
Jemaah Pengajian Ahad Pagi Masjid At-Taqwa Menganti Gresik menyimak ceramah inspiratif tentang Atomic Habits. Dengan kebiasaan kecil yang konsisten, perubahan besar terjadi. Apa kuncinya?
Tagar.co – Puasa Ramadan tidak menyurutkan langkah kaki jemaah Pengajian Ahad Pagi Masjid At-Taqwa Wisma Sidoajangkung Indah, Menganti, Gresik, Jawa Timur, Ahad (2/3/25). Ratusan orang dari perumahan Wisma Sidojangkung Indah Menganti dan sekitarnya berduyun-duyun mengikuti kegiatan rutin tiap Ahad pertama ini.
Kali ini yang menjadi narasumber adalah Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., dari Griya Parenting Surabaya. Dia menyampaikan ceramah inspiratif tentang bagaimana kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membawa perubahan besar dalam kehidupan.
Baca juga:Ahad Pagi di Menganti: Menemukan Cahaya dan Kebahagiaan di Masjid At-Taqwa
Dengan gaya santai namun penuh wibawa, dia mengajak jemaah untuk memahami pentingnya Atomic Habits, sebuah konsep yang ditulis oleh James Clear dalam bukunya Atomic Habits: Cara Mudah dan Terbukti Untuk Membentuk kebiasaan Baik dan Menghilangkan Kebiasaan Buruk.
Istilah atom merujuk pada bagian tunggal atau terkecil yang tidak bisa dibagi lagi dalam suatu sistem. Sedangkan habit adalah rutinitas yang dilakukan secara teratur hingga pada tahap otomatis. “Jika kita kaitkan dengan kebiasaan, maka atom dapat diibaratkan sebagai unit kecil dari tindakan yang dilakukan secara terus-menerus tanpa henti sehingga menjadi kebiasaan yang otomatis,” terangnya.
Dia mengaitkan dengan bom atom, meski berukuran kecil namun memiliki daya ledak yang sangat besar. Maka, menurutnya, kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara kontinu akan memberikan efek besar, baik bagi diri sendiri, keluarga, maupun lembaga.
Konsep atomic habit ini mengingatkan Ustaz Jinan pada hadis riwayat Bukhari dan Muslim: “Amal (ibadah) yang paling dicintai Allah Azzawajalla adalah amal yang terus-menerus dikerjakan meskipun sedikit.”
Jadi, dia menekankan, amal yang paling dicintai Allah adalah yang dikerjakan terus-menerus meskipun sedikit.
Befoster: Perubahan dari Hal Kecil
Untuk mengilustrasikan kekuatan Atomic Habits, Ustaz Jinan membagikan pengalaman mendampingi pelatihan guru-guru di sebuah sekolah melalui program befoster—akronim dari before process, and afeter.
Program ini untuk melakukan perubahan kecil yang konsisten, dengan cara mendokumentasikan hasilnya melalui foto before (sebelum) dan after (sesudah). Berikut cara pelaksanaannya, sebagaimana dijelaskan Ustaz Jinan:
-
Menentukan Objek
Para guru diminta untuk memilih satu area atau objek yang ingin dirapikan, seperti laci meja. -
Mendokumentasikan Perubahan
- Foto kondisi sebelum dirapikan (before).
- Merapikan sesuai instruksi dalam waktu 4-5 menit.
- Foto kondisi setelah dirapikan (after).
-
Membagikan Hasil
- Foto before dan after digabung dalam satu bingkai.
- Diposting di WhatsApp group sebagai bentuk laporan.
- Mengisi checklist sebagai bukti kebiasaan telah dilakukan.
-
Menerapkan Konsistensi
- Setiap hari, peserta mencari objek lain yang perlu dirapikan.
- Proses diulang selama 35 hari.
- Muncul kebiasaan alami untuk menjaga kerapian.
Hasilnya? “Setelah 35 hari, banyak peserta melaporkan bahwa mereka merasa tidak nyaman melihat kondisi yang berantakan. Ini menandakan bahwa kebiasaan baru telah terbentuk,” katanya.
Namun, lanjutnya, ada tantangan yang muncul dalam proses ini, seperti lupa mengambil foto atau terlalu sibuk sehingga tidak sempat mendokumentasikan perubahan. Meski begitu, perubahan tetap terjadi.
Prinsip Dasar Atomic Habits
Setelah menceritakan bagaiaman dia menerapkan konsep befoster di atas, Ustaz Jinan membuat kerangka agar konsep itu bisa diterapkan pada kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan keluarga.
-
Mulai dari yang Kecil dan Waktu yang Pendek
Menurutnya, banyak orang gagal membangun kebiasaan karena terlalu berambisi di awal. Jika ingin membangun kebiasaan membaca Al-Quran, mulailah dengan satu halaman per hari daripada memaksakan satu juz langsung dalam waktu sepekan. -
Bangun Lingkungan yang Mendukung
- Kebiasaan harus dilakukan oleh semua anggota keluarga atau komunitas. “Jika hanya ibu yang disiplin sementara anggota keluarga lain tidak mendukung, maka kebiasaan sulit terbentuk,” terangnya.
-
Buat Kebiasaan Lebih Terlihat dengan Sistem Kontrol
- Dokumentasikan perubahan dan lakukan pemantauan.
- Misalnya, dalam gerakan befoster, kebiasaan dicatat melalui checklist dan foto yang dikirim ke WhatsApp group.
-
Berikan Afirmasi Positif
- Jika seorang anak terbiasa dengan kebiasaan baik di rumah, apresiasi dengan kata-kata seperti “Wah, hebat! Sepagi ini sudah membuat checklist.” Menurut Ustaz Jinan afirmasi lebih berdampak dibanding kritik atau teguran.
Kisah Inspiratif
Sebuah kisah menarik datang dari sebuah sekolah SMP di Bekasi, Jawa Barat, di mana seorang siswa dikenal selalu sempurna dalam menjalankan atomic habits. Teman-temannya penasaran hingga ada yang sengaja menginap di rumahnya untuk mengamati. Namun, selama dua malam berturut-turut, tidak ada tanda-tanda bahwa siswa tersebut benar-benar menjalankan kebiasaan yang diklaimnya.
Ketika akhirnya ketahuan, siswa itu merasa malu karena selama ini ia hanya berpura-pura. Namun, yang menarik adalah bagaimana para guru meresponsnya—bukannya menghukum, mereka tetap memberi afirmasi positif. Akhirnya, siswa itu merasa tersentuh dan benar-benar mulai menjalankan kebiasaan baik dengan tulus.
Ini menunjukkan bahwa konsistensi lebih penting daripada kesempurnaan. Afirmasi dan apresiasi memiliki kekuatan besar dalam membangun kebiasaan baik yang bertahan lama. Seperti dalam konsep Atomic Habits, perubahan kecil yang terus dilakukan akan membawa dampak besar dalam jangka panjang.
Menjalankan Kebiasaan dengan Konsistensi
Sebagai penutup, Ustaz Miftahul Jinan menegaskan bahwa keberhasilan seseorang tidak ditentukan oleh usaha besar dalam waktu singkat, melainkan oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara terus-menerus.
Dia lalu membawa materi ini dlam konteks Ramadan. Atomic habits bisa dilakukan misalnya dengan mendoakan orang lain, berterima kasih, dan memaafkan.
“Jangan pernah memulai kebiasaan baik dengan sesuatu yang berat dan sulit. Mulailah dari yang ringan, yang bisa dilakukan setiap hari. Yang penting adalah konsistensi,” ujarnya mengingatkan.
Ceramah ini memberikan wawasan mendalam bahwa perubahan tidak harus dilakukan secara drastis. Dengan menerapkan konsep Atomic Habits, setiap orang bisa memperbaiki diri secara perlahan, tetapi pasti. (#)
Jurnalis Mohammad Nurfatoni












