OpiniUtama

Dunia Sekolah dan Kebodohan Baru di Era Digital

33
×

Dunia Sekolah dan Kebodohan Baru di Era Digital

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Ai

Mark Twain benar: lebih mudah menipu orang daripada meyakinkan bahwa mereka telah tertipu. Apa yang salah dari dunia belajar hari ini?

Oleh Triyo Supriyatno Wakil Ketua PDM Kota Malang dan Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Tagar.co – Di zaman ketika informasi mengalir deras tanpa henti, banyak orang meyakini bahwa kebodohan bisa dilawan dengan edukasi, data, dan fakta. Bahwa kebohongan akan segera kalah di hadapan kebenaran, dan kesesatan akan sirna dengan paparan logika.

Namun, kenyataan sosial tidak sesederhana itu. Kita semakin menyadari bahwa kebodohan hari ini bukan sekadar soal minimnya informasi, tetapi soal tertutupnya pikiran.

Baca juga: Para Pejuang Kemanusiaan Palestina dari Muhammadiyah

Mark Twain pernah berkata dengan getir, “It’s easier to fool people than to convince them that they have been fooled.” Betapa sulitnya menjelaskan sesuatu kepada orang yang telah memilih untuk tidak mendengar. Ketika keyakinan dipertahankan lebih kuat daripada kebenaran, bukti sejelas apa pun akan ditolak, bahkan dianggap ancaman.

Inilah ironi besar dunia modern. Di era ketika akses informasi begitu mudah, justru semakin banyak orang terjebak dalam ruang gema (echo chamber), tempat opini-opini seirama diulang-ulang, sementara pandangan berbeda dibungkam atau dicurigai. Media sosial, yang semula dijanjikan sebagai ruang demokrasi pengetahuan, kini banyak berubah menjadi arena bias kolektif yang memperkuat prasangka.

Baca Juga:  Pers Indonesia: Antara Idealitas Demokrasi dan Realitas Kekuasaan

Bukan Kurang Logika, tetapi Enggan Menggunakannya

Kita sering menyaksikan orang-orang yang dengan penuh keyakinan menyebarkan kabar bohong, menyangkal fakta, atau membangun teori konspirasi tanpa dasar. Saat dihadapkan pada data dan bukti valid, mereka bukan kekurangan logika, tetapi menolak untuk menggunakannya. Mereka lebih nyaman hidup dalam prasangka daripada menghadapi ketidaknyamanan berpikir ulang.

Dalam situasi semacam ini, perdebatan menjadi sia-sia. Karena bukan lagi soal benar dan salah, melainkan soal ego dan harga diri. Sosiolog Peter L. Berger menyebut gejala ini sebagai cognitive fortress, yakni benteng keyakinan yang dibangun untuk mempertahankan ilusi kenyamanan, di mana fakta apa pun yang bertentangan akan dianggap ancaman. Akibatnya, ruang dialog macet. Orang bukan lagi berdiskusi untuk memahami, tetapi untuk menang.

Celakanya, fenomena ini tidak hanya terjadi di kalangan awam, tetapi juga di kalangan terdidik. Banyak orang pintar yang justru keras kepala dalam memegang pendapatnya, bahkan ketika bukti-bukti menunjukkan sebaliknya. Ini menunjukkan bahwa masalah utama bukan sekadar intelektualitas, tetapi keberanian batin untuk bersedia merevisi pandangan dan mengakui kekeliruan.

Kebodohan Sejati: Keteguhan untuk Tetap Salah

Filsuf moral dan pemikir pendidikan sejak lama menyadari bahwa kebodohan sejati bukan soal rendahnya IQ atau lemahnya nalar, tetapi soal keteguhan untuk tetap salah dengan bangga. Orang yang sudah terlanjur terikat pada sebuah keyakinan semu akan cenderung menolak semua informasi yang bertentangan, berapa pun banyaknya bukti yang disodorkan.

Baca Juga:  Berpikir Historis: Kompas Kritis di Tengah Banjir Informasi

Psikolog sosial menyebut fenomena ini dengan istilah confirmation bias, yakni kecenderungan untuk mencari, menafsirkan, dan mengingat informasi yang hanya memperkuat keyakinan lama, sambil mengabaikan atau menolak fakta yang tak sejalan. Di era digital, bias ini diperparah oleh algoritma media sosial yang hanya menyajikan konten yang sesuai selera pengguna.

Akibatnya, banyak orang hidup dalam ilusi kebenaran—meyakini sesuatu bukan karena benar, tetapi karena nyaman. Mereka lebih suka mempertahankan narasi yang sudah akrab daripada menerima kenyataan yang mungkin meruntuhkan dunia batinnya.

Berhati-hatilah dalam Berdiskusi

Di tengah situasi seperti ini, penting bagi kita untuk menyadari bahwa tak semua pikiran siap diajak berpikir. Diskusi bukan lagi soal siapa yang paling banyak tahu, tetapi soal siapa yang cukup rendah hati untuk bersedia mendengar dan berpikir ulang. Percakapan sehat hanya mungkin terjadi jika kedua pihak sama-sama memiliki keberanian untuk mempertimbangkan ulang pendapatnya.

Sayangnya, dalam banyak kasus, perdebatan justru menjadi ajang mempertontonkan ego, bukan mencari kebenaran. Seperti diingatkan Karl Popper, kemajuan pengetahuan justru lahir dari keberanian menerima kritik dan terus menguji asumsi sendiri. Sementara masyarakat yang antikritik dan antirefleksi hanya akan stagnan dalam ruang gelap ilusi.

Baca Juga:  Lebaran Pengorbanan: Dari Cinta Kuasa Menuju Kuasa Mencintai

Di tingkat bangsa, problem ini menjadi serius ketika kebiasaan menolak fakta dan berpikir tertutup merasuki ruang politik, birokrasi, dan dunia pendidikan. Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang dihuni orang-orang cerdas tapi keras kepala, melainkan bangsa yang warganya bersedia belajar, berubah, dan menerima bahwa dirinya pun bisa keliru.

Tantangan Literasi Keberanian Batin

Tantangan terbesar kita hari ini bukan hanya soal memperbaiki literasi informasi, tetapi membangun literasi keberanian batin. Yaitu keberanian untuk mengakui bahwa mungkin saja keyakinan yang selama ini dipegang keliru, bahwa mungkin saja lawan diskusi benar, dan bahwa memperbaiki pendapat adalah tanda kematangan, bukan kelemahan.

Di sekolah-sekolah, ruang publik, media, dan keluarga, keberanian untuk berpikir kritis harus mulai ditanamkan. Anak-anak perlu dibiasakan untuk bertanya, menantang pendapat lama, dan menguji ulang apa yang diajarkan. Guru dan orang tua pun mesti bersedia menerima bahwa pandangannya bisa saja salah.

Karena jika tidak, kita akan terus menjadi bangsa yang sibuk berdebat tanpa mendengar, mempertahankan prasangka tanpa peduli kebenaran, dan lebih senang merasa benar daripada bersedia belajar.

Dan seperti kata Mark Twain, percuma menjelaskan sesuatu kepada orang yang telah memilih untuk tidak mendengar. Karena sesungguhnya, kebodohan bukan soal tidak tahu, melainkan soal menolak untuk tahu. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni