
Tepat di tengah rangkaian haji tahun ini, dunia gemetar oleh berita: Iran meluncurkan serangan udara ke arah Israel. Iran hanyalah alat. Arah rudal itu mungkin hanya simbol. Tetapi arah doa umat, itulah sesungguhnya yang sedang menjebol batas langit.
Refleksi Haji di Tengah Riuhnya Dunia dalam Catatan dari Tanah Suci (Seri 22); Oleh Firman Arifin, Dosen PENS, Jemaah Haji 2025 Nurul Hayat Surabaya
Tagar.co – Tawaf mengelilingi Ka’bah bukan sekadar melangkah memutari bangunan. Ia berlawanan arah jarum jam, mengikuti orbit semesta, sebagaimana elektron mengelilingi inti atom, sebagaimana planet mengitari matahari. Gerak itu harmonis karena ada pusatnya, ada tujuannya: Ka’bah, simbol tauhid.
Sai pun demikian. Dari Safa ke Marwah, bolak-balik bukan sembarang jalan atau lari kecil. Ini bukan jogging spiritual, melainkan jejak cinta seorang ibu, Siti Hajar, yang mencari air untuk anaknya. Gerak itu berulang, tetapi bukan tanpa makna. Ia penuh keyakinan bahwa di ujung usaha ada karunia Allah: air zamzam yang tak pernah kering.
Baca juga: Taif: Kota yang Dulu Menolak Nabi, Kini Mengajarkan
Wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, melempar jumrah di Mina—semuanya bukan sekadar ritual, melainkan gerak yang diarahkan. Ada waktu. Ada titik. Ada arah.
Haji mengajarkan kita bahwa bergerak tanpa arah hanyalah kelelahan. Namun, gerak dengan arah, itulah ibadah.
Dan arah tertinggi, tak lain tak bukan, menuju Allah.
Langit Israel dan Gema Doa Umat
Tepat di tengah rangkaian haji tahun ini, dunia gemetar oleh berita: Iran meluncurkan serangan udara ke arah Israel.
Sebagian menyebut ini geopolitik, aksi militer, strategi Timur Tengah.
Namun dari sisi rohani, kita bisa merenung: Bukankah jutaan muslim sedang berhaji? Bukankah jutaan tangan sedang terangkat memanjat doa?
“Ya Allah, bebaskan Al-Aqsa…”
“Ya Rabb, lindungi saudara kami di Palestina…”
“Ya Hakim, tegakkan keadilan atas yang dizalimi…”
Mungkin, di tengah udara panas Mina atau malam gelap Muzdalifah, ada doa-doa yang tak hanya menembus langit, tetapi juga menggerakkan langit.
Iran hanyalah alat. Arah rudal itu mungkin hanya simbol. Tetapi arah doa umat, itulah sesungguhnya yang sedang menjebol batas langit.
Antara Rudal dan Doa
Kalau rudal itu bergerak karena sistem navigasi satelit, maka doa bergerak karena hati yang khusyuk.
Kalau misil itu menarget karena koordinat GPS, maka doa menarget karena keikhlasan yang jernih.
Dan sebagaimana drone tempur diarahkan pusat komando, maka diri kita pun harus diarahkan hati yang tersambung kepada Allah.
Tanpa arah, misil hanya besi melayang. Tanpa arah, manusia hanya tubuh berjalan.
Arah Hati: Di Mana Kita Sekarang?
Maka pertanyaannya bukan soal siapa menang dan siapa kalah. Tetapi, ke mana arah hati kita sekarang?
Apakah kita sedang menuju Allah? Atau sekadar berputar-putar dalam zona nyaman?
Apakah ibadah kita hanya gerakan tanpa orientasi? Ataukah seperti tawaf, yang setiap langkahnya mendekatkan ke pusat nurani?
Mari kita periksa kembali. Apakah diri kita sedang bergerak menuju rida Allah? Apakah keluarga kita mengarah ke keberkahan? Apakah ilmu dan karier kita menuju kemanfaatan bagi sesama?
Sebab bukan banyaknya langkah, melainkan ke mana langkah itu dituju, yang membuat kita sampai.
Gerakan Langit, Seruan Bumi
Haji bukan festival gerakan, melainkan latihan arah. Dan kadang, dunia digetarkan bukan oleh kekuatan, tetapi oleh doa-doa yang jujur.
Semoga haji tahun ini, dan segala kejadian di balik radar dunia, menjadi pengingat: Langit pun bisa bergerak, jika hati di bumi berserah. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












