Cerpen

Cinta dalam setiap Butir Nasi

41
×

Cinta dalam setiap Butir Nasi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI

Di balik pikulan nasi boran, Sulastri berjuang tanpa lelah demi cinta dan harapan. Malam yang dingin tak menghalangi semangatnya, hingga takdir mempertemukannya dengan kebaikan tak terduga.

Cinta dalam setiap Butir Nasi; Cerpen oleh Nurkhan, Kepala MI Muhammadiyah 2 Campurejo, Panceng, Gresik, Jawa Timur.

Tagar.co – Di bawah cahaya lampu jalan yang redup, seorang wanita duduk di trotoar Jalan Veteran, Lamongan. Di depannya, sebuah pikulan sederhana berisi nasi boran yang mengepul harum, makanan khas Lamongan yang telah ia jual bertahun-tahun.

Pikulan itu terbuat dari bambu yang telah menguning, dihiasi anyaman rotan yang mulai rapuh namun tetap setia menopang beban. Aroma nasi boran yang baru matang bercampur dengan wangi rempeyek goreng dan ikan asin yang gurih, menyelimuti udara malam yang sepi dengan kehangatan.

Tangannya yang keriput begitu cekatan, meracik nasi, ikan, rempeyek, dan bumbu khas yang gurih. Jari-jarinya yang kasar bergerak lincah, menari di atas daun pisang yang menjadi alasnya. Setiap malam, ia menunggu pembeli dengan sabar, mengandalkan senyum tulus yang tak pernah pudar meskipun usia telah merayapi tubuhnya yang ringkih.

Wajahnya yang mulai berkeriput seperti lembaran buku kehidupan yang penuh kisah, tetapi matanya masih bersinar, memancarkan cahaya semangat yang tak pernah redup. Senyumnya selalu menyapa setiap orang di sekelilingnya, memberikan kehangatan dalam kesederhanaan.

Baca Juga:  Menko Pangan Tinjau Koperasi dan Stabilitas Harga di Gresik

Cerpen Nurhan lainnya: Doa di Jalan Angker

Sulastri bukan hanya berjualan untuk mengisi waktu luang. Ia adalah tiang kokoh yang menopang keluarganya. Di rumah, suaminya, Karto, menanti dalam diam. Dua puluh lima tahun lamanya Karto tak bisa berjalan. Kakinya lumpuh sejak lama, membuatnya hanya bisa berbaring dan sesekali duduk di kursi kayu di depan rumah. Kursi tua itu, warnanya telah pudar dimakan waktu, namun tetap setia menopang tubuh ringkihnya. Sejak itu, Sulastri mengambil peran yang lebih besar—bukan hanya sebagai istri, tetapi juga pencari nafkah.

Dinginnya malam tak pernah menyurutkan langkahnya. Meski kakinya mulai lelah menapak trotoar, ia tetap teguh berdiri. Bagi Sulastri, kehidupan bukan tentang mengeluh, melainkan tentang berjuang. Setiap butir nasi yang ia jual adalah titipan harapan. Setiap uang yang ia terima adalah cinta yang ia bawa pulang untuk Karto. Tak sekalipun ia mengeluh meski terkadang harus menahan lapar agar suaminya tetap makan dengan layak.

Ketika dagangannya hampir habis, seorang pemuda mendekat. Matanya menyiratkan ketertarikan dan kekaguman. “Mbah, saya sering melihat panjenengan di sini. Saya ingin membeli nasi boran ini, tapi bolehkah saya bertanya sesuatu?”

Baca Juga:  Merajut Harmoni Lintas Generasi: Spirit Idulfitri dalam Manajemen Madrasah

Sulastri tersenyum, tangannya tetap sibuk menyendok nasi. “Tentu, Nak. Apa yang ingin kau tanyakan?”

Pemuda itu menatapnya dalam, lalu berkata pelan, “Apa yang membuat Mbah tetap semangat seperti ini?”

Sulastri tersenyum lebih lebar, menatap pemuda itu dengan tatapan penuh arti. “Karena hidup harus terus berjalan, Nak. Selama kita masih diberi kesempatan untuk berbuat baik, selama itu pula kita harus terus melangkah. Saya hanya ingin suami saya tetap makan dengan layak, dan saya bisa tidur dengan tenang karena tahu saya sudah berusaha sebaik mungkin.”

Pemuda itu terdiam, lalu mengangguk. Tanpa berkata banyak, ia membeli dua bungkus nasi boran dan menyelipkan lembaran uang lebih banyak dari seharusnya. “Ini untuk Mbah. Terima kasih sudah mengajarkan saya sesuatu malam ini.”

Sulastri tersenyum, menerima uang itu dengan hati penuh syukur. Ia tak pernah meminta lebih, namun kebaikan selalu datang pada mereka yang ikhlas berjuang. Malam itu, ia pulang dengan hati hangat. Di rumah, Karto menunggunya dengan tatapan penuh harap.

Sulastri duduk di samping suaminya, menggenggam tangannya erat. “Alhamdulillah, Pak. Dagangan hampir habis.”

Karto menatap istrinya dengan mata berkaca-kaca. “Terima kasih, Bu. Kamu sudah berjuang terlalu keras untuk kita.”

Sulastri hanya tersenyum. Baginya, selama masih ada hari esok, ia akan terus berjuang. Karena dalam setiap butir nasi boran yang ia jual, ada cinta, ada harapan, dan ada doa yang tak pernah putus.

Baca Juga:  Hari Pertama Masuk Sekolah, Sebuah Renungan

Ia membuka bungkusan nasi boran yang tersisa, menyuapi Karto dengan penuh kasih sayang. Suara jangkrik di luar rumah menemani malam mereka, seolah ikut mendoakan kebahagiaan pasangan sederhana ini.

Di sudut ruangan, foto lama mereka berdua tergantung di dinding. Foto itu diambil saat mereka masih muda, penuh tawa dan harapan. Meski waktu telah mengubah banyak hal, cinta mereka tetap sama, bahkan mungkin lebih kuat. Sulastri menatap foto itu sebentar, lalu kembali ke suaminya. “Besok kita coba buat rempeyek lebih banyak, ya, Pak. Semoga lebih laku.”

Karto mengangguk, memegang tangan istrinya dengan erat. “Aku percaya padamu, Bu. Kamu selalu bisa.”

Malam semakin larut, tapi cahaya kecil di rumah mereka tetap menyala. Cahaya itu mungkin redup, tetapi cukup untuk menerangi hati mereka yang penuh cinta dan harapan.

Sulastri tahu, besok adalah hari baru. Ia akan kembali berjuang, seperti biasa. Karena baginya, hidup adalah tentang memberi yang terbaik, meski dunia tak selalu membalas dengan setimpal. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni