
Siapa sangka, limbah jerami yang selama ini dibiarkan mengering atau dibakar ternyata bisa berubah menjadi bahan bakar sekelas RON 98. Dari bengkel kecil di Jonggol, Muhammad Ikhlas Thamrin meramu sains, kegigihan, dan mesin rakitan menjadi inovasi hijau yang membuka babak baru energi Indonesia.
Tagar.co – Negeri kita ini sejatinya bukan kekurangan talenta. Buktinya, lihat saja para peneliti, inventor, dan anak-anak muda yang berani gila-gilaan bereksperimen. Yang kurang itu, saudara-saudara, adalah stamina mental dan fisik, etos kerja yang menempel seperti lem super, dan resiliensi level Iron Man.
Baca juga: Air dan Tanah: Dua Unsur Tua, Dua Harapan Baru
Thomas Alva Edison, misalnya, pernah jatuh bangun melakukan eksperimen lebih dari seribu kali sebelum akhirnya menemukan lampu bohlam yang bisa menyalakan dunia. Bayangkan, seribu kali salah sebelum benar! Tapi resiliensi dan kesabarannya membuat bohlam mendatangkan pahala abadi.
Syukurlah, kita punya Ikhlas —Muhammad Ikhlas Thamrin. Pemuda asal Jonggol, Bogor, ini berhasil mewujudkan hasil penelitian yang mungkin dulu hanya menumpuk di laci BRIN atau kampus mana pun menjadi produk nyata: Bobibos, bahan bakar nabati siap pakai yang bisa diandalkan sebagai energi hijau alternatif.
Dan ini bukan sekadar drama ilmiah lokal. Bayangkan, dari satu hektare sawah padi yang menghasilkan jerami, Ikhlas bisa mengekstraksi sekitar 3.000 liter bahan bakar berkinerja tinggi, setara dengan bensin RON 98 —nilai oktan tertinggi yang biasanya hanya dinikmati mobil-mobil premium.
RON (research octane number) adalah ukuran kemampuan bensin menahan detonasi dini. Semakin tinggi RON, semakin “tenang” mesin bekerja dan semakin efisien. Di dunia yang kian rapuh karena polusi dan emisi karbon, temuan ini penting: menghadirkan bahan bakar rendah emisi dari limbah pertanian, jerami.
Nah, jerami inilah harta karun yang kita kelola. Tidak perlu memaksa masyarakat menanam sesuatu yang aneh-aneh seperti pohon jarak. Sawah biarlah tetap menumbuhkan padi, padi tetap menghasilkan beras. Dan jerami, sisanya? Jangan dibakar seperti selama ini. Mari kita sulap menjadi bahan bakar. Caranya?
Ikhlas punya jawaban nyata: memakai teknologi biochemistry yang dikawinkan dengan mesin buatan sendiri. Mesin ini bukan beli jadi, tapi dirancang dari nol dan diuji coba bertahun-tahun. Dari lima tahap ekstraksi jerami, mesin menghasilkan output bahan bakar nabati berkinerja tinggi.
Lima tahap itu bukan sekadar angka: itu lima tahapan keuletan, lima tahap kesabaran ilmiah, lima tahap memastikan setiap tetes jerami tersulap menjadi energi yang siap menyalakan kendaraan kita tanpa membuat bumi makin panas. Dari jerami yang selama ini difermentasi untuk pakan sapi, mengucur cairan bensin.
Inovasi Bobibos ini membuktikan, Indonesia bisa melakukan dua hal sekaligus: menjaga lingkungan dan memanfaatkan sumber daya lokal yang melimpah. Dan kalau semua sawah kita dijadikan potensi produksi bahan bakar hijau, bayangkan miliaran liter Bobibos yang bisa menggantikan bensin konvensional.
Ini bukan mimpi ilmuwan gila, tapi visi praktis: energi bersih dari padi, bukan dari polusi. Dari Jonggol ke Sabang–Merauke, jerami kita bisa bicara tanpa polusi, dan bicara dalam bahasa mesin, bio-serum, dan RON 98. Jerami bisa menarik ribuan ton mesin di jalan-jalan raya.
Bobibos bukan sekadar bahan bakar. Ia simbol keuletan. Hasil penelitian yang mungkin sudah lama terabaikan bisa menjadi revolusi energi kalau disentuh dengan kreativitas, kesabaran uji coba tanpa menyerah, dan mesin lima tahap yang pintar belajar dari alam.
Dunia sedang haus energi bersih, dan Pak Ikhlas datang membawa air —atau lebih tepatnya jerami— yang bisa menyalakan harapan hijau bagi semua. (#)
Ma’had Tadabbur Al-Qur’an, 15 November 2025
Penyunting Mohammad Nurfatoni












