Feature

Bukan Robot, Masih Anak Biasa: Kisah Kiano Raih Medali OSN 2025

46
×

Bukan Robot, Masih Anak Biasa: Kisah Kiano Raih Medali OSN 2025

Sebarkan artikel ini
Azkiano Kenzo Nawafa bersama keluarga dan Kepala Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur, Dr. Aries Agung P, S.STP, M.M. yang turut hadir menjemput para peraih medali OSN SD/SMP kontingen jatim di Juanda Surabaya. (Tagar.co/Issi Anissa)

Kiano membuktikan bahwa prestasi besar tak lahir dari robot belajar, melainkan dari anak biasa yang mampu menjaga keseimbangan antara belajar, bermain, dan mengaji.

Tagar.co – Senyum bangga terpancar dari wajah Azkiano Kenzo Nawafa ketika namanya diumumkan sebagai peraih medali perunggu bidang IPA tingkat SMP pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2025 di Hotel Novotel Jakartam Jumat (26/9/26).

Siswa MTs Muhammadiyah Kota Probolinggo ini berhasil menorehkan prestasi gemilang, buah dari kerja keras, doa orangtua, serta dukungan guru yang tak pernah lelah membimbingnya.

Jerih payah Kiano—sapaan akrabnya—tidak berjalan sendirian. Dukungan sekolah dan kontribusi orangtua menjadi pilar penting dalam perjalanannya. Ia berangkat bersama kontingen Jawa Timur yang terdiri atas 25 siswa SD dan SMP.

Baca juga: Dua Siswa Muhammadiyah Jatim Raih Medali OSN 2025: Fikri dan Kiano Catat Sejarah

Dalam perjalanan akademiknya, sang ayah, Lutfi Indrianto, yang juga guru Fisika SMAN 1 Dringu Kabupaten Probolinggo, berperan besar mendampingi dan membimbingnya khusus di bidang Fisika.

Bidang Biologi ia pelajari bersama guru privat, sementara para guru di MTs Muhammadiyah Kota Probolinggo juga aktif memberikan bimbingan. Dukungan menyeluruh inilah yang mengantar Kiano mampu bersaing di ajang bergengsi.

Baca Juga:  Remaja Putri Probolinggo Antusias Ikuti Kajian Bestie Aisyiyah Mayangan

Rutinitas Belajar

Sang ibu, Issi Anissa, menceritakan rutinitas harian Kiano yang sederhana namun konsisten.

“Kiano seperti anak-anak lainnya, belajar 3–4 jam setiap hari. Dimulai setelah Magrib, berhenti sejenak untuk salat Isya, lalu dilanjutkan hingga pukul 21.00 WIB. Kalau persiapan olimpiade, biasanya waktunya lebih panjang sampai pukul 23.00 WIB atau lebih. Kalau libur, bisa lebih lama lagi porsinya,” tuturnya, Sabtu (27/9/25)

Kiano terbiasa membaca buku-buku IPA jenjang SMA, mengerjakan soal, latihan praktikum, hingga memanfaatkan YouTube sebagai sarana belajar.

Meski demikian, ia tetap menyelesaikan tugas sekolah dan mampu menyeimbangkan dengan latihan soal olimpiade setiap hari.

Azkiano Kenzo Nawafa bersama ayah Lutfi Indrianto saat menerima penghargaan sebagai juara III Bidang IPA tingkat SMP OSN 2025 (Tagar.co/Issi Anissa)

Dunia dan Akhirat Seimbang

Bagi kedua orangtuanya, prestasi akademik harus berjalan seiring dengan pendidikan agama.

“Antara akademik dan agama harus berimbang. Kalau agamanya baik, akademiknya insyaallah mengikuti. Dari kecil Kiano sudah mengaji di rumah, sekolah, TPQ, hingga khatmil dan mengikuti program tahfiz. Alhamdulillah sekarang sudah menuju enam juz hafalan Al-Qur’an,” jelas Issi.

Kenangan Guru

Kiano juga meninggalkan kesan mendalam bagi para gurunya. Arlina Diva Maryanti, guru TK ‘Aisyiyah 1 Kota Probolinggo, mengenangnya sebagai murid mandiri sejak dini.

Baca Juga:  Masjid Al-Qasem IAD Diresmikan, Rektor: Mahasiswa Lebih Betah di Masjid daripada di Cafe

“Kiano itu kalau belajar tidak perlu disuruh. Dia cerdas bahasa, bahkan orang bilang ceriwis,” ungkap Diva.

Sementara Dwi Mauludiwati, guru kelas 6 di MI Muhammadiyah 1 Kota Probolinggo, merasa bangga pernah membimbingnya.

“Kiano pintar, tawadhu’, hormat pada guru, dan adabnya patut diacungi jempol,” katanya.

Bukan Robot, Masih Anak Biasa

Apakah Kiano hanya belajar tanpa henti? Issi menjawab sambil tertawa, “Tidak ada robot-robotan sama sekali.”

Seperti anak-anak kebanyakan, Kiano tetap punya waktu bermain bersama teman, adik laki-lakinya, serta dua adik perempuan kembarnya. Ia juga gemar bermain game.

Orang tuanya memberi kebebasan dengan catatan Kiano mampu mengatur sendiri waktu belajar dan bermain.

Untuk menjaga semangat, keluarga sering mengajaknya makan di luar atau berwisata saat liburan. “Itu bagian dari cara merefresh energi agar kembali bersemangat,” tambah Issi.

Harapan ke Depan

Menurut Issi, capaian ini adalah buah dari perjuangan panjang, ketekunan, dan doa yang tak henti. Ia berharap prestasi ini menjadi motivasi bagi Kiano untuk terus menggali potensi diri dan menjadi ilmuwan muslim yang cerdas, kreatif, mandiri, serta berakhlak mulia.

Baca Juga:  Daurah Usia Emas di Probolinggo: Menata Amal, Menjemput Husnul Khatimah

“Yang terpenting, jangan pernah lupa bersyukur. Semua ini bisa diraih karena Allah yang memampukan, memudahkan, dan meridai,” tuturnya.

Harapannya, Kiano dapat terus mengharumkan nama sekolah MTs Muhammadiyah 1 Probolinggo, membawa nama baik Kota Probolinggo di kancah nasional maupun internasional, serta menjadi generasi muda yang menebar manfaat bagi agama, keluarga, dan bangsa. (#)

Jurnalis Izza El Mila Penyunting Mohammad Nurfatoni