
Berawal dari pekarangan penuh sampah pada 2019, MI Muhammadiyah 2 Banyuurip menyulapnya menjadi Edupark Mbois School. Kini, taman rindang itu menjadi ruang belajar, bermain, dan berekspresi yang membanggakan warga madrasah.
Tagar.co – Suasana sejuk menyelimuti MI Muhammadiyah 2 Banyuurip, Ujungpangkah, Gresik, Jawa Timur. Salah satu sumber kesejukan lingkungan madrasah yang lebih akrab dijuluki Mbois School ini adalah beraneka tanaman hidup yang subur dan indah.
Salah satunya berada di Edupark Mbois School, sebuah taman edukatif yang memadukan keindahan, fungsi belajar, ruang bermain, sekaligus simbol kebersamaan warga sekolah.
Baca juga: Kreativitas dan Kebersamaan Warga Mbois School Sambut Juri LLSMS 2025
Hari Senin (1/9/2025), Edupark menjadi sorotan utama saat penilaian Lomba Lingkungan Sekolah Muhammadiyah Sehat (LLSMS). Kepala Mbois School, Ghoniyul Ulum, S.S., dengan penuh semangat menjelaskan filosofi taman ini kepada dewan juri: saya, Tatik Erawati, dan Mardliyatul Faizun.

Hijau yang Menyambut dari Pintu
Memasuki Edupark, kami langsung disuguhi suasana teduh. Di sisi kiri, dinding hijau dipenuhi tanaman rambat yang menjalar rapi di dinding dan tiang—seperti sirih gading dan lee kuan yew— menciptakan nuansa alami yang menyejukkan.
Deretan pot bunga dengan warna-warni bunga kertas, mawar, soka, dan pucuk merah turut menyapa dengan ceria.
Di berbagai sudut tumbuh pohon produktif: sirsak, cerme, belimbing wuluh, juwet, kelor, salam, kare, palem tropis, matoa, dan sebagainya. Koleksi ini tidak hanya memperindah, tetapi juga memberi nilai edukatif.
Siswa dapat mengenal beragam tanaman buah dan obat sejak dini. Bahkan, deretan toga alias tanaman obat keluarga ditata rapi sehingga bisa dipakai sebagai media pembelajaran kesehatan alami. Edupark benar-benar menghadirkan kebun hidup di tengah sekolah.

Gazebo, Taman Baca, dan Kolam Batu
Di sisi tengah halaman berdiri gazebo kayu yang kokoh. Tempat ini menjadi titik favorit warga sekolah. Rak kecil bertuliskan Taman Baca di dalamnya menyediakan bacaan ringan untuk siswa. Gazebo sering menjadi tempat guru berdiskusi santai bersama tamu.
Saat penilaian berlangsung, suasana hangat tercipta di gazebo. Kepala madrasah, para guru, dan kami berbincang sambil menikmati minuman segar khas bernama Rujak Uyub.
Minuman ini dibuat dari buah mengkudu, kunyit, dan timun—hasil panen tanaman sekolah sendiri. Rasa segarnya menjadi bukti bahwa Edupark tidak hanya indah dipandang, tetapi juga produktif dan memberi manfaat nyata.
Di samping minuman mdarasah ini juga memprodukis kudapan sehat peyek kelor, stick beton isi buanh nangka, dan peyek bayam.
Tepat di samping kanan gazebo terdapat kolam kecil berornamen batu dengan air mancur sederhana. Gemericik air menambah kesejukan, menghadirkan sensasi alami di tengah halaman sekolah. Kolam ini bukan sekadar hiasan, tetapi juga menjadi media refleksi yang membuat anak-anak merasa betah.

Paving Edukatif: Dari Ular Tangga hingga Kuis Pengetahuan
Bagian tengah Edupark menampilkan kreativitas khas Mbois School. Lantai paving luas yang semula hanya jalur pejalan kaki kini disulap menjadi media edukasi. Cat berwarna-warni cerah membentuk permainan ular tangga raksasa.
Namun, tidak berhenti di situ. Beberapa kotak ular tangga berisi tantangan kuis matematika dan pengetahuan umum. Anak-anak bisa melompat dari satu kotak ke kotak lain sambil berhitung, menjawab soal, atau menebak informasi sederhana.
Aktivitas ini menjadikan Edupark bukan sekadar ruang fisik, melainkan laboratorium belajar interaktif.

Ghoniyul Ulum atau biasa dipanggil Pak Ulum pun mengajak kami mencoba permainan itu. Saya pun menerima tantangan tersebut. Melompat dan melangkah mengikuti alur permainan. Matahari yang tepat berada di atas kepala membuat saya berkeringat.
Permainan seperti ini tidak hanya ada di Edupark. Di depan, setelah masuk gerbang, kita juga akan dibawa oleh alur permainan ini.
Pak Ulum mengatakan, begitu murid datang mereka harus mengikuti permainan ini. “Ini sekaligus bagian dari olahraga dan pelajaran,” katanya. Ia mengaku permainan ini memang disiapkan menjelang LLSMS.
Karena itu saya berpesan agar inovasi ini terus dijalankan ke depan. “Mungkin satu semester sekali pertanyaan atau model permainannya diganti agar tidak bosan,” saran saya.

