Feature

Cerita Masjid Tua Ledok Tempuro saat Kunjungan Tim Wakaf

51
×

Cerita Masjid Tua Ledok Tempuro saat Kunjungan Tim Wakaf

Sebarkan artikel ini
Cerita masjid tua di Ledok Tempuro mengungkap kisah perjuangan Kiai Pandan dan dakwah Muhammadiyah di daerah Randuagung.
Pertemuan Tim Wakaf PDM Lumajang dengan PCM Randuagung di Ledok Tempuro. (Tagar.co/Kuswantoro)

Cerita masjid tua di Ledok Tempuro mengungkap kisah perjuangan Kiai Pandan dan dakwah Muhammadiyah di daerah Randuagung.

Tagar.co – PCM Randuagung menjadi tujuan perjalanan Tim Satgas Percepatan Wakaf Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lumajang, Rabu (27/8/2025) sore pukul 16.00.

Mereka berangkat dari Gedung Dakwah Muhammadiyah di Jalan Brantas. Tim beranggotakan empat orang terdiri Koordinator Satgas, M Lutfi Aqil, bersama Nadjib Faizin, Muhammad Yusuf Hidayatullah, dan Kuswantoro.

Posisi Randuagung paling ujung utara yang berbatasan dengan Tanggul, Kabupaten Jember.

Tibanya di lokasi, Ketua PCM Randuagung, Agus Kholiq, dan Wakil Ketua PCM, Hasan Rahmad, datang menyambut. Dua bersaudara ini sudah lama mengabdi di persyarikatan.

Pertemuan sore itu berlangsung di rumah Agus Kholiq, satu lokasi dengan Masjid Nurut Taqwa dan Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah di Ledok Tempuro.

Masjid Tertua

Sambil menunggu waktu Magrib, suasana mencair dengan cerita lama. Agus Kholiq membuka kisah tentang Masjid Nurut Taqwa.

”Masjid ini berdiri sejak 1905, jauh sebelum Muhammadiyah lahir. Yang mendirikan kakek buyut saya, Kiai Pandan,” tuturnya.

Baca Juga:  Masjid Uranggantung Kejutan Baru PCM Candipuro

Setelah Kiai Pandan wafat, perjuangan memakmurkan masjid diteruskan menantunya, Kiai Nursari, yang tak lain adalah kakek Agus Kholiq. Nama Kiai Nursari dikenal sebagai tokoh Masyumi di masanya.

Agus Kholiq juga bercerita, Kiai Nursari adalah tokoh yang disegani di daerah Ledok Tempuro. Ia dikenal sebagai orang pertama yang memelopori pembuatan irigasi untuk persawahan di sekitar Ledok Tempuro pada zaman Belanda sekitar tahun 1930.

Dakwah Muhammadiyah di Lumajang berkembang pesat. Pada periode kepemimpinan Soeroja Dwija Darsana (1975–1980), dukungan penuh diberikan untuk Cabang Randuagung.

”Sejak itu proses wakaf Masjid Nurul Taqwa resmi diselesaikan pada tahun 1980,” ujar Agus Kholiq.

Tahun 1956 berdiri madrasah di kompleks tersebut. “Awalnya bernama Bustanul Ulum. Baru pada tahun 1980 berubah nama menjadi MI Muhammadiyah,” jelasnya.

Madrasah ini, menurut Agus, menjadi sarana pengaderan Muhammadiyah. Banyak alumni madrasah yang sukses dan tetap mengingat almamaternya dengan memberikan infak untuk pengembangan dan pembangunan.

Kompleks Masjid Nurut Taqwa dan MI Muhammadiyah yang terletak di Ledok Tempuro, Randuagung, disebutnya sebagai embrio berdirinya Muhammadiyah di cabang tersebut. Saat ini jumlah murid di sekolah itu sudah mencapai 200 siswa.

Baca Juga:  Mengenalkan Lazismu ke Anak-Anak lewat Dongeng  

Dari kompleks Ledok Tempuro, Muhammadiyah Randuagung terus berkembang mendirikan amal usaha melalui pendidikan. Tidak selang beberapa waktu berdiri MI Muhammadiyah Buwek yang sekarang muridnya sekitar 80 siswa.

Dengan semangat warga persyarikatan dan dorongan dari Pimpinan Daerah, berdirilah MTs Muhammadiyah Randuagung yang kini memiliki 75 siswa.

Juga berdiri TK ABA yang dikelola oleh Pimpinan Cabang Aisyiyah Randuagung.

“Kami mohon kepada PDM jangan bosan-bosan membimbing kami yang di cabang ini. Selain pendidikan, juga masih ada Masjid Shitta dan Koperasi Madani yang asetnya satu miliar,” jelas Agus Kholiq.

Masjid Nurul Taqwa dan MI Muhammadiyah di Ledok Tempuro. (Tagar.co/Kuswantoro)

Kunjungan Ke-12

M Lutfi Aqil menambahkan bahwa kunjungan ke PCM Randuagung ini adalah kunjungan ke-12 dari tim satgas.

“Mudah-mudahan tim ini selalu diberi kesehatan dalam mengemban tugas ini. Dan saya ucapkan banyak terima kasih telah menerima tim ini untuk bisa diskusi terkait aset wakaf Muhammadiyah di Randuagung ini,” cerita dia.

Ia menegaskan pentingnya pencatatan aset secara baik.

“Supaya aset di Randuagung bisa tercatat dengan baik, sehingga ke depan para penerus ini tahu aset-aset yang ada. Sertifikat yang belum diserahkan ke PDM bisa dijadikan satu dalam rangka penyelamatan, karena banyak kasus sertifikat hilang dan kalau hilang biaya pengurusannya juga besar,” jelasnya.

Baca Juga:  Bupati Hadiri Pembagian Kado Ramadan Lazismu Lumajang

Menurutnya, langkah cepat harus diambil. Tim gerak cepat dengan dukungan PCM semakin semangat untuk menjalankan tugas.

”Dengan turun ke bawah, kami jadi banyak belajar ke bapak-bapak bagaimana lelahnya berjuang untuk kepentingan umat yang butuh nafas panjang. Sehingga kami yang muda-muda ini bisa mencontoh keikhlasan bapak-bapak semua,” pungkasnya.

Cerita perjalanan masjid tua yang kokoh berdiri lebih dari seabad itu, sore itu bertemu dengan semangat baru Satgas Percepatan Wakaf PDM Lumajang. Sejarah dan masa depan dipertemukan di Randuagung.

Jurnalis Kuswantoro  Penyunting Sugeng Purwanto