
“Damar naik ke loker lagi!” seru seorang anak. Aku menoleh, dan di sana ia duduk santai seolah tak peduli. Bagaimana cara membuatnya turun? Ah, hari ini pasti panjang …
Cahaya Kecil untuk Damar; Cerpen oleh Nadhirotul Mawaddah; Guru TK Aisyiyah 41 Menganti, Gresik, Jawa Timur
Tagar.co – “Bu Guru, Damar naik ke atas loker lagi,” seru seorang anak di kelas. Aku menoleh dan melihat Damar duduk santai di sana, kakinya bergoyang-goyang seolah menikmati pemandangan dari atas. Aku memanggilnya, tapi dia hanya menatapku sekilas lalu kembali berbicara sendiri.
Damar, anak laki-laki berkulit putih bersih dan berparas tampan, memiliki autisme. Ia mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, menunjukkan perilaku repetitif, dan mengalami tantangan dalam interaksi sosial.
Saat orang tuanya mendaftarkan Damar ke sekolah, mereka tidak menjelaskan kondisinya. Aku baru menyadari ada sesuatu yang berbeda ketika melihatnya di hari pertama.
Baca cerpen lainnya: Luka Batin Imran
Damar tampak antusias di antara teman-temannya. Begitu masuk kelas, ia langsung bergerak aktif ke sana kemari. Loker tempat penyimpanan tas anak-anak sudah berhasil ia daki, lalu duduk di atasnya dengan santai.
Berkali-kali aku harus memanggilnya dan meminta dia turun, tetapi tak ada respons. Dari situ, aku sadar Damar membutuhkan perhatian khusus.
“Nek, mohon maaf. Apakah Damar di rumah bisa diajak komunikasi?” tanyaku pada neneknya saat sekolah usai.
“Bisa kok, Bu Guru,” jawabnya. “Memang dia belum bisa bicara, tapi kalau diberi tahu, dia paham kok.”
Baiklah, aku akan mencoba lagi besok. Mungkin hari ini Damar belum mau menurut karena belum mengenalku.
Keesokan harinya, Damar masih sama. Dengan cuek, ia naik ke atas loker, memandang sekeliling, lalu berbicara tidak jelas. Aku kembali mencoba memanggilnya, tetapi suaraku hanya angin lalu baginya.
Aku semakin yakin bahwa Damar memang membutuhkan pendekatan berbeda.
Suatu hari, aku berbincang dengan neneknya lagi.
“Mama Papanya kerja, Bu Guru. Damar di rumah sama saya,” katanya. “Tingkahnya banyak sekali. Supaya lebih tenang, saya kasih HP.”
“Sejak kapan, Nek?” tanyaku, sedikit terkejut.
“Sejak bayi, Bu Guru. Kalau nggak dikasih HP, saya nggak bisa ngapa-ngapain.”
Aku terdiam. Sejak bayi?
“Sampai sekarang?” tanyaku lagi.
“Iya. Kalau nggak dikasih, Damar ngambek, Bu Guru. Kadang tantrum, jadi ya saya kasih saja.”
Aku menghela napas. Jika ini terus dibiarkan, bagaimana perkembangan Damar ke depannya?
“Bisakah Nenek mengurangi sedikit demi sedikit ketergantungannya pada HP?” usulku pelan. “Di rumah, coba beri dia mainan seperti lego atau ajak bermain dengan teman sebaya.”
“Waduh, susah, Bu Guru,” neneknya menghela napas. “Damar itu nggak bisa fokus. Dia juga nggak mau main sama anak-anak di rumah. Satu-satunya cara biar dia tenang ya HP.”
Aku tersenyum walau hatiku sedikit berat. Aku harus menemukan cara agar neneknya memahami pentingnya perubahan ini, tanpa membuatnya merasa bersalah.
