Cerpen

Guru Baru dan Rahasia yang Terungkap

55
×

Guru Baru dan Rahasia yang Terungkap

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Seorang guru baru datang dengan langkah tenang dan pakaian sederhana. Siapa sangka ketenangannya justru menyingkap rahasia gelap di sekolah.

Cerpen oleh Dwi Taufan Hidayat

Tagar.co – Di sekolah negeri yang teduh di pinggir kota, Raras datang sebagai guru baru dengan pilihan hidup sederhana: berpakaian tertutup, bersahaja, dan menjaga kehormatan diri sebagai teladan.

Namun, kehadirannya memunculkan bisik-bisik halus, tatapan menilai, dan suasana yang pelan-pelan menyingkap wajah lain sekolah itu, sampai sebuah peristiwa mengungkap siapa sebenarnya yang perlu dicurigai.

Pagi itu, cahaya matahari menembus sela pepohonan, membuat embun di rerumputan berkilau. Raras berjalan perlahan melewati gerbang, tas cokelat tua di tangan, jilbab rapi menutup dada, gamis longgar biru tua kontras dengan warna bangunan sekolah.

Baca juga cerpen-cerpen lain Dwi Taufan Hidayat

Lorong sekolah masih sepi. Hanya terdengar derit sepatu petugas kebersihan dan kicau burung dari atap. Dua guru perempuan menatapnya, senyum tipis menggantung di bibir.

“Pagi, Bu,” sapa Raras.

“Pagi, Bu,” jawab mereka, mata sedikit menilai.

Baca Juga:  Asap Dapur, Menara, dan Mata Iman

Di ruang guru, suasananya lebih hidup. Beberapa guru bercermin lewat ponsel, ada yang menata jilbab dengan pin berkilau, dan suara riuh membahas lipstik. Saat Raras masuk, percakapan mereda sejenak.

“Bu Raras, ya? Selamat datang,” sapa seorang guru berkacamata.

“Terima kasih, Bu,” jawabnya.

Guru lain menambahkan, “Suka tampilan syar’i, Bu? Jarang lihat yang begini.”

Raras mengangguk pelan. “Saya hanya ingin nyaman dan rapi.”

“Bagus, Bu. Nanti kalau ikut kegiatan, kita biasanya santai saja, ya?” katanya sambil tersenyum ringan. Nada itu tidak kasar, tapi terasa… meraba.

##

Tiga pekan berlalu. Para siswa yang awalnya canggung kini menyukai Raras. Cara mengajarnya tenang namun tegas. Tetapi, di ruang guru, aroma prasangka tetap terasa. Sesekali tatapan meneliti Raras dari ujung kepala hingga ujung gamis. Ia hanya tersenyum tipis, menahan diri.

Suatu pagi, sebuah kertas muncul di papan pengumuman ruang guru: Anjuran Etika Berpakaian Guru”—tidak ketat, jilbab menutup dada, riasan sederhana. Mata banyak guru otomatis menoleh ke Raras.

Baca Juga:  Indahnya Mendoakan para Ustaz

“Bu Raras yang pasang, ya?” bisik seseorang.

“Kayaknya begitu,” timpal lain.

Raras hanya menunduk. Menjelaskan tampaknya sia-sia. Diamnya justru memperkuat prasangka.

Kepala sekolah, Pak Darhim, memanggilnya siang itu.

“Bu Raras, lain kali kalau menempelkan sesuatu, koordinasi dulu, ya.”

“Saya… tidak menempelkan, Pak,” jawab Raras.

“Oh?” Suaranya terdengar ragu, tetapi ia tidak membantah lebih jauh.

Beberapa hari kemudian, sekolah heboh oleh kabar mengejutkan: ditemukan benda kecil mencurigakan di sudut ruang ganti guru perempuan.

Guru-guru terlihat gelisah, saling menatap, menutup dada spontan. Sekali lagi, tatapan mengarah ke Raras—lebih tajam, lebih menyudutkan.

Raras tetap diam, menahan getir. Polisi dipanggil. Kepala sekolah mondar-mandir, wajah tegang namun tetap berusaha tenang.

Hasil pemeriksaan sore itu mengejutkan: benda itu perangkat perekam, tapi posisinya jatuh, malah menangkap wajah orang yang menempatkannya.

Ruangan hening. Gambar itu jelas—Wajah Pak Darhim.

Guru-guru terperangah. Kepala sekolah berdiri kaku, wajah pucat. Napasnya berat, bibir bergerak, tapi tak ada kata yang keluar.

Polisi mendekat: “Maaf, Pak. Anda perlu ikut kami.”

Baca Juga:  Di Balik Deru Ducati

Tatapan yang dulu menilai kini berubah menjadi malu. Seorang guru mendekati Raras.

“Bu Raras… maafkan kami. Kami terlalu cepat menuduh.”

Raras tersenyum tipis. “Tidak apa, Bu. Ketakutan bisa membuat kita salah melihat arah.”

Yang tak diketahui siapapun: sejak awal, Raras merasakan sesuatu yang ganjil dari kepala sekolah—tatapan sekilas yang tidak wajar, kehadiran di area perempuan pada waktu yang tak lazim. Ia tidak punya bukti, tidak punya hak menuduh. Ia hanya bisa menjaga diri.

Hari itu, ketika matahari condong ke barat, Raras berjalan melewati gerbang sekolah dengan perasaan ganjil: legawa, getir, dan sedikit kemenangan yang tidak ia duga.

Ia sadar, manusia sering menilai permukaan, tetapi bahaya kerap muncul dari arah yang tak diperhatikan. Dan kadang, langkah yang paling sunyi… adalah langkah yang paling menyelamatkan. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni