Opini

Fuad Baradja Wafat, Artis yang Jadi Pejuang Penanggulangan Bahaya ‘Tuhan Sembilan Senti’

45
×

Fuad Baradja Wafat, Artis yang Jadi Pejuang Penanggulangan Bahaya ‘Tuhan Sembilan Senti’

Sebarkan artikel ini
Beberapa buku karya Fuad Baradja

Fuad Baradja, seorang artis di zamannya, wafat. Di masa akhir kehidupannya dia menjadi aktivis antirokok.

Oleh M. Anwar Djaelani, penulis buku Jejak Kisah Pengukir Sejarah dan sebelas judul lainnya

Tagar.co – Hidupnya menarik. Dalam hal pendidikan, dia pernah dididik Al-Irsyad dan Pesantren Gontor. Dalam hal profesi, antara lain pernah menjadi artis cukup terkenal. Terakhir, meski pernah menjadi perokok, sampai dia wafat masyarakat mengenalnya sebagai pejuang kemanusiaan di bidang penanggulangan bahaya merokok.

Untuk yang disebut terakhir di atas, dia pernah mendapat penghargaan dari Kementerian Kesehatan RI dan WHO. Lalu, di hari penuh berkah Jum’at 6 Desember 2024, datang kabar duka: Innalillahi wainna ilaihi rajiuun: Telah berpulang ke Rahmatullah, Fuad Baradja pada pukul 14.02 WIB.

Berita itu mengundang duka mendalam. Lihatlah judul-judul berita di media, antara lain seperti ini. Fuad Baradja, Aktivis Pengendalian Tembakau Meninggal Dunia. Juga, ini: Aktivis Anti Rokok Fuad Baradja Meninggal Dunia. Pun, ini: Obituari: 2,5 Dekade Fuad Baradja Memerangi Rokok.

Karya dan Penghargaan

Mari ikuti berita ini: Fuad Baradja, Aktivis Pengendalian Tembakau Meninggal Dunia. Bahwa, Fuad Baradja adalah aktivis sekaligus pengurus Komnas Pengendalian Tembakau.

Fuad, sosok konsisten dalam pengendalian produk tembakau. Dia sudah mengkampanyekan antirokok dengan semangat melindungi anak Indonesia sejak 1990-an akhir. “Itu pas saat-saat dia lagi naik daun,” ucap Sarah Muthiah Widad sesama aktivis Komnas Pengendalian Tembakau.

Almarhum, rajin mensosialisasikan antirokok di sekolah-sekolah di berbagai pelosok Indonesia. Atas berbagai pengabdiannya itu, Fuad Baradja mendapat penghargaan dari Kementerian Kesehatan pada Hari Tanpa Tembakau Se-Dunia pada 2000. Dia juga mendapat penghargaan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada Hari Tanpa Tembakau Se-Dunia pada 2021.

Fuad Baradja memang istikamah. Dua pekan sebelum wafat, pada 21 November 2024, Almarhum masih berbicara sepenuh semangat soal pentingnya larangan rokok. Itu, di sebuah diskusi di Jakarta.

Fuad Baradja tak sekadar menjadi pekampanye antirokok. Dia juga membantu banyak orang lewat konsultasi dan terapi tobat rokok. Dia membuka klinik terapi berhenti merokok. Banyak orang datang ke klinik itu agar bisa lepas dari rokok.

Baca Juga:  Sembuh tanpa Kambuh: Ikhtiar Medis dan Spiritualitas Menuju Kesehatan Sejati

Masa Emas

Ada yang bertanya kepada Fuad Baradja, tentang usia keemasannya. Si penanya barangkali menyangka bahwa dia akan mengatakan bahwa usia keemasannya adalah dulu saat masih berkiprah sebagai artis sinetron dan film layar lebar.

Setelah berpikir sejenak, untuk memilih kata-kata yang tepat, dia lalu menjawab. Bahwa, usia keemasannya adalah saat dia merasa bisa memberikan sedikit manfaat kepada sesama. Usia keemasannya, kala dia bisa membagikan informasi yang bisa menyelamatkan kesehatan orang lain.

Masa terbaiknya, lanjut Fuad Baradja, saat dia bisa membantu orang lain untuk berhenti merokok. Setelah tak merokok, mereka lalu menemukan kembali hidupnya setelah sekian lama dirampas oleh benda kecil yang bernama rokok (2012: 3).

Serangkaian kalimat di atas mantap diucapkan Fuad Baradja. Hal itu, karena dia ingat Rasulullah Saw pernah bersabda, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi yang lain. Masyaallah!

Berbagai Kelokan

Fuad Baradja lahir di Solo pada 27 Agustus 1960. Di kota itu dia hanya tinggal selama 10 tahun. Pada 1967 sang ayah wafat. Kemudian, pada 1970 bersama ibu dan empat adiknya mereka pindah ke Surabaya.

Di Surabaya, Fuad Baradja menamatkan SD dan SMP di Al-Irsyad. Kemudian sempat menjadi santri di Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo selama dua tahun di Gontor.

Dia tidak melanjutkan pelajarannya di Gontor karena sang ibu meminta untuk membantunya mencari nafkah. Hal ini karena dia anak pertama dan laki-laki, sementara adik-adiknya perempuan.

