
Di tengah luka dan racun yang belum reda, bayang-bayang balas dendam mulai menyelimuti malam. Gajah Mada merancang siasat baru—tak lagi di medan perang, tapi dalam kegelapan.
Hantom Manoe (Seri 6): Dendam di Balik Kekalahan; Cerbung oleh Dwi Taufan Hidayat
Tagar.co – Langit Benua Tamiang mulai meredup saat matahari tenggelam di ufuk barat. Sisa pertempuran masih terasa di udara—bau darah, daging terbakar, dan tanah yang bercampur dengan keringat para prajurit yang bertahan. Di kejauhan, pasukan Majapahit yang tersisa mundur perlahan, meninggalkan medan perang yang telah menelan ratusan nyawa.
Di sebuah tenda pengobatan di belakang garis pertahanan Aceh, Hantom Manoe terbaring lemah. Napasnya masih berat, efek racun yang disebarkan Gajah Mada belum sepenuhnya hilang dari tubuhnya. Teuku Gantar Alam dan Teuku Cindaku berdiri di sampingnya, menatap panglima mereka dengan wajah penuh kekhawatiran.
Baca Seri 5: Hantom Manoe: Perlawanan Terakhir
“Bagaimana keadaannya?” tanya Teuku Gantar Alam kepada tabib kerajaan.
Tabib itu menghela napas. “Racunnya kuat. Tubuhnya memang kebal terhadap senjata, tapi tidak terhadap racun yang diramu dengan sihir hitam Majapahit.”
Hantom Manoe membuka matanya perlahan, meskipun kelopak matanya terasa berat. “Aku belum mati,” gumamnya lemah.
Teuku Cindaku tersenyum tipis. “Tentu saja belum. Kami tak akan membiarkanmu mati di tangan Majapahit.”
Dendam yang Membara
Sementara itu, di sisi lain, pasukan Majapahit yang tersisa telah berkumpul di sebuah perkemahan darurat di perbatasan. Gajah Mada duduk di tengah-tengah para perwira yang tersisa, wajahnya penuh amarah.
“Kita sudah merencanakan ini dengan matang,” katanya dengan suara rendah tapi penuh tekanan. “Tapi kita kalah.”
Rakryan Tumenggung Anggabrata menundukkan kepala. “Pasukan Aceh lebih tangguh dari yang kita perkirakan, Mahapatih. Dan mereka mendapatkan bantuan tepat pada waktunya.”
Gajah Mada mengepalkan tangannya. “Bukan hanya itu. Hantom Manoe… pria itu terlalu kuat. Bahkan dengan racun, dia masih bisa bertahan.”
Sejenak, keheningan menyelimuti tenda pertemuan. Tak seorang pun berani berbicara.
Lalu, salah satu perwira muda, Rakryan Nala Rengga, angkat bicara. “Mahapatih, kita mungkin telah kalah di pertempuran ini. Tapi bukan berarti kita harus menerima kekalahan begitu saja.”
Gajah Mada menatapnya dengan tajam. “Maksudmu?”
“Masih ada cara lain. Jika kita tidak bisa menang dengan kekuatan di medan perang, kita harus mencari kelemahan mereka di luar pertempuran.”
Rakryan Tumenggung Anggabrata mengangguk, memahami maksud perwira muda itu. “Pengkhianatan dari dalam… atau serangan mendadak saat mereka lengah.”
Gajah Mada merenung. Matanya menyipit, penuh perhitungan. “Kita akan membuat mereka membayar harga yang lebih mahal dari yang mereka bayangkan.”
Ancaman yang Mengintai
Di dalam istana Benua Tamiang, Raja Muda Sedia duduk termenung di ruang pertemuan. Kemenangan mereka atas Majapahit memang mengesankan, tetapi ia tahu perang ini belum benar-benar berakhir.
Teuku Gantar Alam dan Teuku Cindaku masuk ke dalam ruangan, membawa kabar terbaru tentang Hantom Manoe.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Raja Muda Sedia.
“Masih melemah, tapi dia bertahan,” jawab Teuku Gantar Alam.
Raja Muda Sedia mengangguk. “Bagus. Kita membutuhkan dia. Aku yakin Gajah Mada tak akan menyerah begitu saja.”
Teuku Cindaku mengangguk. “Benar. Aku mendengar dari mata-mata kita bahwa mereka merencanakan sesuatu. Majapahit belum mengibarkan bendera putih.”
Raja Muda Sedia menatap peta yang tergelar di depannya. “Kita harus bersiap. Ini belum selesai.”
Dari luar, suara angin berdesir membawa tanda bahwa malam akan segera datang. Tapi di balik bayangan malam, dendam masih menyala, menunggu saat yang tepat untuk membalas. (#)
Bersambung pada seri ke-7: Rencana dalam Kegelapan
Penyunting Mohammad Nurfatoni