Setiap pagi, naik ke atas loker seolah sudah menjadi ritual bagi Damar. Saat ia bosan, ia menyelinap keluar kelas, menuju tangga majemuk di playground. Jika sudah naik di atas sana, aku bisa kewalahan mengajaknya kembali.
“Damar, boleh main di luar, tapi setelah salat Duha ya?” ucapku lembut.
Meskipun ia tidak merespons, aku tetap berbicara padanya, berharap suatu hari nanti ia mulai memahami rutinitas kelas.
Awalnya, aku mencoba mengunci kelas untuk mencegah Damar kabur. Namun, ia ternyata sangat cerdik. Ketika aku lengah, Damar sudah berhasil keluar dengan mengambil kunci yang ada di meja.
“Bu Guru, Damar keluar kelas!” seru Vando sambil menunjuknya yang berlari keluar.
Aku segera menyusulnya.
Rupanya, Damar masuk ke kantor. Di sana, ia sibuk mengamati layar monitor komputer yang menyala. Aku menghela napas lega. Setidaknya, ia tidak melakukan sesuatu yang berbahaya.
Namun, beberapa saat kemudian, Karin datang membawa sesuatu.
“Bu Guru, coba lihat,” katanya sambil membuka telapak tangannya.
Aku melihat potongan-potongan huruf dari keyboard komputer.
“Karin, kamu dapat ini dari mana?” tanyaku, sedikit cemas.
“Dari kantor, Bu Guru,” jawabnya polos.
Aku segera bergegas ke kantor.
Benar saja. Keyboard komputer sudah berubah menjadi puzzle.
Di sudut ruangan, Damar berdiri dengan wajah polos, bahkan sedikit bangga dengan ‘karyanya’.
Aku mendekatinya pelan, tapi ia langsung berlari keluar dan kembali ke kelas.
Sementara itu, Karin dengan sigap membantuku merapikan kepingan-kepingan keyboard.
“Tidak apa-apa, Bu Guru,” katanya dengan lembut. “Damar kan masih belum paham. Suatu hari nanti, dia pasti mengerti kalau ini gunanya untuk main komputer.”
Aku tertegun. Anak sekecil ini bisa memahami kondisi temannya dengan begitu tulus.
Di lain waktu, Vando juga menunjukkan perhatian yang luar biasa.
“Bu Guru, tadi Damar mau main kipas angin,” katanya. “Aku takut tangannya terluka, jadi kipasnya aku matikan.”
Aku kembali dibuat kagum. Betapa luar biasanya anak-anak ini!
“Masya Allah, anak-anak hebat,” ucapku dengan mata berkaca-kaca. “Terima kasih sudah menjaga dan menyayangi Damar.”
Tanpa sadar, air mata menetes di pipiku.
Hari demi hari berlalu. Teman-teman Damar terus memberikan dukungan tanpa diminta. Mereka dengan tulus menjaganya, membimbingnya, dan mengajaknya bermain.
Sampai suatu hari, terjadi sesuatu yang mengejutkanku.
Damar ikut berdiri dalam barisan teman-temannya untuk salat Duha.
Gerakannya memang belum sempurna, ucapannya masih belum jelas, tapi ia mencoba. Ia berusaha.
Tidak hanya itu, saat makan bersama, ia bisa mengucapkan doa sebelum makan dan bahkan mau antre mencuci tangan.
Aku tersenyum haru. Aku tahu, ini adalah hasil dari cinta dan kesabaran teman-temannya.
Mereka telah membuktikan bahwa kasih sayang bisa mengubah banyak hal.
Aku memandangi mereka dengan bangga.
Hari ini, aku belajar sesuatu.
Bahwa keajaiban tidak selalu datang dari hal besar. Kadang, ia hadir lewat sentuhan cinta yang sederhana—dari anak-anak kecil yang hatinya begitu tulus.
“Terima kasih, malaikat-malaikat kecilku,” bisikku dalam hati.
Alhamdulillah. Tuhan memang sutradara terbaik dalam kehidupan ini. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












