
Kegiatan LLSMS 2025 di SD Muhammadiyah 1 Kebomas Gresik tak hanya berhenti di momen penilaian. Sekolah ini ingin melangkah lebih jauh—membangun budaya sadar lingkungan yang konsisten, menjadikan sekolah sebagai rumah kedua yang sehat, bersih, dan menyenangkan bagi anak-anak.
Tagar.co – SD Muhammadiyah 1 Kebomas (SD Muri), Gresik, tak ingin sekadar ikut lomba. Dalam ajang Lomba Lingkungan Sekolah Muhammadiyah Sehat (LLSMS) 2025, mereka membawa misi yang lebih besar: menjadikan sekolah sebagai rumah kedua yang ramah lingkungan, kreatif, sehat, dan penuh cinta.
“Semoga ini tak sekadar momen penilaian, tapi menjadi langkah kecil menuju budaya sadar lingkungan yang konsisten. Kami ingin menjadikan sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga rumah kedua yang sehat, bersih, dan menyenangkan,” ujar Kepala SD Muri, Riza Agustina Wahyu Setyawati, S.Pd., M.Pd.
Baca juga: Warna-warni Penyambutan Juri LLSMS di SD Muri Gresik: Dari Drumben hingga Batik Giri
Semangat itu bukan sekadar jargon. SD Muri membuktikan bahwa sekolah bisa menjadi tempat yang menumbuhkan karakter dan kreativitas, sekaligus membangun masa depan lingkungan yang lebih baik—dari hal-hal kecil yang dilakukan bersama dengan penuh cinta.

Semangat itu terasa nyata pada Rabu pagi (23/7/2025), saat SD Muri menyambut kedatangan tim juri. Sejak pukul 07.00 WIB, seluruh warga sekolah—dari siswa, guru, hingga karyawan—telah bersiap dengan antusias. Halaman sekolah disulap menjadi panggung kolaborasi, di mana anak-anak dan pendidik bergandengan tangan menghadirkan suasana penuh energi dan makna.
Penyambutan berlangsung khidmat sekaligus meriah. Juri disambut dengan pengalungan kain batik korasi khas Giri dan peci Muhammadiyah—dua simbol penghormatan yang merepresentasikan jati diri lokal dan nilai-nilai persyarikatan. Tak lama, tim drumband SD Muri membawakan lagu Mars Sang Surya, Mars SD Muri, dan Wonderful Indonesia, memecah pagi dengan semangat persatuan.
Kemeriahan berlanjut dengan penampilan “Senam Anak Indonesia Hebat”. Puluhan siswa bergerak lincah mengikuti irama musik ceria. Bahkan para guru, karyawan, dan juri pun ikut larut dalam gerakan bersama yang menunjukkan bahwa hidup sehat bisa dibangun dengan cara yang menggembirakan.

Mohammad Nurfatoni, mewakili tim juri, memberikan apresiasi tinggi atas kekompakan dan kreativitas warga sekolah. Ia mengajak siswa membiasakan tujuh kebiasaan Anak Indonesia Hebat sebagai bekal menjadi generasi unggul dan berkarakter.
Setelah seremoni penyambutan, para juri—Drs. Mohammad Nurfatoni dan Dr Ernawati, S.Kep., Ns., M.Kes.—meninjau berbagai sudut sekolah. Mereka menyambangi ruang kelas, perpustakaan, UKS, taman, hingga kantin sehat. Proses penilaian dilakukan dengan cermat, melibatkan pengamatan langsung dan dialog bersama siswa serta guru.
Dalam penilaiannya, Dr. Ernawati menyoroti pentingnya integrasi antara lingkungan sehat dan ekonomi kreatif. “Sekolah bisa menjadi inkubator ide dan produk ramah lingkungan yang bernilai jual. Mulai dari kompos organik, kantin sehat, hingga produk daur ulang. Inilah ending yang ideal: lingkungan sehat, anak-anak kreatif, dan sekolah mandiri secara ekonomi,” ungkapnya. (#)
Jurnalis Abdul Rohim












