
Multitasking sering disangka efisien, padahal malah merusak fokus dan menurunkan produktivitas. Artikel ini membongkar ilusi multitasking dan menawarkan solusi untuk kembali fokus dan teratur.
Oleh M. Arfan Mu’ammar
Tagar.co – Kita sering mengira bahwa menggabungkan beberapa pekerjaan sekaligus akan menghemat waktu. Akan tetapi, bukti ilmiah menunjukkan sebaliknya. Bahkan, orang yang mengaku pandai multitasking sebenarnya tidak terlalu produktif. Justru merekalah orang-orang yang paling tidak produktif.
Mengapa demikian? Karena otak manusia dapat menyerap jutaan informasi, tetapi hanya mampu memproses beberapa lusin saja per detik. Ketika kita menganggap bahwa multitasking adalah kemampuan untuk beralih antartugas dengan cepat, sayangnya, kita bukan komputer yang mahir dalam pemrosesan paralel. Akibatnya, kita justru menghabiskan banyak energi hanya untuk berpindah dari satu tugas ke tugas lainnya.
Bayangkan: kita mendengarkan video di YouTube sambil menulis email, lalu tiba-tiba muncul notifikasi obrolan dan kita menjawabnya. Tak lama, ponsel bergetar di saku, kita menanggapi pesan tersebut, kembali ke komputer, lalu malah membuka aplikasi Facebook. Tanpa sadar, 30 menit berlalu dan kita lupa email apa yang tadinya ingin ditulis.
Hal serupa terjadi saat kita menonton film sambil makan malam. Kita tidak benar-benar menyadari betapa lezatnya gulai iga sapi yang ada di piring sampai suapan terakhir.
Teknologi memang bagus—selama kita yang mengendalikannya. Tetapi tidak demikian jika justru teknologi yang mengendalikan kita. Teknologi akan membantu, misalnya saat Anda menulis makalah dan menggunakan Google untuk mencari informasi.
Namun, jika tidak disiplin, Anda bisa saja malah berselancar di dunia maya alih-alih menyelesaikan makalah tersebut. Dalam situasi ini, Google dan internet akan mengambil alih perhatian dan menarik Anda keluar dari konsentrasi.
Secara ilmiah telah terbukti bahwa jika kita terus-menerus memaksa otak untuk beralih dari satu tugas ke tugas lain, kita tidak hanya membuang waktu, tetapi juga membuat lebih banyak kesalahan dan mengingat lebih sedikit hal yang telah kita lakukan.
Wabah
Beberapa penelitian yang dilakukan di Universitas Stanford oleh Clifford Ifar Nass menunjukkan bahwa generasi sekarang menderita wabah epidemi multitasking. Dalam salah satu studi, Clifford meneliti perilaku ratusan siswa dengan membagi mereka ke dalam kelompok berdasarkan jumlah aktivitas yang dilakukan secara bersamaan.
Siswa yang paling kecanduan multitasking biasanya melakukan lebih dari empat tugas sekaligus, seperti mencatat sambil membaca buku teks, mendengarkan podcast, menjawab pesan di ponsel, dan sesekali memeriksa Instagram mereka.
Setiap kelompok siswa diperlihatkan layar berisi beberapa panah merah dan beberapa panah biru. Tujuan dari latihan ini adalah menghitung jumlah panah merah. Awalnya semua siswa dapat menjawab dengan benar. Namun, ketika jumlah panah biru ditambah dan posisi panah merah diubah, siswa yang terbiasa multitasking mengalami kesulitan dalam menghitung panah merah dalam waktu yang ditentukan.
Mereka tidak secepat siswa yang tidak terbiasa multitasking. Alasannya sederhana: mereka terganggu oleh panah biru. Otak mereka terlatih untuk memperhatikan setiap stimulus yang muncul, sedangkan otak siswa lainnya terlatih untuk fokus pada satu tugas, yaitu menghitung panah merah sambil mengabaikan panah biru.
Penelitian lain menunjukkan bahwa mengerjakan beberapa hal sekaligus menurunkan produktivitas hingga 60 persen dan menurunkan IQ lebih dari 10 poin.
Langkah Solutif
Lantas, apa yang bisa kita lakukan agar tidak menjadi korban epidemi multitasking yang mengganggu fokus dan menurunkan produktivitas?
Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan:
Pertama, coba matikan ponsel sebelum mulai berkonsentrasi. Tidak ada yang lebih penting daripada tugas yang telah Anda pilih.
Jika itu terasa terlalu ekstrem, aktifkan fitur jangan ganggu di ponsel, sehingga hanya orang terdekat yang bisa menghubungi Anda dalam keadaan darurat.
Kedua, cobalah teknik Pomodoro. Apa itu teknik Pomodoro? Yakni teknik menggunakan alarm atau kitchen timer (yang banyak dibuat menyerupai tomat, atau pomodoro dalam bahasa Italia) untuk mengatur waktu kerja dan istirahat. Teknik ini dikembangkan oleh Francesco Cirillo pada akhir 1980-an.
Dengan teknik ini, kita berkomitmen hanya mengerjakan satu tugas selama timer berjalan. Rekomendasinya adalah 25 menit kerja dan 5 menit istirahat untuk satu siklus.
Namun, Anda juga bisa memilih pola 50 menit kerja dan 10 menit istirahat. Pilih durasi yang paling cocok untuk Anda. Yang terpenting adalah disiplin menyelesaikan setiap siklus.
Jeda singkat ini membantu otak untuk beristirahat dan mempersiapkan diri menghadapi sesi kerja berikutnya. Setelah empat siklus (empat pomodoro), lakukan jeda lebih panjang, sekitar 15–30 menit.
Empat jam kerja dengan teknik Pomodoro bisa jauh lebih produktif dibanding delapan jam kerja yang diselingi berbagai gangguan. Silakan mencoba! (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni













