
Dalam kegelapan malam perbatasan, Gajah Mada merancang strategi baru: sihir hitam dan pengkhianatan. Sementara itu, Benua Tamiang bersiap menghadapi ancaman yang tak terlihat.
Hantom Manoe (Seri 7): Rencana dalam Kegelapan; Cerbung oleh Dwi Taufan Hidayat
Tagar.co – Di dalam perkemahan Majapahit yang terletak di perbatasan, cahaya obor berkedip-kedip tertiup angin malam. Gajah Mada duduk di hadapan meja kayu yang dipenuhi gulungan peta dan laporan pertempuran. Wajahnya tetap dingin, tetapi matanya penuh bara dendam.
Di sekelilingnya, para panglima Majapahit yang tersisa menunggu arahan. Rakryan Tumenggung Anggabrata berdiri tegak, tangannya mengepal. Rakryan Nala Rengga, yang masih muda tetapi penuh ambisi, menatap Gajah Mada dengan penuh harap.
Baca Seri 6: Hantom Manoe: Dendam di Balik Kekalahan
“Kita tak bisa bertempur secara langsung dengan mereka lagi,” ujar Gajah Mada akhirnya. “Pasukan kita kehilangan banyak prajurit, dan mereka semakin kuat dengan kehadiran panglima-panglima sakti Aceh.”
“Tapi kita tidak akan menyerah, bukan?” tanya Rakryan Nala Rengga.
Gajah Mada menatapnya tajam. “Tentu saja tidak.”
Rakryan Tumenggung Anggabrata menarik napas dalam. “Lalu, apa rencana kita, Mahapatih?”
Gajah Mada menyeringai tipis. “Kita akan menggunakan apa yang tidak mereka duga… pengkhianatan dan sihir hitam.”
Para panglima saling pandang. Rakryan Tumenggung mengangguk pelan. “Kita punya beberapa orang dalam yang bisa kita manfaatkan. Dan aku mengenal seorang dukun dari tanah Pasundan yang mampu merapal sihir penghancur.”
Gajah Mada mengangguk puas. “Bawa dia ke sini. Aku ingin Benua Tamiang merasakan kengerian yang belum pernah mereka alami.”
Bayangan di Benua Tamiang
Sementara itu, di dalam istana Benua Tamiang, Raja Muda Sedia memandangi para panglima dan penasihatnya dengan wajah serius.
“Kita berhasil menahan serangan pertama Majapahit, tetapi aku yakin mereka akan kembali,” ucapnya.
Teuku Gantar Alam mengangguk. “Hantom Manoe masih lemah, tetapi dia akan pulih. Kami harus menjaga pertahanan sampai saat itu.”
Teuku Cindaku, yang duduk di sudut ruangan, bersuara pelan, “Aku mendengar kabar bahwa Majapahit mungkin akan menggunakan cara-cara kotor.”
Raja Muda Sedia menatapnya tajam. “Apa maksudmu?”
“Mata-mata kita melaporkan adanya pergerakan aneh di perkemahan Majapahit. Mereka mungkin merancang serangan yang bukan sekadar perang terbuka.”
Raja Muda Sedia menghela napas. “Kita harus siap menghadapi segala kemungkinan.”
Di luar istana, angin malam bertiup membawa firasat buruk. Di tempat yang lebih gelap, bayangan pengkhianatan mulai merayap masuk ke dalam Benua Tamiang. (#)
Bersambung pada seri ke-8: Pengkhianat di Tengah Kita
Penyunting Mohammad Nurfatoni








