
Hendra Apriyadi, Dosen PBSI FKIP Uhamka, memaparkan inovasi pembelajaran menulis deskripsi berbasis etnopedagogik untuk melestarikan Batik Tegalan, membawa budaya Tegal ke panggung internasional di Chiang Mai University.
Tagar.co – Hendra Apriyadi, Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) FKIP Uhamka, Jakarta, tampil sebagai pembicara dalam seminar internasional di Chiang Mai University, Thailand, pada Selasa (9/12/2025).
Dalam seminar bertajuk The Fifth APPBIPA Thailand Conference on 75 Years of Indonesia-Thailand Diplomatic Relations, Hendra memaparkan artikel ilmiahnya berjudul “Revitalisasi Batik Tegalan Melalui Pembelajaran Menulis Deskripsi dengan Pendekatan Etnopedagogik di SMA”.
Baca juga: Buku ‘Jejak Langkah Kader Muhammadiyah’ Karya Dosen Uhamka asal Tegal Diluncurkan
Ia menjelaskan bagaimana Batik Tegalan, warisan budaya khas Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, dapat direvitalisasi melalui pembelajaran menulis deskripsi dengan pendekatan etnopedagogik di tingkat sekolah menengah atas.
“Pendekatan budaya lokal, atau etnopedagogik, membantu siswa memahami dan menghargai kebudayaan daerahnya sendiri, sekaligus meningkatkan kemampuan menulis deskripsi secara lebih baik,” ujarnya, dalam keterangan tertulis yang diterima Tagar.co, Selasa siang (9/12/25).
Hendra berharap penelitian ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian budaya lokal sekaligus mendorong kualitas pendidikan di Indonesia. Ia menekankan bahwa budaya Tegal, melalui pendekatan pembelajaran yang tepat, dapat dikenal lebih luas hingga ke kancah internasional.
Seminar internasional ini dihadiri oleh para akademisi dari berbagai negara, termasuk Thailand, Malaysia, dan Irlandia, serta dosen-dosen dari perguruan tinggi negeri dan swasta. Kehadiran Hendra memberikan kontribusi signifikan dalam mengenalkan kebudayaan Indonesia kepada masyarakat akademik internasional.
“Penelitian ini menunjukkan bahwa kebudayaan lokal dapat menjadi sumber inspirasi dan inovasi dalam pembelajaran. Pendekatan etnopedagogik dapat diterapkan di berbagai kurikulum dan mata pelajaran, sehingga budaya lokal tetap hidup melalui pendidikan bahasa Indonesia,” tutup Hendra. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