Kemudian, Fuad Baradja ke Saudi Arabia dan bekerja di sebuah toko kacamata selama 8 tahun. Setelah, itu kembali dan langsung ke Jakarta, menjemput mimpi menjadi pemain film. Ini, karena hal tersebut telah menjadi cita-citanya sejak remaja.

Ternyata, jalan untuk mendekati mimpi itu tidak mudah. Sekitar 5 tahun dia bekerja dengan menjalani berbagai profesi. Misalnya, menjadi kurir pengantar surat, menjadi staf lokal di sebuah kedutaan negara sahabat, menjadi penyulih suara (dubber) untuk ratusan episode film-film asing, serta menjadi penyanyi country di cafe dan restoran.

Baca Juga:  Pandangan Isa Anshary tentang Kekuatan Lisan dan Tulisan Natsir serta Tokoh Lain

Barulah setelah masa itu, dia mendapatkan kesempatan setelah diajak Dede Yusuf main dalam film Perwira Ksatria. Setelah itu bermain di sinetron serial Jendela Rumah Kita yang ditangani Dede Yusuf. Berikutnya di serial Rumah Kami, Jin dan Jun, Purba, Keluarga Senyum, dan belasan lainnya.

Singkat kisah, akhirnya Fuad Baradja memilih jalan hidup yang terkesan ”sunyi”. Dia menjadi aktivis penanggulangan masalah merokok. Wilayah ini, tentu jauh dari ”gemerlap” seperti di seni peran.

Pilihan Berat

Sejak 1998 Fuad Baradja bergabung di Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok (LM3) Jakarta. Beberapa tahun kemudian dia diangkat menjadi Ketua Bidang Penyuluhan dan Pendidikan dengan tugas utama memberikan informasi kepada masyarakat tentang bahaya merokok.

Fuad Baradja terus menyuarakan kebenaran tentang permasalahan rokok yang selama ini banyak dikaburkan oleh maraknya penyesatan melalui iklan-iklan promosi dan sponsor perusahaan rokok. Tujuannya antara lain, menyatakan bahwa bahaya merokok bukan hanya masalah kesehatan tapi juga kerugian ekonomi, sosial, dan lain-lain.

Ini jelas pekerjaan besar dan berat. Terang, ini sebuah jalan perjuangan yang tidak ringan. Lihat saja ilustrasi berikut ini.

Sungguh, di negeri ini rokok telah menjadi Tuhan bagi banyak orang. Atas fenomena ini, menulis-lah Taufiq Ismail sebuah sajak Panjang. Judulnya, Tuhan Sembilan Senti.

Kata Taufiq Ismail, “Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok. Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok. Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok.”

Pendek kata, “Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,” simpul Taufiq Ismail sang sastrawan. Astaghfirullah!

Baca Juga:  Dua Kehati-hatian Menuju Akhirat: Cinta dan Kebiasaan

Banyak Jalan

Fuad Baradja teguh berjalan. Bagi dia, untuk kasus berhenti merokok, syarat utama yang harus ada adalah keinginan atau niat untuk berhenti merokok. Orang yang tidak punya keinginan untuk berhenti merokok hampir pasti tidak akan mendapatkan efektivitas terapi.

Lebih lanjut, keinginan untuk berhenti merokok bisa timbul bila orang tersebut mempunyai motivasi. Semakin tinggi motivasinya akan semakin kuat niatnya. Untuk itu, semakin mudah pula dalam mencapai hasil terapi yang maksimal.

Untuk perjuangan antirokok, aneka jalan yang telah dilalui Fuad Baradja. Dia tak lelah memberi penyuluhan di begitu banyak tempat. Dia aktif juga menulis dengan tema bahaya merokok. Setidaknya, dari tiga judul buku ini saja, bisa menjadi amal jariah dia. Ketiganya adalah Two Thumbs Up, Love Your Life: Lebih Memahami Perilaku Merokok, dan Hari Ini Masih Ngerokok, Apa Kata Dunia?

Di YouTube, banyak kita dapatkan uraian dia tentang bahaya merokok dan cara menghindarinya. Silakan buka YouTube dan ketik nama Fuad Baradja.

Di sana akan ada beberapa video menarik. Di antaranya, sebagai berikut: Bedah Tuntas Masalah Rokok, Bahaya Besar yang Diremehkan Umat, Waspadai Upaya Industri Rokok Menjerat Anak-Anak Kita, dan Ramadhan adalah Momen yang Tepat untuk Berhenti Merokok.

Ini Kesaksian

Fuad Baradja, dulunya, perokok. Dia berhenti merokok setelah menderita sakit. Lalu, dia aktif berkampanye untuk tidak merokok. Bahkan, dia dikenal sebagai pakar terapi kecanduan merokok.

Selamat jalan, sahabat kami tercinta, Fuad Baradja! Engkau telah berbuat banyak kebaikan untuk sesama. Kini setelah engkau berpulang ke Rahmatullah, seperti mereka yang telah wafat dan dengan banyak meninggalkan kebaikan, semoga sekarang ini engkau lebih bisa memetik pahalanya.

Insya Allah penyuluhan engkau di berbagai tempat dan karya-karya tulis engkau akan terus dikaji orang. Insya Allah nama engkau akan terus disebut-sebut orang dalam nada positif, sebagai Pejuang Kebaikan. Semoga Allah rahmati sahabat kami terkasih, Fuad Baradja. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni