri, tapi juga sebuah pengalaman spiritual yang mendalam. Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Asembagus sukses menggelar Salat Idulfitri 1446 Hijriah dengan penuh khidmat. Sekitar lima ribu orang tumpah ruah memenuhi lapangan yang disulap menjadi hamparan ibadah.
Baca juga: Ujian di Medan Badar dan Ladang Puasa: Menempa Jiwa Mukmin Sejati
Yang istimewa, salat Idulfitri tahun ini dipimpin oleh Ustaz Nugraha Hadi Kusuma, Ketua Kwartir Pusat Hizbul Wathan sekaligus Ketua Divisi Kerja Sama Dalam Negeri Lembaga Kerjas Sama PWM Jawa Timur. Ia hadir tak hanya sebagai imam, tetapi juga sebagai khatib yang menyampaikan khotbah dengan suara teduh namun tajam menyentuh hati.
“Idulfitri bukan hanya tentang pakaian baru atau makanan lezat,” ujar Nugraha dalam khotbahnya. “Ini adalah saat untuk kembali ke fitrah—menjadi pribadi yang bersih, lebih baik, dan lebih dekat kepada Allah.” Ia mengingatkan bahwa hakikat kemenangan adalah keberhasilan melawan hawa nafsu dan konsistensi menjaga amal baik setelah Ramadan.
Khotbahnya mengalir dalam lima pesan utama. Ia membuka dengan seruan agar umat Islam tidak menjadikan Ramadan sekadar ritual tahunan. “Apakah dosa-dosa yang dulu kita tinggalkan tidak akan kita ulangi lagi? Ataukah kita akan kembali lalai setelah sebulan penuh berusaha memperbaiki diri?” tanyanya retoris.
Nugraha juga menyampaikan kisah seorang pemuda yang bermimpi tentang kematian dan tersadar dari kelalaiannya. Kisah itu menggugah banyak jemaah. Ia berkata, “Jangan tunggu mimpi atau musibah untuk menyadarkan kita. Hari ini adalah waktu terbaik untuk berubah.”
Khotbah kemudian beralih ke pesan sosial. “Idulfitri adalah momen untuk saling memaafkan,” ujarnya. Ia mengutip sabda Rasulullah Saw. bahwa tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.
Dalam konteks itu, dia mengajak jemaah untuk melebur ego, menundukkan gengsi, dan membuka hati. “Jika kita ingin Allah mengampuni dosa-dosa kita, maka kita pun harus memaafkan kesalahan orang lain,” ujarnya.
Tak hanya itu, ia juga mengingatkan pentingnya istikamah setelah Ramadan. Bagi Nugraha, bulan suci bukanlah titik akhir, melainkan gerbang awal menuju hidup yang lebih terarah. Ia menyebut, “Ramadan adalah sekolah. Lulusannya adalah mereka yang bisa terus menjaga salat berjemaah, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan melanjutkan puasa sunah.”
Namun, ia sadar bahwa tantangan sejati justru datang setelah Ramadan. “Gaflah, kelalaian hati, itu nyata,” ujarnya. Ia memaparkan bahwa ghaflah bisa menyerang siapa saja, dari yang terlalu sibuk bekerja hingga yang tenggelam dalam hiburan. “Jika tidak hati-hati, kita bisa berubah menjadi manusia yang hanya hidup seperti hewan ternak—makan, tidur, senang-senang, lalu mati,” katanya, mengutip ayat Al-Qur’an.
Untuk menghindari kelalaian, ia memberi resep: duduk di majelis ilmu, rajin berzikir dan doa, salat malam, hingga memperhatikan pergaulan. “Orang baik akan cenderung berkumpul dengan orang baik. Maka, pilihlah lingkungan yang mendekatkan kita pada Allah,” pesannya.
Di akhir khotbah, Nugraha memanjatkan doa yang membuat suasana hening. Banyak jemaah tampak menyeka air mata saat ia berucap lirih, “Ya Allah… jika hari ini Engkau berkenan mengabulkan satu doa kami, maka ampunilah kami sebelum datang hari di mana taubat tak lagi diterima.

Kerja Keras PCM Asembagus
Rangkaian salat Idulfitri yang berlangsung tertib dan penuh kekhusyukan ini tak lepas dari kerja keras panitia PCM Asembagus. Mulai dari pengeras suara, pengaturan barisan salat, hingga pembagian snack—semuanya disiapkan dengan rapi.
Ketua PCM Asembagus Agus Susanto, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak, termasuk manajemen Pabrik Gula Asembagus. “Semoga ibadah kita diterima oleh Allah Swt. dan semangat kebersamaan ini terus tumbuh setelah Ramadan,” ujarnya.
Usai salat, ribuan jemaah larut dalam pelukan dan jabat tangan. Suasana haru, damai, dan penuh kehangatan mewarnai pagi itu. Silaturahmi menjadi penutup yang manis, mencerminkan semangat ukhuwah Islamiyah yang dijunjung tinggi oleh Muhammadiyah.
Idulfitri di Asembagus bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi momentum untuk memperkuat kembali akar spiritual dan sosial. Di bawah langit biru dan di tengah gema takbir, masyarakat Muslim Asembagus menyatukan doa dan tekad: untuk menjadi insan yang kembali fitrah, dan tetap istikamah dalam kebaikan sepanjang tahun. (#)
Jurnalis Inayah Raihana Penyunting Mohammad Nurfatoni












