
Warisan K.H. Ahmad Dahlan kembali relevan di era transfirmasi pendidikan mutakhir. Guru ditantang tidak hanya mengajar, tetapi menyalakan pencerahan, membentuk akhlak, dan mencerdaskan kemanusiaan peserta didik.
Oleh Hendra Apriyadi, M.Pd.; Dosen PBSI FKIP Uhamka
Tagar.co – Meskipun peringatan Hari Guru Nasional telah berlalu, refleksi tentang peran guru tidak pernah kehilangan relevansinya. Justru setelah hiruk-pikuk seremonial usai, kita diingatkan bahwa masa depan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas guru dalam membentuk karakter peserta didik.
Guru yang hebat akan melahirkan siswa yang hebat, dan dari siswa yang berkarakter kuat itulah lahir Indonesia yang maju dan berdaya saing.
Baca juga: Guru Hebat Beraksi di Peringatan HGN TK Aisyiyah 09 Sidayu
Dalam sejarah pendidikan Indonesia, K.H. Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah sekaligus guru bangsa telah menanamkan nilai bahwa pendidikan adalah proses pencerahan. Dia mengajarkan bahwa guru tidak hanya bertugas menyampaikan pelajaran, tetapi membentuk akhlak karimah, membangun kepribadian, dan menanamkan nilai-nilai kemanusiaan.
Melalui Muhammadiyah yang didirikan pada 1912, K.H. Ahmad Dahlan menegaskan bahwa pendidikan adalah jantung gerakan perubahan untuk menjawab ketertinggalan umat dan membangun peradaban.
Warisan pemikiran tersebut terus hidup dan menjadi napas perjuangan para guru Muhammadiyah hingga hari ini. Dengan penuh kesabaran, keikhlasan, dan dedikasi, guru-guru Muhammadiyah telah mencerdaskan kehidupan bangsa di seluruh pelosok negeri.
Cahaya pendidikan Muhammadiyah tidak hanya menyala di kota-kota besar, tetapi tetap berkilau di desa-desa terpencil, wilayah pesisir, dataran tinggi, daerah rawan bencana, hingga kawasan yang sulit dijangkau. Semua itu berkat pengabdian mereka yang bekerja tanpa pamrih, mengajar tanpa mengenal lelah, dan menjadikan pendidikan sebagai jalan pengabdian kepada bangsa dan kemanusiaan.
Guru-guru Muhammadiyah sejak awal telah menjadi pilar utama dalam membangun fondasi intelektual, moral, dan sosial bangsa Indonesia. Mereka melanjutkan jejak K.H. Ahmad Dahlan dengan memberikan teladan, menanamkan nilai kejujuran, kedisiplinan, kerja keras, dan kepedulian sosial kepada peserta didik.
Melalui keteladanan itulah tumbuh generasi yang memiliki karakter kuat, berpikiran maju, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan sesama.
Pendidikan yang Membebaskan
Dalam konteks nasional hari ini, pendidikan karakter menjadi fondasi penting untuk menciptakan generasi tangguh menuju Indonesia Emas 2045. Karena itu, momen pascaperingatan Hari Guru Nasional dapat menjadi waktu yang tepat untuk menguatkan kembali komitmen dalam menyukseskan Gerak Aksi 7 Anak Indonesia Hebat yang diprogramkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.
Program ini selaras dengan prinsip K.H. Ahmad Dahlan bahwa pendidikan harus membebaskan, memajukan, dan membentuk akhlak mulia.
Pada kesempatan ini, penghargaan setinggi-tingginya layak diberikan kepada seluruh guru di Indonesia, khususnya guru Muhammadiyah, yang telah menjadi garda terdepan dalam mencerdaskan bangsa.
Guru adalah pelita yang tidak pernah padam, bekerja dalam senyap tetapi memberikan pengaruh besar bagi masa depan negeri. Guru yang hebat akan membangun Indonesia yang kuat, dan Indonesia akan menjadi bangsa besar jika para gurunya terus dijunjung tinggi. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












