
My Journey on Hajj 2025 (Seri 7); Oleh Anandyah RC, S.Psi, Jemaah Haji KBIH Nurul Hayat Surabaya
Tagar.co – Alhamdulillah, pagi ini udara masih sejuk di sekitar hotel. Dari rooftop, saya sempat mengabadikan pemandangan Hotel Grand Zamzam yang tampak megah dari kejauhan.
Kami turun untuk mencari sarapan, karena belum mendapat jatah makan. Dua mangkuk bakso, lima butir telur, enam potong pisang, dan setengah kilogram jeruk akhirnya menjadi santapan pagi kami. Karena udara masih cukup bersahabat, saya dan suami memutuskan jalan-jalan mengelilingi beberapa hotel untuk mengenal medan sekitar.
Di sepanjang jalan, kami bertemu orang dari berbagai bangsa: Afrika, Pakistan, Eropa. Jalanan yang kami lewati semakin menanjak, menguras tenaga. Wajar, karena wilayah ini memang berupa dataran tinggi.
Baca juga: Bahagia setelah Menuntaskan Ibadah di Armuzna yang Sangat Heroik
Kami pun beristirahat sejenak di emperan hotel untuk “mengisi bahan bakar”: minum vitamin C, makan satu buah pisang dan satu jeruk. Alhamdulillah, cukup memberi tenaga untuk melanjutkan perjalanan kembali ke hotel. Menurut Google Maps, jarak ke hotel tinggal 500 meter, masuk lewat pintu samping dekat masjid hotel.
Sesampainya di hotel, suami segera menyiapkan sarapan: nasi putih yang direndam untuk dicampur dengan bakso tadi. Sarapan sederhana namun mengenyangkan.
Saat masuk waktu zuhur, kami mendapat informasi dari grup WhatsApp bahwa sore hari setelah asar, seluruh jemaah Nurul Hayat (NH) di sektor 10 diminta berkumpul di masjid hotel untuk koordinasi teknis pelaksanaan tawaf ifadah yang dijadwalkan Rabu, 11 Juni.
Lima menit menjelang asar, saya dan teman-teman sekamar bersiap menuju masjid hotel. Usai salat, kami berkumpul di bagian belakang area salat. Ustaz Muhammad Molik dan Ustaz Heri Latief sudah bersiap memberi pengarahan.
Mengawali arahannya, Ustaz Molik menyampaikan permohonan maaf karena tidak bisa mendampingi langsung jemaah saat prosesi Armuzna. Menurutnya, situasi saat itu tidak memungkinkan untuk mendampingi seluruh jemaah NH.
Meski ada beberapa KBIH yang memilih mengumpulkan jemaahnya sendiri, bagi beliau, itu adalah bentuk kezaliman: mengambil hak orang lain dan merugikan jemaah lain yang semestinya menempati maktab tersebut.
Sebagai pembimbing Kafilah 16 yang menaungi jemaah dari berbagai KBIH, Ustaz Molik selalu mendoakan agar jemaah NH yang tergabung dalam kafilah lain tetap dibimbing, dirawat, dan diperlakukan dengan baik oleh pembimbing KBIH lainnya.
Masyaallah, saya bersyukur bisa bergabung dengan KBIH Nurul Hayat yang selalu mengingatkan pentingnya menjaga kemabruran haji, termasuk tidak mezalimi siapa pun. Terima kasih, Ustaz Molik dan Ustaz Heri.
Sebagai bentuk apresiasi atas kesabaran jemaah selama prosesi Armuzna, para pembimbing menghadiahkan bonus kegiatan pasca-haji berupa umrah sunah tambahan hingga lima kali umrah dan jalan-jalan ke Pasar Khekiah.
Ustaz Heri juga membagikan linimasa lengkap seluruh rangkaian kegiatan pascahaji melalui grup WhatsApp—dilengkapi tanggal, jam, dan ketentuan kostum—agar memudahkan jemaah mengikuti kegiatan.
Selain itu, Ustaz Heri juga menjelaskan teknis pelaksanaan tawaf ifadah yang akan dilaksanakan pada Rabu, 11 Juni.
Salah satu kegiatan yang paling saya tunggu adalah city tour ke Kota Taif, kota berhawa sejuk yang banyak dihiasi vila-vila indah tempat para sultan berlibur. Mirip seperti Kota Batu di Jawa Timur.
Pekan depan kami dijadwalkan berangkat ke Taif untuk tasyakuran haji sambil makan nasi kebuli dengan daging kambing oven. Hem… belum makan saja sudah terbayang lezatnya!
Pertemuan ditutup satu jam sebelum magrib. Saya dan teman-teman kembali ke kamar. Ketika waktu magrib tiba, saya berangkat sendiri ke masjid. Teman-teman memilih istirahat dan salat di kamar.
Usai salat magrib, saya bertemu suami di lobi hotel. Kami berencana mencari makan malam. Bersama beberapa jemaah Nurul Hayat, kami berjalan menuju Restoran Mekkah yang terletak di sektor 9. Harus menyeberang jalan besar dan melewati taman. Dari kejauhan, papan nama restoran mulai terlihat.
Sesampainya di depan restoran, sudah banyak jemaah Indonesia yang mengantre. Menu yang ditawarkan beragam, dan harganya tercantum jelas. Kami memilih nasi biryani dan ayam oven setengah ekor seharga 27 riyal.
Setelah membayar, kami antre untuk mengambil makanan. Subhanallah, udara sangat panas di ruangan itu. Semua kompor dan oven menyala, ditambah antrean yang semakin padat.
Setelah 20 menit, akhirnya kami mendapatkan makanan. Kami kembali ke hotel dan menyantapnya berdua di “tempat favorit” kami. Satu porsi berdua ternyata terlalu banyak. Saya membungkus sisanya untuk sarapan esok pagi.
Alhamdulillah, perut kenyang. Kami kembali ke kamar untuk istirahat. Tubuh terasa sangat lelah, batuk saya belum sepenuhnya sembuh. Saya segera minum obat karena mulai merasakan demam. Alhamdulillah, malam ini bisa beristirahat.
Ya Rabb, berkahilah seluruh aktivitas kami hari ini. Berikanlah kesehatan, kekuatan, dan kemampuan kepada kami untuk menuntaskan satu tahapan ibadah haji yang tersisa. Terimalah amal-amal kami, dan kabulkanlah doa-doa kami. Amin. (#)
Makkah 13 Zulhijah 1446 atau 9 Juni 2025.
Penyunting Mohammad Nurfatoni












