
Nggawe klasa digawa nang Surabaya
digelar ombo nang dalanan sing dawa
Manungsa iku ora ana sing digdaya
kejaba kedigdayaan saking Gusti Allah
Oleh Ustaz Soedjono, M.Pd; Dai Segudang Parikan
Tagar.co – Dalam kehidupan yang serba cepat dan penuh kompetisi, manusia sering merasa hebat oleh prestasi, jabatan, dan apa pun yang berhasil ia kumpulkan.
Namun sejatinya, semua itu hanya titipan sementara. Kita tidak memiliki apa pun secara hakiki kecuali kelemahan di hadapan keagungan Allah Swt.
Betapapun tinggi jabatan seseorang, betapapun banyak hartanya, betapapun menawan wajahnya, semuanya dapat Allah cabut dalam sekejap tanpa perlu konfirmasi.
Baca juga: Kesalehan Sosial: Iman yang Menyentuh Sesama
Kita ini tak lebih dari debu kecil yang tersapu angin takdir. Jika bukan karena rahmat-Nya, kita tidak akan bisa berdiri tegak hari ini.
Sebab itu, pantaslah kita menundukkan hati, menyadari siapa diri kita yang sebenarnya: hamba. Hanya seorang hamba yang hidup karena kasih dan ampunan Tuhannya.
Mari kita renungkan doa yang begitu indah ini:
رَبِّ اغْفِرْلِي وَارْحَمْنِي وَاجْبُرْنِي وَارْفَعْنِي وَارْزُقْنِي وَاهْدِنِي وَعَافِنِي وَاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah, ampunilah dosaku, kasihilah aku, cukupkan segala kekuranganku, angkatlah derajatku, berilah aku rezeki, berilah aku petunjuk, berilah aku kesehatan, dan berilah aku ampunan.”
Doa ini mengajarkan kita untuk selalu kembali pada Allah dalam segala keadaan: saat kurang maupun berlebih, saat sehat maupun sakit, saat berada di puncak karier maupun di dasar kesedihan. Karena hanya Allah yang Maha Mencukupi.
Ketika kita menyadari betapa lemahnya kita tanpa pertolongan Allah Swt., maka yang paling pantas dilakukan seorang hamba adalah berserah diri dan memohon rida-Nya.
Semua nikmat yang kita genggam bukanlah bukti kehebatan kita, melainkan karunia yang Allah amanahkan. Karena itu, marilah kita meningkatkan kerendahan hati dan memperbanyak doa, agar hati tidak terperangkap dalam kesombongan dunia.
Berikut doa yang dapat kita panjatkan bersama:
“Ya Allah, ya Rabb… kami ibarat debu yang kecil tanpa daya di hadapan kebesaran-Mu. Engkaulah Yang Mahasempurna; tiada daya dan kekuatan selain dari-Mu. Tidak pantas diri ini berlaku sombong karena jabatan, harta, wajah yang rupawan, dan ilmu yang kami miliki yang sifatnya sementara serta sewaktu-waktu dapat Engkau cabut tanpa konfirmasi. Untuk itu, karuniakanlah rahmat dan petunjuk-Mu kepada kami serta ampunilah dosa-dosa kami. Amin.”
Ajakan Menuju Keheningan Malam
Ada satu waktu istimewa ketika hati paling mudah tersambung dengan Sang Pemilik Hati: Tahajud. Di saat dunia tertidur, Allah “turun” ke langit dunia.
Maka, jangan sia-siakan kesempatan emas itu. Mari bangun sejenak, lepaskan kantuk, basuh wajah dengan wudu, dan berdiri menghadap Tuhan yang Maha Baik.
Karena cinta sejati bukan pada dunia yang fana, tetapi pada Ilahi yang selalu setia.
Semoga Allah Swt. karuniakan kepada kita hati yang tidak mudah sombong, jiwa yang lembut, dan rida dalam setiap langkah. Amin. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












