Opini

Energi dari Langit, Listrik dari Tanah

40
×

Energi dari Langit, Listrik dari Tanah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI

Tiga teknologi energi hijau tengah bergerak mengubah dunia: amonia hijau, panas bumi modular, dan mobil yang bisa menyetrum balik. Bisakah Indonesia ikut menyalakan harapan bumi?

Catatan Ahmadie Thaha; Kolumnis

Tagar.co – Coba bayangkan dunia yang tak lagi belepotan oli, tak lagi bau bensin, tak ada suara genset meraung di tengah malam, dan tagihan listrik tak lagi membuat jantung berdebar seperti menunggu hasil ujian. Betapa indah dunia yang energinya hijau, bikin lingkungan tak lagi tercemar.

Itulah dunia di mana energi bukan lagi kutukan, melainkan keberkahan. Sebuah dunia yang, kata laporan hasil kolaborasi World Economic Forum (WEF) dan Frontiers (2025), bisa dicapai lewat tiga kunci: amonia hijau, panas bumi modular, dan mobil yang bisa balas dendam ke PLN.

Baca juga: Revolusi Makan: Kenyang tanpa Merusak Alam

Ya, kita sedang bicara tentang masa depan energi—tapi bukan yang berasap dan bising. Ini tentang listrik yang datang dari langit dan tanah, bukan dari cerobong dan tambang.

Green Ammonia

Mari mulai dari yang paling tidak wangi: amonia. Selama ini, amonia dikenal sebagai bahan pupuk dan bau kandang ayam. Namun kini, di mata WEF, ia sedang naik pangkat menjadi bahan bakar bersih masa depan.

Dalam bentuk barunya, green ammonia, ia tak lagi dibuat dari gas alam atau batu bara, melainkan dari air dan udara—dengan bantuan listrik dari sumber terbarukan seperti surya atau angin.

Baca Juga:  Perang, Minyak, dan Negara yang Diam-Diam Untung

Bayangkan: air dipecah menjadi hidrogen dan oksigen, lalu hidrogen itu digabungkan dengan nitrogen dari udara untuk membentuk amonia. Tanpa emisi karbon, tanpa boros energi fosil.

Amonia hijau ini bisa disimpan, diangkut, bahkan dibakar di mesin kapal, pabrik baja, dan pembangkit listrik. Tetapi dengan satu syarat: manusia berhenti mencampuri reaksi kimia itu dengan kerakusan.

Di Jepang dan Norwegia, kapal bertenaga amonia sudah berlayar. Di Australia, proyek green ammonia hub sedang dibangun di tengah gurun, menyiapkan ekspor energi bersih untuk dunia.

Di Indonesia? Kita masih mengimpor pupuk dengan harga yang membuat petani menanam padi sambil mengeluh. Padahal, kita punya laut, udara, dan sinar matahari yang gratis — hanya saja belum kita ubah menjadi “bahan bakar langit”.

Panas Bumi Modular

Sekarang mari menunduk ke bawah tanah: panas bumi modular, si anak kandung bumi yang pemalu tetapi setia. Panas bumi sebenarnya bukan hal baru. Kita sudah tahu gunung berapi bisa memanaskan air menjadi uap dan menggerakkan turbin.

Namun teknologi panas bumi modular membawa ide baru. Ia bukan lagi proyek raksasa dengan biaya miliaran, melainkan pembangkit kecil yang bisa dipasang di mana saja, bahkan di halaman belakang pabrik atau kampung.

Baca juga: Sepuluh Teknologi Penyelamat Planet Bumi

Bayangkan kalau setiap kota kecil punya “sumur panas bumi” mini yang bisa menyuplai listrik tanpa asap, tanpa batu bara, tanpa PLTU. Energi tak lagi datang dari jauh, tetapi dari tanah di bawah kaki sendiri. Tidak perlu menunggu izin proyek raksasa; cukup butuh kemauan politik dan keberanian teknis.

Baca Juga:  Kendaraan Listrik Total

Islandia sudah lama hidup dengan listrik dari bumi. Kenya kini menjadi pelopor panas bumi di Afrika. Dan di Indonesia — negeri seribu gunung api — potensi panas bumi kita seolah menunggu dengan sabar sambil mendengus asap: “Kapan kalian sadar aku ini bukan ancaman, melainkan karunia?”

Mobil Penyimpan Energi

Lalu ada teknologi ketiga — yang paling dekat dengan keseharian kita: bi-directional EV charging. Kalau dulu mobil listrik hanya bisa disetrum, sekarang ia bisa “balas menyetrum balik”. Mobil bukan lagi sekadar alat transportasi, melainkan bank energi berjalan.

Ketika mobil di-charge malam hari, ia menyimpan listrik dari jaringan listrik (grid). Namun pada siang hari, saat jaringan butuh tambahan daya, mobil bisa mengembalikannya ke rumah, kantor, atau bahkan ke PLN. Ini bukan mobil biasa — ini mobil yang punya dendam sosial: “Dulu aku disetrum, sekarang giliran aku menyetrum balik.”

Di Jepang, rumah tangga sudah mulai memanfaatkan mobil listrik untuk backup energy. Di Eropa, sistem vehicle-to-grid menjadi bagian dari tata kota cerdas. Bayangkan kalau ini terjadi di Indonesia: mobil tetangga yang dulunya sekadar gaya hidup, kini bisa jadi penyelamat listrik ketika PLN padam. Mobil bukan lagi simbol kemewahan, melainkan kemandirian energi.

Planet yang Tahan Banting

Tiga teknologi ini — amonia hijau, panas bumi modular, dan mobil penyimpan energi — bukan sekadar ide futuristik. Ketiganya sedang mengajarkan sesuatu yang sangat sederhana: energi tidak hilang, hanya perlu diputar untuk dihadirkan dengan niat baik.

Baca Juga:  Michael Jackson Hidup Lagi—di Layar, di Ingatan, di Kita

Selama ini, kita menyalakan lampu dengan mematikan masa depan—membakar batu bara, gas, dan minyak tanpa memikirkan gantinya. Namun kini, bumi mulai menagih. Suhu naik, laut mendidih, badai datang bergiliran. Alam sudah capek menjadi korban power supply yang rakus.

WEF dan Frontiers menyebut transformasi energi ini sebagai “jalan menuju resilient planet”—planet yang tahan banting, bukan planet yang pasrah. Tetapi teknologi hanyalah setengahnya. Separuh lainnya adalah kesadaran manusia untuk tidak menjadikan energi sebagai candu.

Coba renungkan: dulu kita berpikir listrik adalah simbol kemajuan. Sekarang, listrik adalah ukuran kebijaksanaan.

Karena dunia yang benar-benar maju bukanlah dunia yang paling terang di malam hari, melainkan dunia yang paling hemat menyalakan siangnya. Dan ketika kita bisa menyalakan dunia tanpa membakar masa depan, mungkin baru di situlah kita benar-benar dapat menyebut diri kita “makhluk beradab”.

Jadi, lain kali ketika Anda menyalakan lampu, menyalakan mobil, atau menyalakan kompor — bayangkan juga sedang menyalakan harapan bumi. Karena energi sejati bukan berasal dari langit atau tanah, melainkan dari hati yang tidak ingin membakar masa depan. (#)

Ma’had Tadabbur Al-Qur’an, 29 Oktober 2025

Penyunting Mohammad Nurfatoni