
HUT TCI (Tempeh Community Independent) berlangsung di bawah kebun bambu wisata Sumbertiyo. Asisten Sekkab Lumajang hadir menyampaikan tafsir primbon Jawa.
Tagar.co – Saat kaki Ir. Paiman menjejak tanah Wisata Alam Sumbertiyo, Ahad (27/7/2025), gamelan dari Sanggar Asmara Loka Jokarto menyambut langkahnya.
Lelaki paruh baya itu tersenyum lebar. Sorot matanya tenang, tatapannya hangat. Ia bukan sekadar Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekkab Lumajang hari itu. Ia hadir sebagai putra Tempeh yang pulang.
Sumbertiyo ramai. Di bawah rindangnya rumpun bambu, anak-anak muda Tempeh berompi hitam berlogo TCI lalu-lalang. Hari itu, Tempeh Community Independent (TCI) genap berusia satu tahun.
Mewakili Bupati Lumajang, Bunda Indah Amperawati, dan Wakil Bupati Mas Yudha Adji Kusuma yang berhalangan hadir, Ir. Paiman menyampaikan sambutan di bawah panggung utama.
“Salam dari Bunda Indah dan Mas Yudha,” ucapnya dengan intonasi santai. “Mereka berhalangan hadir, tapi titip doa dan bangga melihat anak-anak Tempeh bergerak seperti ini.”
Sebagai warga asli Desa Sumberjati, Kecamatan Tempeh, Ir. Paiman bukan orang asing bagi lingkungan itu.
Ia bagian dari sejarah desa. Maka ketika ia berkata, dirinya siap mendaftar sebagai anggota pertama dari desanya jika belum ada pemuda Sumberjati yang tergabung di TCI.
”Kalau belum ada wong Sumberjati yang gabung TCI, aku siap daftar nomer siji,” ujarnya disambut tepuk tangan dan tawa yang riuh.
Lantas Paiman usul agar HUT TCI secara budaya ditetapkan pada Minggu Kliwon, 7 Juli 2024 meskipun secara administratif legalitas akta organisasi dari Kemenkumham terbit pada Senin Pahing, 7 Oktober 2024.
Ternyata dia punya ilmu hitungan primbon Jawa. Menurut dia, weton Minggu Kliwon memiliki jumlah neptu 13. Angka yang pas dengan jumlah desa di Kecamatan Tempeh. ”Ini bukan kebetulan,” katanya.
”Perayaan kali ini juga jatuh pada Minggu Kliwon. Penuh makna. Jadikan ini pijakan budaya, bukan sekadar tanggal.”
Ia kemudian menyampaikan, TCI harus segera mendaftarkan organisasinya ke Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Lumajang.
”Bapake ben weruh anake, anake ben weruh nang bapake,” ucapnya.
Dia juga mendorong anggota TCI menanam bambu di kawasan wisata Sumbertiyo. Bambu bukan sekadar tanaman, tapi warisan budaya, penjaga sumber mata air, dan simbol keseimbangan alam.
”Bambu itu sakral. Bisa jaga sumber air, bisa rawat alam. Mari TCI turut melestarikan,” tuturnya.
Di tengah gemerisik dedaunan bambu yang teduh, kalimat Paiman mengingatkan masyarakat supaya menjaga keseimbangan alam. Tidak merusaknya. (#)
Jurnalis Kuswantoro, Firdaus Eko S. Penyunting Sugeng Purwanto