Arena Bermain dan Kandang Burung
Kembali ke Edupark. Di sekeliling paving, berdiri arena bermain anak. Ada panjatan besi, ayunan, hingga perosotan berwarna cerah yang selalu ramai digunakan saat jam istirahat. Tawa anak-anak terdengar riang, memperlihatkan bahwa Edupark benar-benar menjadi pusat kehidupan sekolah.
Sementara itu, di pojok kiri area bermain, terdapat kandang burung. Suara kicauannya menambah suasana alami sekaligus menjadi media edukasi satwa kecil. Anak-anak bisa belajar mengenal hewan peliharaan, merawat, dan menghargai makhluk hidup di sekitar mereka.
Tak jauh dari arena bermain, sebuah panggung mini berdiri dengan latar mural penuh warna. Panggung ini menjadi ruang ekspresi siswa. Ada yang tampil membaca puisi, ada pula yang berlatih drama atau menyanyi bersama. Panggung mini ini melengkapi fungsi Edupark sebagai ruang ekspresi seni, menumbuhkan rasa percaya diri, sekaligus mengasah kreativitas anak.
“Ini juga dipakai untuk proses belajar mengajar outdoor,” kata Pak Ulum.
“Edupark ini bukan hanya taman, tetapi ruang belajar, ruang bermain, dan ruang berkarya. Semua warga sekolah punya andil dalam membangunnya,” katanya menambahkan.
Menurut Bu Tatik, sapaan Tatik Erawati, juri dari Majelis Lingkungan Hidup PDM Gresik, Edupark ini akan semakin sempurna jika dilengkapi tanaman sayur. Ia mengusulkan agar ditanam di lorong sisi belakang gedung yang tersambung dengan Edupark.

Dari Lahan Sampah Menjadi Inspirasi
Pak Ulum mengatakan, sejarah Edupark Mbois School berawal pada 2019. Kala itu, asesor akreditasi Dra. Hj. Sunarijah, M.Pd., menemukan lahan kosong penuh sampah di pekarangan sekolah. Namun, ia tidak melihatnya sebagai masalah, melainkan peluang.
“Ini bisa dibuat taman,” ucapnya saat visitasi waktu itu. “Taman yang bisa digunakan untuk belajar outdoor dan memanfaatkan kekurangan ruang yang ada.”
Ide itu segera ditindaklanjuti. Dukungan datang dari Pimpinan Ranting Muhammadiyah Banyuurip Muhammad Junaidi, S.Pd.I., almarhum Ustaz Munadhor, serta arahan Moh. Nur Qomari, S.Si., Kepala SD Muhammadiyah 1 GKB kala itu. Ketua Majelis Dikdasmen PCM GKB, Nanang Sutedja, juga turut membantu dengan menyediakan paving.
“Guru, wali murid, dan siswa bahu-membahu mewujudkannya,” kisah Pak Ulum.
Kini, setelah enam tahun berjalan, lahan yang dulunya hanya tempat sampah telah menjelma menjadi Edupark Mbois School. Ia tidak hanya memperindah sekolah, tetapi juga menjadi ikon inspirasi: ruang hidup di mana anak-anak bisa belajar, bermain, berekspresi, berkomunitas, dan merawat alam dalam satu lingkungan yang penuh makna.

Tak Hanya di Edupark
Kerindangan di MI Muhammadiyah 2 Banyuurip bukan hanya tercipta di kawasan Edupark. Halaman tengah madrasah juga dipenuhi pepohonan rindang yang membuat suasana semakin nyaman.
Pohon mangga misalnya dengan tajuk lebar tumbuh kokoh, menjadi peneduh alami saat siswa berkumpul pada apel pagi. Di sisi lain, pohon sawo menghadirkan suasana teduh dengan daunnya yang rapat, sementara pohon jambu air menambah kesegaran, apalagi saat musim berbuah dan dahan-dahannya dipenuhi bulir hijau segar.
Kehadiran pepohonan ini menunjukkan bahwa rindangnya Mbois School tidak hanya berasal dari taman Edupark, tetapi juga dari pepohonan buah yang tumbuh merata di halaman tengah. Dari pintu gerbang hingga ke ruang kelas, setiap langkah seolah dinaungi “atap hijau” yang menjaga kesejukan dan kesehatan lingkungan belajar.
“Sayangnya, belum semua ruang kelas dan lorong-lorong sekolah ada tanaman dalam pot,” kritik Bu Tatik.
Saran lain yang ia berikan adalah belum ada sistem pemilahan dan pengelolaan sampah yang terpola baik. Memang ada keranjang sedekah sampah plastik, tetapi sampah organik belum tersentuh pengelolaannya.
Yang juga menjadi catatan, budaya zero waste belum sepenuhnya dijalankan. Salah satunya adalah jajanan yang dijual di kantin yang dikelola secara bergantian dengan TK Aisyiyah Banyuurip. Masih banyak yang menggunakan kemasan plastik.
“Ini PR bersama, agar kantin dibenahi sehingga memenuhi standar sehat dan ramah lingkungan,” timpal saya.
Edupark Mbois School menjadi bukti bahwa inovasi bisa lahir dari keterbatasan. Dari lahan kosong penuh sampah, kini tercipta taman rindang yang menghidupkan suasana belajar. Lebih dari sekadar ruang hijau, Edupark adalah simbol gotong royong, kreativitas, dan cinta lingkungan.
Jurnalis Mohammad Nurfatoni












