Feature

Dari Kelas Al-Biruni, Guru SD Almadany Belajar Memaknai Bekerja sebagai Dakwah

43
×

Dari Kelas Al-Biruni, Guru SD Almadany Belajar Memaknai Bekerja sebagai Dakwah

Sebarkan artikel ini
Ketua Badan Pengurus Lazismu Gresik, Rojak, S.Pd., M.Pd.I., menyampaikan materi Komitmen Bermuhammadiyah dalam pembinaan guru dan karyawan SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany) Kebomas, Gresik, Sabtu (25/10/2025). (Tagar.co/Eli Syarifah)’

Melalui pembinaan bertema Komitmen Bermuhammadiyah, para guru dan karyawan SD Almadany diteguhkan kembali semangatnya: bekerja demi kemaslahatan umat.

Tagar.co — Suasana ruang kelas VI Al-Biruni SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany) Kebomas, Gresik, Jawa Timur, Sabtu (25/10/2025), terasa hangat dan reflektif. Sekitar 40 guru, karyawan, dan anggota Ranting Muhammadiyah Kedanyang duduk melingkar mengikuti kegiatan pembinaan bertema “Komitmen Bermuhammadiyah”.

Acara ini menghadirkan Rojak, S.Pd., M.Pd.I., Ketua Badan Pengurus Lazismu Gresik, sebagai pemateri.

Baca juga: Mutiara dari Almadany: Arvensyah Ramadanish Raih Medali Perunggu KSNR Ke-7

Bekerja di AUM: Antara Profesi dan Ibadah

Di awal sesi, Rojak membuka dengan pertanyaan sederhana namun menggelitik, “Apa itu Muhammadiyah?” Ia kemudian menjawab sendiri dengan mengutip Anggaran Dasar Muhammadiyah Pasal 4:

“Muhammadiyah adalah gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar, dan tajdid yang bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunah.”

Rozaq mengajak para peserta merefleksikan makna bekerja di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). “Bekerja di AUM bukan sekadar profesi, tetapi panggilan dan bentuk ibadah,” ujarnya sambil mengutip Az-Zariyat 56:

Baca Juga:  Almadany Kartini Fest 2026, Kartini Kecil dengan Mimpi Besar

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

Ia menegaskan bahwa bekerja di AUM berarti berkontribusi dalam dakwah bil hal — dakwah melalui tindakan nyata. “AUM adalah alat dakwah. Ketika kita bekerja dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab, sejatinya kita sedang memperpanjang tangan Persyarikatan,” tutur Rozaq.

Tiga Komitmen Bermuhammadiyah

Lebih lanjut, ia mengurai makna “komitmen” sebagai perjanjian atau tanggung jawab untuk melakukan sesuatu, sebagaimana dijelaskan dalam KBBI. Dalam konteks Muhammadiyah, ada tiga bentuk komitmen yang harus dijaga:

  1. Komitmen Ideologis (Roh): memahami dan mengamalkan nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan.

  2. Komitmen Organisasional (Wadah): aktif dan peduli terhadap persyarikatan, bukan hanya pada AUM tempat bekerja.

  3. Komitmen Profesional (Amal): bekerja dengan mutu terbaik, berintegritas, dan memberi hasil yang optimal.

“Tiga komitmen inilah yang menjadi pondasi bermuhammadiyah. Dengan itu, kita bisa meneguhkan niat dan memaknai kerja sebagai ibadah,” tegasnya.

Etos Kerja dan Visi Profetik

Menurut Rojak, visi profetik Muhammadiyah adalah Khoiru Umah — umat terbaik, sebagaimana tertuang dalam Ali Imran104:

Baca Juga:  Puncak Milad SD Almadany, Wujud Nyata Kreativitas dalam Semangat Brighter Future

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Untuk mewujudkannya, diperlukan empat etos kerja Muhammadiyah:

  • Itqan (profesional dan unggul): bekerja optimal dan berkualitas tinggi.

  • Amanah (integritas dan tanggung jawab): jujur, menepati janji, dan dapat dipercaya.

  • Tajdid (inovatif dan progresif): tidak cepat puas, selalu mencari cara yang lebih baik dan efisien.

  • Khairunnas (kemanfaatan sosial): setiap hasil kerja membawa manfaat luas bagi masyarakat.

Implementasi dan Tantangan

Rojak menekankan bahwa dalam bidang pendidikan, implementasi komitmen bermuhammadiyah harus tampak nyata.

“Guru dan karyawan harus mengajar serta melayani dengan ikhlas, menjadi teladan akhlak mulia bagi siswa, dan aktif mengikuti Baitul Arqam serta kajian Al-Islam dan Kemuhammadiyahan,” katanya.

Namun, ia juga mengingatkan adanya tantangan yang sering muncul: konflik kepentingan, rutinitas, dan godaan material. Solusinya, menurut dia, terletak pada dua hal: penguatan diri dengan meninjau kembali niat bekerja, serta berpegang teguh pada Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM); dan yang kedua, memperkuat lingkungan kerja agar saling meneguhkan dalam kebaikan.

Baca Juga:  Adab Pergaulan Menjelang Balig Dibahas dalam PKDA SD Almadany

Menutup dengan Cinta dan Pengabdian

Di akhir sesi, Rojak menegaskan bahwa komitmen adalah bukti cinta — cinta kepada AUM, Persyarikatan, dan Islam itu sendiri.

“Muhammadiyah bukan tujuan akhir, melainkan wasilah untuk mencapai mardhatillah (rida Allah). Komitmen bermuhammadiyah berarti siap berkorban demi terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, berjiwa Al-Ma’un dan penuh kepedulian sosial,” tuturnya.

Sebelum menutup, ia mengajak seluruh peserta untuk terus menanamkan semangat pengabdian.

“Jadikan AUM ini sebagai tempat terbaik untuk mengabdi, berkarya, dan meraih rida Allah. Sekali Muhammadiyah, tetap Muhammadiyah sampai akhir hayat,” ucapnya penuh keyakinan. (#)

Jurnalis Eli Syarifah Penyunting Mohammad Nurfatoni