Opini

Dari Muzdalifah Kita Belajar: Batu Dikumpulkan, Ego Ditanggalkan

28
×

Dari Muzdalifah Kita Belajar: Batu Dikumpulkan, Ego Ditanggalkan

Sebarkan artikel ini
Bermalam di bumi Muzdalifah; Membaringkan badan, menghidupkan hati.

Malam itu telah lewat, tetapi pesannya menetap. Di Muzdalifah, kita belajar bahwa ibadah bukan hanya soal raga yang bergerak, tapi jiwa yang mengendap. Batu dikumpulkan sebagai simbol, ego ditanggalkan sebagai ikhtiar menuju keikhlasan sejati.

Catatan dari Tanah Suci (Seri 8); Oleh Firman Arifin Dosen PENS, Jemaah Haji 2025 Nurul Hayat Surabaya

Tagar.co – Setelah Arafah, tibalah kita di Muzdalifah. Dalam dinginnya malam yang menyapa, di tanah lapang, para tamu Allah berkumpul. Tak ada hotel, tak ada kasur. Hanya bumi, langit, dan diri sendiri.

Tugasnya tampak sederhana: bermalam sejenak dan mengumpulkan batu. Namun, seperti halnya tawaf dan sa’i, ritual ini bukan sekadar fisik. Ia sarat makna ruhani.

Malam Kontemplasi: Mengendapkan Jiwa Setelah Guncangan Arafah

Jika Arafah adalah tempat tumpahnya curhat dan air mata, maka Muzdalifah adalah malam pendinginan sistem. Bagi orang teknik elektro atau TI, ini semacam cooling phase setelah overload.

Bayangkan server yang baru saja menangani proses berat. Ia butuh waktu untuk cooling down, agar tidak hang. Begitu pula jiwa kita—setelah menangis, menyesal, dan memohon di Arafah—kini saatnya menstabilkan sistem batin.

Baca Juga:  Saudi Batasi Akses ke Makkah dan Hentikan Izin Umrah Jelang Musim Haji

Mengumpulkan Batu, Menguatkan Niat

Tujuh butir batu. Kecil, ringan, tetapi akan menjadi “perintah hapus” mulai esok pagi. Kita tak hanya akan melontar jumrah. Kita sedang mempersiapkan diri untuk menghapus virus-virus internal:

  • Ego tinggi = malware

  • Dengki = spyware

  • Kesombongan = trojan

  • Malas ibadah = bug dalam sistem

  • Takabur = overclocking yang merusak

Muzdalifah adalah tempat mengumpulkan tekad: untuk menekan tombol “hapus”, “muat ulang”, bahkan “format ulang” jika perlu.

Menutup Malam dengan Rasa Syukur

Bagi yang pernah bermalam di Muzdalifah, tentu tahu: Tidur beralas seadanya, beratapkan bintang, dengan lantunan zikir dan dengkur yang bersahutan—itulah malam yang tak terlupakan.

Bukan karena kemewahannya, melainkan karena jiwa sedang menjalani proses restart dan update firmware iman.

Kita belajar bahwa nikmat bukan soal fasilitas, tetapi soal kesadaran bahwa Allah sedang melakukan maintenance ruhani kita.

Malam di Muzdalifah adalah malam transisi: Dari Arafah yang penuh air mata, menuju Mina yang penuh aksi dan perjuangan.

Siapa yang mampu bertahan di Muzdalifah, insyaallah, esok akan kuat melempar jumrah. Bukan hanya batu, tapi juga semua beban dan dosa lama.

Baca Juga:  Korupsi Kuota Haji: Kejahatan Jabatan Merusak Hak Rakyat

Mari istirahat sejenak, sebelum Allah perintahkan kita melanjutkan perjuangan.

Tapak Tilas: Dari Muzdalifah ke Mina

Setelah Subuh, saatnya bergerak ke Mina. Jaraknya kurang lebih 6,3 kilometer, dan kami menempuhnya dengan berjalan kaki.

Kenapa jalan kaki? Karena bus-bus tak lagi bisa bergerak. Jalan padat—dipenuhi sekitar 2,5 juta manusia yang berjalan serempak. Seperti lautan manusia. Seperti air bah, tapi bening. Tidak menghancurkan, justru membawa haru dan keindahan.

Sepanjang perjalanan, kita bersafari dunia: Bertemu orang Asia, Afrika, Eropa—semua dalam satu arah, satu misi menuju Mina, menuju tempat ujian selanjutnya.

Di antara pegal dan peluh, terselip tawa, doa, dan senyum. Ada yang berbagi air. Ada yang membantu membawakan tas. Ada yang menebar semangat. Ada pula yang saling dorong—bukan karena marah, tapi agar semua tetap maju.

Inilah kebersamaan umat dalam skala global: Bukan pamer kekuatan, tapi latihan kerendahan. Bukan parade bendera, tapi parade hati menuju keikhlasan.

Malam di Muzdalifah dan perjalanan ke Mina adalah sambungan spiritual dari Arafah: Dari tangis, ke tenang, lalu ke tekad.

Baca Juga:  Siar Ramadan di Masjid Nailur Roja Jatinom

Siapa pun yang mampu bersabar di malam Muzdalifah dan kuat melangkah ke Mina, insyaallah, akan kuat pula melontar semua keburukan dalam dirinya.

Mari lanjutkan perjalanan, langkah demi langkah. Karena ini bukan sekadar perjalanan fisik—ini perjalanan menuju Allah. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Opini

Detak jantung tidak pernah berhenti bekerja—tetapi kita sering…